Iran: Lebanon Bagian dari MoU dengan AS, Agresi Israel Akan Direspons
POROS PERLAWANAN — Iran menegaskan bahwa Lebanon merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Teheran dan Washington. Karena itu, setiap serangan Israel terhadap Lebanon, termasuk Beirut dan wilayah selatannya, akan dipandang sebagai pelanggaran serius yang dapat memicu respons Iran.
Menurut laporan Press TV pada Selasa 23 Juni, peringatan tersebut disampaikan Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Ali Bahreini, saat menjelaskan posisi Teheran tentang implementasi Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Iran dan Amerika Serikat awal bulan ini.
Bahreini menegaskan bahwa Lebanon merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesepahaman yang dicapai antara Teheran dan Washington. Karena itu, penghentian seluruh bentuk agresi terhadap Lebanon menjadi salah satu syarat utama dalam pelaksanaan kesepakatan tersebut.
“Setiap agresi terhadap Lebanon, termasuk wilayah selatan dan Beirut, merupakan garis merah bagi Iran,” tegasnya.
Bahreini menjelaskan bahwa dimulainya negosiasi resmi menuju kesepakatan yang lebih komprehensif bergantung pada pelaksanaan penuh sejumlah ketentuan dalam MoU, terutama penghentian agresi di seluruh front, termasuk Lebanon.
Teheran juga menegaskan bahwa proses negosiasi berikutnya harus disertai pengakuan terhadap kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, pencabutan sanksi yang dinilai ilegal, serta pembebasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Dalam keterangannya, Bahreini membantah klaim sejumlah pihak di Amerika Serikat mengenai adanya pembahasan terkait akses kembali inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke Iran.
Ia mengatakan isu nuklir belum menjadi bagian dari pembahasan saat ini dan akan dibicarakan pada tahap berikutnya setelah sejumlah prasyarat utama dalam kesepahaman dilaksanakan.
Mengenai pencairan aset Iran, Bahreini menegaskan bahwa hanya Iran yang berhak menentukan penggunaan dana miliknya sendiri.
“Iran adalah satu-satunya pihak yang akan memutuskan bagaimana asetnya digunakan. Karena itu, saya menolak setiap klaim bahwa negara lain berhak memengaruhi atau menentukan keputusan tersebut,” ujarnya.
Diplomat senior Iran itu juga mengkritik pernyataan bernada ancaman yang disampaikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump selama perundingan di Swiss mengenai implementasi MoU.
Menurutnya, retorika semacam itu menciptakan risiko serius bagi proses diplomasi yang sedang berlangsung dan berpotensi menghambat upaya membangun kepercayaan di antara para pihak.
Pernyataan Bahreini menunjukkan bahwa bagi Teheran, implementasi kesepahaman dengan Washington tidak hanya terkait hubungan bilateral kedua negara. Iran juga memandang stabilitas Lebanon sebagai bagian penting dari keseluruhan proses diplomatik yang sedang dibangun pascakonflik, sehingga setiap pelanggaran terhadap komitmen penghentian agresi berpotensi memengaruhi arah perundingan selanjutnya.
