Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Pulihnya Jalur Dagang UEA Dinilai Belum Hilangkan Risiko Geopolitik bagi Iran

POROS PERLAWANAN — Aktivitas perdagangan antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA) melalui Pelabuhan Jebel Ali mulai kembali pulih setelah sempat terganggu akibat perang. Namun, para ekonom mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada UEA sebagai pusat perdagangan luar negeri dapat meningkatkan kerentanan ekonomi Iran terhadap dinamika politik dan geopolitik.

Kantor Berita Fars pada Sabtu 27 Juni melaporkan bahwa Wakil Kepala Layanan Perdagangan Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran, Seyyed Mohammad Sadegh Qanadzadeh menyatakan arus perdagangan Iran dan UEA melalui Pelabuhan Jebel Ali kembali berjalan secara bertahap. Pemerintah berharap aktivitas perdagangan dapat segera kembali ke kondisi normal seperti sebelum perang.

Operasional Pelabuhan Jebel Ali sempat mengalami gangguan dua hari setelah pecahnya perang sehingga proses bongkar muat dan pengiriman barang terhambat. Meski aktivitas pelabuhan kemudian kembali berlangsung, otoritas UEA saat itu belum mengizinkan pelepasan kontainer milik pedagang Iran.

Pada periode yang sama, sejumlah rekening milik pelaku usaha Iran dibekukan dan sebagian pedagang dilaporkan diminta meninggalkan wilayah UEA.

Qanadzadeh mengatakan pemulihan perdagangan berlangsung secara bertahap. Menurutnya, Pemerintah terus mengupayakan agar hubungan dagang kedua negara kembali seperti sebelum konflik.

Meski pembebasan barang milik pedagang Iran di Jebel Ali dinilai sebagai langkah penting, pengalaman selama konflik memunculkan kembali kekhawatiran mengenai tingginya ketergantungan Iran terhadap UEA sebagai pusat logistik dan perdagangan regional.

Ekonom Amir Mohammad Golvani menilai belum ada negara yang mampu menggantikan posisi UEA dalam perdagangan Iran karena besarnya volume transaksi serta kapasitas sistem keuangan yang dimiliki negara tersebut. Menurutnya, kemudahan mendirikan perusahaan serta tersedianya mekanisme pembiayaan perdagangan melalui perusahaan perantara menjadi keunggulan utama UEA.

Pandangan berbeda disampaikan mantan Gubernur Bank Sentral Iran, Valiollah Seif. Menurutnya, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa bergantung pada satu pusat perdagangan dan keuangan, meskipun efisien, tetap mengandung risiko tinggi.

Ia menilai strategi yang lebih berkelanjutan adalah membangun jaringan perdagangan, keuangan, dan transaksi valuta asing yang lebih beragam sehingga perekonomian Iran tidak mudah terdampak oleh perubahan politik maupun perkembangan geopolitik.

Senada dengan itu, Lembaga Kajian Transportasi Iran menilai menjadikan kembali UEA sebagai poros utama perdagangan luar negeri berpotensi memperbesar ketergantungan Iran pada satu titik strategis sekaligus mengurangi peluang diversifikasi pasar dan jalur logistik. Lembaga tersebut merekomendasikan pengembangan jaringan mitra dagang dan rute perdagangan yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *