Israel Klaim Patuhi Kesepakatan dengan Lebanon, tetapi Serangan Militer Terus Berlanjut
POROS PERLAWANAN— Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir mengeklaim bahwa Tel Aviv akan mematuhi kerangka kesepakatan yang baru dimediasi Amerika Serikat dengan Lebanon. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlanjutnya serangan Militer Israel ke wilayah Lebanon.
Zamir menyebut kesepakatan tersebut sebagai “bersejarah” dan menegaskan bahwa Militer Israel akan berupaya memastikan implementasinya.
“Keunggulan operasional dan capaian militer yang dicatat oleh Angkatan Bersenjata dalam beberapa bulan terakhir merupakan fondasi yang memungkinkan tercapainya kesepakatan ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ujian sesungguhnya kini terletak pada perilaku kedua belah pihak di lapangan.
“Periode mendatang akan menentukan arah fase berikutnya,” kata Zamir.
Pernyataan tersebut disampaikan pada hari yang sama ketika Militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Lebanon, hanya dua hari setelah penandatanganan kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat dengan Pemerintah Lebanon.
Lebanese National News Agency (NNA) melaporkan terjadinya serangkaian serangan di wilayah selatan pada Minggu 28 Juni. Sehari sebelumnya, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa satu orang tewas akibat serangan Israel. Korban tersebut merupakan korban jiwa pertama sejak kesepakatan ditandatangani pada Jumat.
Berdasarkan isi kesepakatan, akan diterapkan sebuah “proses bertahap” yang mengatur agar Angkatan Bersenjata Lebanon memulihkan “otoritas kedaulatan yang efektif” di seluruh wilayah negara itu, dengan syarat adanya verifikasi terhadap pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata non-negara.
Namun, Gerakan Perlawanan Lebanon, Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai “penghinaan dan aib” yang mengorbankan kedaulatan Lebanon.
Sebelumnya, Anggota senior Parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, juga menegaskan bahwa kesepakatan itu “tidak akan pernah terwujud dan tidak akan pernah diterapkan”.
Menurut Fadlallah, otoritas Lebanon tengah berupaya menyeret negara itu ke dalam kekacauan dengan mengalihkan konflik dari konfrontasi melawan Israel menjadi konflik internal di Lebanon.
Hizbullah juga telah berulang kali menolak upaya mengaitkan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan dengan pelucutan senjata Gerakan Perlawanan tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menggambarkan kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat sebagai “konsesi sepihak” kepada Israel sekaligus “tikaman dari belakang terhadap Perlawanan”.
Sebagai alternatif, ia menyerukan pelaksanaan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Iran dan Amerika Serikat yang, di antaranya, memuat penghentian permanen permusuhan di seluruh front, termasuk Lebanon.
Pada Minggu, Ketua Parlemen Iran sekaligus Kepala Tim Perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menegaskan bahwa Teheran terus mengupayakan penghentian perang di Lebanon serta menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah negara tersebut sesuai ketentuan dalam Nota Kesepahaman Iran-Amerika Serikat.
