Jenderal Iran: Modernisasi Sistem Pertahanan Berlangsung Setiap Hari
POROS PERLAWANAN — Wakil Komandan Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Yousefi Khoshqalb menegaskan bahwa sektor pertahanan Iran terus mencatat terobosan di bidang teknologi pesawat nirawak (drone) dan sistem pertahanan udara, meskipun di tengah berbagai klaim media asing yang menyebut kemampuan pertahanan negara itu telah melemah.
Menurut laporan Press TV, pernyataan tersebut disampaikan Khoshqalb dalam wawancara dengan Defapress yang dipublikasikan pada Senin 29 Juni. Ia secara tegas membantah berbagai pemberitaan media asing yang mengeklaim sistem pertahanan udara Iran mengalami kemunduran.
“Penyelenggaraan berbagai kegiatan secara rutin di seluruh negeri, terjaganya keamanan penuh di perbatasan darat dan perairan, serta tidak adanya satu pun wahana udara musuh yang memasuki wilayah udara Iran menunjukkan bahwa jaringan pertahanan udara terpadu negara ini tetap dinamis, cerdas, dan berada dalam kondisi siap tempur secara penuh sebagai sebuah sistem yang tangguh dan hidup,” ujarnya.
Khoshqalb juga menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran berhasil menembus sistem pertahanan rudal Israel yang dikenal sebagai Iron Dome dan mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa Iran memiliki drone-drone yang sangat kuat dan canggih dengan kemampuan yang khas.
“Pengembangan dan pengerahan drone-drone canggih di medan tempur kini telah menjadi praktik yang normal dan lazim di Angkatan Bersenjata. Alhamdulillah, proses ini terus berlanjut dengan cepat dan semakin kuat,” katanya.
Ia menyebut berbagai kabar mengenai melemahnya pertahanan udara Iran sebagai “rekayasa media musuh” dan menegaskan bahwa tidak terdapat persoalan mendasar dalam sektor pertahanan udara negara itu.
Khoshqalb menambahkan bahwa modernisasi sistem pertahanan udara terus berlangsung secara berkesinambungan. Menurutnya, penggunaan peralatan modern, efisien, dan efektif dalam pengelolaan pertempuran udara telah menjadi proses yang dilakukan setiap hari di lingkungan Pasukan Pertahanan Udara.
Meski demikian, ia mengakui bahwa sebagian peralatan pertahanan mengalami kerusakan selama Perang 12 Hari yang dipaksakan Amerika Serikat dan Israel pada Juni 2024, serta agresi militer pihak musuh yang berlangsung selama 40 hari sejak 28 Februari.
Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan ilmiah, industri, dan teknologi berbasis pengetahuan yang dimiliki Iran memungkinkan sektor pertahanan nasional terus berkembang.
“Dengan mengandalkan kapasitas ilmiah, industri, dan berbasis pengetahuan yang dimiliki Pasukan Pertahanan Udara, Kementerian Pertahanan, dan Angkatan Bersenjata, saat ini kami terus menyaksikan lompatan dan perkembangan berkelanjutan dalam sistem pertahanan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan penegasan para pejabat dan komandan militer Iran dalam beberapa waktu terakhir mengenai meningkatnya kemandirian negara itu di bidang industri pertahanan.
Sehari sebelumnya, Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, juga menyatakan bahwa Iran berhasil memproduksi persenjataan yang lebih maju dan lebih canggih selama berlangsungnya agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran yang berlangsung selama 40 hari.
