Investigasi New York Times Ungkap Keuntungan Keluarga Trump dari Kesepakatan Tambang AS-Kazakhstan
POROS PERLAWANAN — Investigasi yang diterbitkan The New York Times dan dilansir Press TV pada Senin 29 Juni, mengungkap bahwa keluarga Presiden Amerika Serikat, Donald Trump serta keluarga Menteri Perdagangan, Howard Lutnick berpotensi meraih keuntungan finansial dari kesepakatan besar sektor mineral strategis antara Amerika Serikat dan Kazakhstan yang dinegosiasikan dengan keterlibatan langsung pejabat senior Pemerintahan AS.
Menurut investigasi tersebut, Pemerintahan Trump berhasil mencapai kesepakatan yang memberikan akses kepada perusahaan Kaz Resources, yang didukung Amerika Serikat, untuk mengembangkan salah satu cadangan tungsten terbesar di dunia yang hingga kini belum dimanfaatkan di Kazakhstan.
Proyek tersebut juga telah memperoleh pernyataan minat awal dari sejumlah lembaga Pemerintah Amerika Serikat untuk pendanaan hingga 1,6 miliar Dolar AS. Namun, pendanaan tersebut masih memerlukan persetujuan lebih lanjut.
Laporan itu menyebut Presiden Donald Trump secara langsung ikut serta dalam percakapan telepon dengan Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev selama proses negosiasi, didampingi Menteri Perdagangan Howard Lutnick, guna membantu merampungkan kesepakatan tersebut.
The New York Times juga melaporkan bahwa beberapa pekan setelah perundingan berlangsung, investor yang berafiliasi dengan Dominari Securities, perusahaan jasa keuangan yang sebagian dimiliki putra-putra Trump, Donald Trump Jr. dan Eric Trump, mengakuisisi kepemilikan pada entitas korporasi yang terkait dengan proyek pertambangan di Kazakhstan tersebut.
Investigasi itu juga menemukan bahwa Cantor Fitzgerald, bank investasi yang sebelumnya dipimpin Howard Lutnick dan kini dikendalikan oleh putranya, Brandon dan Kyle Lutnick, membantu menghimpun dana sebesar 210 juta Dolar AS bagi salah satu mitra investasi proyek tersebut. Langkah itu disebut berpotensi menghasilkan pendapatan berupa jutaan Dolar dalam bentuk biaya jasa (fee).

Menurut The New York Times, proyek pertambangan di Kazakhstan bukanlah kasus yang berdiri sendiri.
Surat kabar tersebut mengidentifikasi sedikitnya 14 perusahaan pertambangan yang memiliki hubungan finansial dengan keluarga Trump atau Cantor Fitzgerald, yang pada saat bersamaan tengah mengajukan berbagai izin Federal maupun bantuan pembiayaan dari Pemerintahan Trump.
Nilai keseluruhan pembiayaan Pemerintah yang telah disetujui maupun masih dalam tahap pertimbangan bagi perusahaan-perusahaan tersebut dilaporkan melebihi 8,9 miliar Dolar AS.
Gedung Putih membantah adanya indikasi penyimpangan dalam pengambilan keputusan tersebut.
“Satu-satunya kepentingan yang menjadi dasar pengambilan keputusan Pemerintahan Trump adalah kepentingan terbaik bagi rakyat Amerika Serikat,” ujar Juru Bicara Gedung Putih, Kush Desai, kepada The New York Times.
Ia menambahkan bahwa pengamanan rantai pasok mineral strategis tetap menjadi prioritas keamanan nasional Amerika Serikat.
Sementara itu, sejumlah anggota Partai Demokrat menyerukan pengawasan yang lebih ketat terhadap berbagai pengaturan tersebut.
Anggota DPR AS, Maxine Dexter menyatakan bahwa Kongres perlu memastikan dana para pembayar pajak digunakan untuk kepentingan publik, bukan untuk memberikan keuntungan kepada keluarga yang memiliki hubungan dengan pejabat Pemerintahan.
Investigasi tersebut juga menyebut proyek Kazakhstan mengikuti sejumlah kasus lain yang, menurut The New York Times, memperlihatkan anggota keluarga Trump memperoleh manfaat dari sektor-sektor yang menerima kebijakan Pemerintah yang menguntungkan selama masa jabatan kedua Donald Trump.
Sebelumnya, surat kabar itu juga melaporkan bahwa putra-putra Trump terlibat dalam sejumlah proyek mata uang kripto bernilai miliaran Dolar ketika Pemerintahan Trump menjalankan kebijakan yang dinilai mendukung industri aset digital.
Selain itu, Donald Trump Jr. juga dilaporkan berinvestasi di Vulcan Elements, perusahaan rintisan di sektor pertambangan yang kemudian memperoleh persetujuan pembiayaan Federal senilai hampir 700 juta Dolar AS untuk memperluas kapasitas produksinya di North Carolina.
