Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Media Zionis: Doktrin Keamanan Netanyahu Adalah Bencana

POROS PERLAWANAN – Situs Times of Israel dalam laporannya menyoroti kebencian global yang terbentuk terhadap Rezim Zionis. Menurut media berbahasa Ibrani ini, doktrin keamanan Netanyahu terkait masalah Palestina dan program nuklir Iran tidak menghasilkan apa-apa selain bencana bagi Israel.

Dilansir Fars, Times of Israel dalam analisisnya mengakui bahwa dalam sejarah Rezim ini, tidak ada kegagalan atau kekalahan yang dapat dibandingkan—baik dari segi dimensi maupun mungkin dari segi konsekuensi—dengan “badai sempurna” yang kini dihadapi oleh doktrin keamanan Netanyahu.

Menurut laporan ini, doktrin keamanan Netanyahu bersandar pada dua pilar utama: Pertama, penolakan keras terhadap segala upaya untuk memajukan solusi politik dengan rakyat Palestina; dan kedua, fokus ekstrem pada ancaman nuklir Iran.

Times of Israel menegaskan, penolakan terhadap kesepakatan politik apa pun telah menjadi karakteristik yang menentukan bagi Netanyahu. Sepanjang tahun-tahun keberadaannya di tampuk kekuasaan, ia telah mengerahkan seluruh usahanya untuk menggagalkan setiap peluang guna mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik atau setidaknya mengurangi intensitasnya.

Kelanjutan pendekatan ini dalam menolak langkah menuju solusi politik, bersamaan dengan pendalaman pendudukan, telah membawa konsekuensi yang jelas. Di antaranya adalah penurunan berkelanjutan dalam dukungan terhadap Israel, perubahannya menjadi rezim yang dibenci dalam opini publik dan di antara negara-negara demokratis, hilangnya jembatan komunikasi dengan basis dukungan tradisional di Amerika, dan perubahan proyek Zionis menjadi sebuah rencana yang semakin terisolasi di kancah internasional.

Selain itu, perlu juga disebutkan cara Israel merespons peristiwa 7 Oktober: pembantaian massal di Gaza, perusakan terorganisir, perlakuan yang tidak pantas terhadap pengungsi, serta pernyataan-pernyataan yang tidak terkendali dan di luar kerangka diplomatik, telah menyebabkan Perdana Menteri Israel berubah menjadi sosok yang mendorong Mahkamah Internasinal merilis surat penangkapan atas dirinya. Israel juga telah berubah menjadi rezim yang citranya dalam opini publik dunia terikat dengan negara-negara yang paling dibenci di dunia. Kebencian dan isolasi internasional memiliki dampak strategis, dan Tel Aviv sekarang sedang merasakan dampak tersebut.

Menurut laporan Times of Israel, elemen tradisional kedua dalam doktrin keamanan Netanyahu adalah fokus obsesifnya pada penyelesaian masalah program nuklir Iran; masalah yang ia gambarkan sebagai “misi hidupnya.”

Dalam konteks ini juga, kebijakan Netanyahu berbeda dengan pendekatan para Perdana Menteri sebelumnya. Yitzhak Rabin memahami kedalaman tantangan tersebut, dan keyakinannya akan perlunya mendapatkan dukungan internasional untuk menghadapi ancaman ini adalah salah satu motivasi utama usahanya untuk mencapai kesepakatan dengan Palestina.

Barak, Sharon, dan Olmert juga memahami masalah ini. Mereka berusaha diam-diam untuk menghentikan proyek tersebut, tetapi Netanyahu mengambil jalan sebaliknya. Ia menempatkan dirinya di garis depan konfrontasi ini dan menjadikan Israel sebagai pembawa panji perlawanan terhadap program nuklir Iran.

Ia memasuki babak baru perang; perang yang jauh lebih ambisius dan dilakukan dengan kerja sama salah satu Presiden Amerika Serikat yang paling tidak dapat diprediksi dalam sejarah. Namun, pertaruhan ini gagal, dan konsekuensinya kini berada di depan mata Israel.

“Kerja sama erat dengan Pemerintahan Trump tidak hanya berujung pada kegagalan memalukan dalam upaya untuk menggulingkan Pemerintahan Iran. Bahkan di depan mata kita, ia justru memunculkan Iran yang mungkin jauh lebih kuat dari waktu kapan pun; di hadapan Israel yang kini bersandar pada pemimpin yang tidak merasa bermasalah dengan Iran yang memiliki gudang senjata rudal yang mengancam,” tandas Times of Israel.

“Semua peristiwa ini dapat diprediksi. Strategi alternatif untuk menghadapi Iran adalah mencapai dukungan internasional guna mencegah Iran mendapatkan bom nuklir, bahkanmeski jalan ini mencakup penggunaan kekuatan militer. Opsi-opsi ini bisa saja terwujud jika Israel bergerak menuju pencapaian kesepakatan dengan Palestina. Tetapi Netanyahu menolak jalan ini dan menciptakan bencana strategis bagi Israel. Dari sini, hanya satu hasil yang jelas dapat diperoleh: Sudah saatnya opsi alternatif dipertimbangkan.”

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *