Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Unjuk Kekuatan Iran Ubah Sikap Bin Salman: Dari Upaya Penggulingan ke Upaya Diplomasi

POROS PERLAWANAN – The New York Times dalam laporannya membahas munculnya perselisihan yang semakin besar antara Arab Saudi dan Amerika Serikat selama masa perang, serta menyoroti pergeseran sikap Mohammad bin Salman terkait Iran.

Diberitakan Fars, perang empat bulan Amerika Serikat-Israel melawan Iran, selain menyebabkan transformasi dalam perhitungan militer, juga telah memicu salah satu krisis diplomatik terdalam dalam hubungan tradisional antara Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Laporan baru The New York Times pada hari Rabu 1 Juli menunjukkan bagaimana Kerajaan Arab Saudi, di bawah kepemimpinan Mohammad bin Salman, telah mengubah pendekatannya selama konflik ini dari mendorong Washington untuk menggulingkan Pemerintah Iran, menjadi berupaya menahan ekstremisme Amerika dan mengejar gencatan senjata serta kesepakatan diplomatik.

The New York Times menulis, Riyadh kini memandang Amerika Serikat sebagai mitra yang tidak dapat diandalkan, bahkan terkadang sebagai faktor yang membahayakan keamanan negara-negara di sekitar Teluk Persia.

Surat kabar ini menyatakan, penolakan Arab Saudi untuk menggunakan wilayah udara kerajaan tersebut guna melancarkan operasi yang disebut “Proyek Kebebasan” di Selat Hormuz telah mengejutkan pejabat Amerika.

Para komandan militer AS mengatakan, Angkatan Laut dan Udara Amerika akan menghalau setiap kemungkinan serangan Iran selama gencatan senjata sementara ini. Namun, pihak Amerika tidak berkonsultasi dengan Saudi dalam hal ini.

Menurut laporan Times, kejadian ini memicu serangkaian perbincangan telepon yang tegang dan mendesak antara Washington dan Bin Salman. Menurut pejabat Amerika, Trump yang marah berbicara langsung dengan Putra Mahkota Saudi pada tanggal 4 Mei (hari pertama dimulainya operasi) dan juga selama dua hari setelahnya.

Wakil Presiden Amerika, JD Vance melakukan pembicaraan terpisah dengan Pangeran Saudi itu. Utusan khusus Amerika untuk Timur Tengah, Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner juga melakukan kontak serupa. Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, sekaligus Menteri Luar Negeri, Marco Rubio juga berbicara dengan mitranya dari Saudi.

Namun, Putra Mahkota Arab Saudi tetap pada pendiriannya karena khawatir rencana Amerika akan mengobarkan kembali perang. Akibatnya, Pemerintahan Trump terpaksa menghentikan operasi tersebut sepenuhnya kurang dari 48 jam setelah dimulainya “Proyek Kebebasan”.

The New York Times menyatakan bahwa “kampanye diplomatik habis-habisan” dari Gedung Putih untuk meyakinkan Bin Salman—yang sebelumnya tidak dilaporkan—menunjukkan bahwa pejabat Amerika dan Saudi semakin berselisih mengenai cara menangani keamanan Kawasan, terutama terkait Iran dan Israel. Selain itu, pihak Saudi, seperti negara-negara pesisir Teluk lainnya, semakin memandang Pemerintah Amerika tidak dapat dipercaya, bahkan sebagai ancaman bagi negara-negara Arab di Teluk.

Pergeseran Bin Salman dari Penggulingan ke Diplomasi

The New York Times menulis bahwa sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Arab Saudi telah mencoba menempuh jalan tengah untuk melindungi kepentingannya. Negara ini memberikan dukungan militer dan diplomatik kepada Amerika Serikat. Imbasnya, mereka menjadi target serangan balasan Iran. Meskipun demikian, menurut surat kabar Amerika tersebut, Kerajaan Saudi menentang Trump pada saat-saat krusial.

Di saat Trump mencoba memajukan diplomasi dengan Iran dengan fokus pada program nuklir Teheran, Arab Saudi terus melanjutkan tindakan independennya dan, dengan menjauh dari prioritas Amerika, bergerak menuju penguatan hubungan dengan negara lain. Pendekatan ini mencakup Pakistan dan Tiongkok; negara yang membantu pemulihan hubungan diplomatik antara Riyadh dan Teheran pada tahun 2023. Menteri Luar Negeri Arab Saudi juga akan bertolak ke Tiongkok minggu ini.

Menurut laporan surat kabar Amerika tersebut, berkat keterbukaan diplomatik itu, pejabat Saudi kini berbicara langsung dengan rekan-rekan mereka di Iran mengenai kendali Iran atas Selat Hormuz, gudang senjata rudal, dan dukungan terhadap sekutu regional; masalah-masalah yang bagi Arab Saudi dianggap lebih penting daripada isu nuklir Iran.

Laporan ini menyebutkan, Pangeran Mohammad bin Salman telah memainkan permainan perimbangan tersebut sepanjang tahun ini.

Sumber-sumber yang mengetahui posisi pejabat Amerika mengatakan kepada The New York Times bahwa Bin Salman, telah menjelaskan risiko perang kepada Trump sebelum konflik dimulai. Namun, setelah perang dimulai, ia meminta Presiden Amerika untuk melanjutkan perang guna menghancurkan Pemerintah Iran, meskipun Arab Saudi membantah hal ini dalam pernyataan resmi.

Namun, dengan ketahanan dan kontinuitas kekuatan Iran, Bin Salman cenderung menerima kesepakatan dengan Iran dan penyelesaian diplomatik atas krisis dengan negara tersebut.

Pejabat Amerika saat ini dan mantan pejabat mengatakan kepada The New York Times bahwa Arab Saudi, bersama Uni Emirat Arab, pada satu titik selama perang melakukan serangan rahasia terhadap Iran. Namun, Bin Salman tidak seantusias Pemimpin UEA dalam hal eskalasi ketegangan. Di sisi lain, posisi Bin Salman lebih agresif daripada rekan-rekannya di Qatar dan Oman yang bertindak sebagai mediator diplomatik antara Amerika dan Iran.

Menurut tulisan surat kabar Amerika tersebut, sekarang setelah Pemerintahan Trump mencoba mencapai kesepakatan dengan Iran di luar kesepakatan gencatan senjata awal, Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk lainnya menekan agar hasil yang dicapai dapat melindungi mereka dari konsekuensi buruk jika permusuhan luas antara Iran, Israel, atau Amerika berlanjut. Mengingat fluktuasi perilaku Trump selama perang, Saudi meragukan apakah Amerika akan melindungi mereka dalam konflik masa depan atau apakah mereka akan menggunakan akal sehat yang diperlukan.

Sikap skeptis Saudi terhadap Trump kembali ke tahun 2019, ketika ia menuduh Iran melakukan serangan drone dan rudal ke fasilitas minyak Arab Saudi (Aramco), namun kemudian tidak memberikan dukungan kepada Riyadh untuk melakukan pembalasan. Republik Islam Iran sendiri membantah peran dalam serangan tersebut.

Analis politik Arab, Hussein Ibish mengatakan, “Kita memulai perang besar, lalu kita bosan dan meninggalkannya begitu saja. Perilaku ini seperti kisah Lucy dan bola sepak (merujuk pada peribahasa Amerika tentang penipuan berulang). Orang Saudi sekarang melihat diri mereka dalam peran Charlie Brown yang terjatuh.”

Hormuz: ‘Pedang Damocles’ Iran

The New York Times di bagian lain laporan panjang ini menulis, meskipun Arab Saudi merasa lega dengan gencatan senjata antara Iran dan Amerika, tidak satu pun masalah paling rumit akibat perang tersebut yang terselesaikan dalam kesepakatan awal. Di satu sisi, kesepakatan ini mengakui kontrol Iran atas Selat tersebut dan memungkinkan Iran serta Oman untuk menyepakati cara pengelolaannya; sesuatu yang dalam jangka panjang bisa mencakup pemungutan biaya atau tarif lintas.

Michael Ratney, diplomat veteran yang menjabat sebagai Duta Besar Amerika untuk Arab Saudi sebelum pensiun di awal Pemerintahan kedua Trump, mengatakan,”Saat Iran menutup Selat Hormuz, seluruh psikologi Teluk berubah. Sekarang Iran memegang pedang Damocles ini dan dapat menahannya di atas kepala ekonomi Teluk dan ekonomi global.”

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *