Ansharullah Yaman: Barat Bunuh Ayatullah Khamenei karena Keteguhan Beliau Dukung Pembebasan Palestina
POROS PERLAWANAN — Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Ansharullah Yaman, Mohammed al-Bukhaiti menyatakan bahwa negara-negara Barat menargetkan Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, karena keteguhan beliau dalam membela pembebasan Palestina serta pengaruh kepemimpinannya yang melampaui batas-batas Iran dan menginspirasi Gerakan Perlawanan di Kawasan.
Dalam wawancara dengan Channel 5 TV Iran yang disiarkan pada Minggu 5 Juli, al-Bukhaiti mengatakan Ayatullah Khamenei telah menjadi simbol perlawanan dan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa yang berjuang melepaskan diri dari dominasi Amerika Serikat dan Zionisme.
“Pandangan intelektual dan politik beliau di dunia Islam, bersama upayanya membebaskan Palestina, menjadi salah satu alasan utama Barat bertekad membunuh beliau,” kata al-Bukhaiti.
Menurut al-Bukhaiti, syahadah Ayatullah Khamenei tidak akan menghentikan jalan perjuangan yang telah beliau bangun selama puluhan tahun. Sebaliknya, warisan pemikiran, kepemimpinan, dan keteladanan beliau akan terus menginspirasi bangsa-bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan, kedaulatan, dan martabat.
“Nama dan kenangan beliau akan tetap hidup sebagai sumber inspirasi bagi generasi-generasi mendatang,” ujarnya.
Ayatullah Khamenei syahid setelah dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Peristiwa tersebut memicu kecaman luas dari Iran beserta negara-negara dan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Poros Perlawanan.
Jutaan warga Iran bersama para pendukung Poros Perlawanan dari berbagai negara kemudian menggelar prosesi penghormatan dan doa untuk mengenang syahadah Ayatullah Khamenei. Upacara resmi di Teheran juga dihadiri sejumlah kepala negara, pejabat tinggi, ulama, serta delegasi internasional sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam.
Rangkaian penghormatan dimulai di Musalla Agung Imam Khomeini, Teheran, dan berlanjut hingga Minggu. Arak-arakan utama dijadwalkan berlangsung pada Senin, dilanjutkan dengan prosesi di Qom pada Selasa, kemudian di kota-kota suci Najaf dan Karbala pada Rabu, sebelum jenazah dimakamkan di kompleks Makam Suci Imam Ridha, Mashhad, pada Kamis.
