Analis Irak Sebut Prosesi Pengiringan Jenazah Ayatullah Khamenei ‘Manifesto Politis-Strategis’
POROS PERLAWANAN – Seorang analis Irak, Hisham al-Kandi mengutarakan pandangannya terkait berbagai dimensi politik upacara pengiringan jenazah Syahid Ayatullah Ali Khamenei. Menurutnya, peristiwa ini adalah manifesto untuk kelangsungan Revolusi dan kegagalan strategi yang bertujuan melemahkan Iran. Ia menekankan, warisan Sang Pemimpin Syahid adalah mengubah “tekad nasional” menjadi “model ekspor” bagi bangsa-bangsa di dunia.
Dilansir Fars, Kepala Pusat Studi Strategis al-Naba menyatakan bahwa dari sudut pandang strategis, peristiwa ini melampaui sekadar upacara berkabung nasional atau tradisional. Ia menggambarkan upacara ini sebagai “manifesto politik-strategis”; sebuah pernyataan praktis di mana Iran mengirimkan pesan yang tepat kepada masyarakat internasional, terutama Poros Arogansi.
Al-Kandi menganalisis pesan Iran dari pemakaman ini dalam tiga poros utama:
Poros Pertama: “Model Kedaulatan” (Sovereign Model)
Pencapaian utama Ayatullah Khamenei adalah perubahan paradigma dalam cara menghadapi musuh. Beliau mengarahkan Iran dari tahap “pertahanan murni melawan musuh” ke tahap “penyediaan model pemerintahan alternatif”.
Transformasi dari teori ke tindakan: Beliau membuktikan bahwa konsep-konsep seperti “menolong kaum tertindas” dan “melawan kaum arogan” bukan sekadar slogan ideologis, melainkan dapat diwujudkan dalam struktur pemerintahan, diubah menjadi kebijakan eksekutif, dan menghasilkan hasil yang nyata.
Penciptaan model independen: Prosesi pengiringan jenazah tersebut mengukuhkan fakta bahwa Republik Islam Iran kini telah menjadi “model kedaulatan independen”; model yang berdiri di atas dua pilar: “kedaulatan penuh” dan “tekad independen”.
Pesan strategis: Iran bukan lagi sekadar sebuah “Front Perlawanan” terhadap tekanan, melainkan telah menjadi “pusat produksi solusi” bagi kemandirian nasional. Iran mengajarkan kepada bangsa-bangsa di Kawasan bahwa di tengah kondisi sanksi terberat, seseorang dapat membangun pemerintahan yang bukan hanya tidak menyerah, tetapi juga menjadi pelopor dalam menolak hegemoni global.
Poros Kedua: Kegagalan Strategi ‘Pelemahan melalui Tekanan’ dan Kemandirian Kekuatan
Strategi Poros Arogansi (Amerika Serikat dan Rezim Zionis) didasarkan pada asumsi bahwa tekanan ekonomi maksimal dan pembunuhan para pemimpin akan menyebabkan kelumpuhan kehendak politik dan keruntuhan struktural Iran. Namun, analisis fakta menunjukkan hasil sebaliknya:
Sanksi sebagai akselerator: Kepemimpinan Ayatullah Khamenei mengubah sanksi menjadi “akselerator untuk kemandirian”. Pendekatan ini membuat Iran mencapai peringkat global terkemuka di banyak bidang spesialisasi dan strategis.
Kemandirian strategis: Pencapaian tingkat swasembada yang tinggi di bidang-bidang utama mengirimkan pesan strategis bahwa “instrumen ekonomi” Barat telah gagal melawan “tekad nasional”.
Ketahanan dalam blokade: Kemandirian ini adalah fondasi utama dari “ketahanan” (Resilience), yang menyebabkan Iran tidak hanya bertahan melawan konspirasi, tetapi juga mampu mentransfer model “tekad dan perlawanan” ini ke negara-negara lain di Kawasan.
Poros Ketiga: Reproduksi Legitimasi dan Kelangsungan Sistem Republik Islam (Sistem-sentris vs Individu-sentris)
Dari perspektif analisis kekuasaan, pesan paling vital dari prosesi ini adalah “penetapan kontinuitas”. Dalam bayangan musuh, pembunuhan Imam Khamenei adalah titik awal keruntuhan, tetapi reaksi yang muncul menunjukkan hal-hal berikut:
Kontinuitas struktural: Kohesi institusi militer dan politik, di samping dukungan luas dari delegasi internasional (kehadiran perwakilan dari lebih dari 50 negara), adalah bukti empiris bahwa “proyek Revolusi Islam tidak berpusat pada individu, melainkan berpusat pada sistem”.
Reproduksi legitimasi: Perpindahan kekuasaan terjadi tanpa menimbulkan kekosongan, dan legitimasi politik serta kerakyatan diproduksi ulang dan diperkuat pada saat kehilangan. Ini menunjukkan bahwa tekad nasional Iran kebal terhadap “guncangan satu dimensi” apa pun.
Kesimpulan Akhir: Warisan Tekad sebagai Model Ekspor
Al-Kandi pada akhirnya menyimpulkan, bahwa dengan mengandalkan hikmah, wawasan, dan kebijaksanaan, Ayatullah Khamenei membawa Republik Islam ke posisi yang kini membuatnya termasuk di antara negara-negara terkemuka di dunia.
“Warisan beliau adalah mengubah ‘tekad’ menjadi ‘model ekspor’; tekad yang telah sepenuhnya menggagalkan proyek-proyek Poros Arogansi untuk mengubah Kawasan menjadi ‘lingkungan terikat yang tak punya tekad’. Oleh karena itu, pembunuhan beliau bukanlah akhir dari sebuah jalan, melainkan awal dari fase baru kelanjutan proyek ini dengan tekad yang lebih segar dan kehendak yang lebih kokoh, yang kini telah menjadi ‘model global’ untuk pembebasan dari dominasi,” tandas al-Kandi.
