Pemakaman yang Gagalkan Konspirasi atas Hamas
POROS PERLAWANAN – Pemakaman keponakan Syahid Ismail Haniyeh diselenggarakan dengan kehadiran luas masyarakat Gaza, di saat sebuah kelompok mencurigakan telah mengeluarkan seruan untuk berunjuk rasa menentang Hamas sejak seminggu yang lalu.
Fars memberitakan, ribuan penduduk pada hari Jumat 26 Juni mengiringi jenazah Walid Majdi Haniyeh, keponakan Syahid Haniyeh, ke tempat peristirahatan terakhir. Dia gugur akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan Israel di sekitar kompleks perumahan Italia di lingkungan al-Nasr, di sebelah barat kota Gaza.
Upacara pemakaman berlangsung dengan kehadiran massa yang sangat besar. Para peserta mengiringi jenazah syahid tersebut hingga ke tempat pemakaman sambil meneriakkan takbir dan slogan-slogan menentang kejahatan berkelanjutan Rezim Pendudukan terhadap rakyat Palestina dan keluarga mereka. Sebelum dimakamkan, salat jenazah juga dilaksanakan untuk Walid.
Para pengiring jenazah meneriakkan slogan-slogan seperti “Harakatuna Hamas… Jayshuna Qassam” (Gerakan kami adalah Hamas, tentara kami adalah Izzuddin al-Qassam), “Khaybar Khaybar ya Yahud, 7 Oktober sawfa ya’ud” (Wahai Yahudi, ingatlah Khaybar, 7 Oktober akan segera terulang), serta slogan-slogan lain yang mendukung Hamas.
Syahadah Walid Haniyeh menambah daftar panjang syuhada dari keluarga Ismail Haniyeh; sebuah keluarga yang kehilangan banyak anggotanya selama perang Gaza. Menurut sumber-sumber Palestina, para korban ini menjadi simbol kebersamaan para pemimpin Perlawanan dan keluarga mereka dengan rakyat Palestina dalam membela Tanah Air serta norma-norma bangsa.
Namun, poin menarik lainnya adalah berbarengnya waktu pemakaman syahid ini dengan hari yang telah ditentukan oleh para penentang Hamas di Gaza. Sebuah gerakan mencurigakan bernama “Harak 26 Juni” telah meminta penduduk Gaza sejak berminggu-minggu sebelumnya untuk turun ke jalan pada Jumat kemarin, 26 Juni, guna meneriakkan slogan menentang Hamas dan melakukan unjuk rasa.
Akan tetapi, kemarin tidak ada berita apa pun di Gaza yang menentang Hamas. Sebaliknya, suasana di wilayah tersebut justru sejalan dengan Gerakan Perlawanan ini, seiring dengan prosesi pemakaman syahid tersebut.
Gerakan ini, yang diarahkan dari luar Gaza, menuding Hamas sebagai penyebab kondisi Gaza saat ini dan menutup mata terhadap kejahatan Militer Pendudukan. Gerakan ini juga terutama dipromosikan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan X (Twitter). Slogan-slogannya mencakup tuntutan untuk “hidup lebih baik”, pengakhiran perang, kelaparan, dan pengungsian, serta kritik terhadap kinerja Hamas. Banyak dari mereka yang menyebarkan seruan ini tinggal di luar Gaza (di Eropa atau tempat lainnya).
Abdul Hamid Abdul Ati, seorang jurnalis dan aktivis Palestina yang kini berada di Mesir, dikenal sebagai pencetus gerakan mencurigakan ini. Meskipun demikian, sebagian besar pengguna dan akun Palestina menganggap gerakan ini “mencurigakan” dan sebagai upaya untuk menciptakan perpecahan internal. Mereka meyakini bahwa gerakan ini mengalihkan perhatian dari kejahatan Israel dan menguntungkan musuh.
Selasa lalu, beberapa tetua dan tokoh masyarakat Gaza juga berbicara kepada situs berita Shahab mengenai apa yang disebut sebagai “Gerakan 26 Juni”. Mereka menyatakan, harus ada tindakan tegas terhadap milisi bayaran yang berafiliasi kepada musuh. Siapa pun yang keterlibatannya terbukti dalam melayani Pendudukan atau mengganggu keamanan masyarakat Palestina, harus dimintai pertanggungjawaban dan dihukum.
Protes atau unjuk rasa menentang Hamas sebelumnya juga pernah terjadi, seperti pada tahun 2011, 2012, dan 2019. Namun, gerakan-gerakan yang setelah dimulainya perang mengarahkan ujung tombak serangannya ke Hamas, alih-alih ke Militer Israel, sebagian besar didanai dari luar Gaza.
Di tengah situasi ini, Militer Israel secara terbuka dan resmi melengkapi serta mempekerjakan kelompok bersenjata dari dalam Gaza untuk melawan Hamas. Contoh yang paling menonjol adalah Yasser Abu Shabab, yang mencoba menguasai Rafah dengan dukungan Militer Israel. Namun dia tewas dalam bentrokan dengan Hamas pada 4 Desember 2025. Baru-baru ini, kelompok-kelompok kecil lainnya, dengan dukungan udara dari Militer Israel, menyerbu rumah-rumah dan tenda warga untuk menjarah harta benda penduduk, sekaligus memberikan informasi tentang anggota Hamas kepada pihak Israel.
