Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

‘Pesan Spesial’ Poros Perlawanan Hizbullah di Balik Pembobolan Pagar Tembok Pembatas Lebanon-Palestina, Membuat Petinggi Militer Zionis Terancam ‘Jantungan’

POROS PERLAWANAN – Redaktur Rai al-Youm, Abdel Bari Atwan dalam kolomnya membahas bobolnya sebagian pagar pembatas antara Lebanon dan Israel di tiga titik, serta memaparkan sejumlah kemungkinan terkait insiden ini.

“Ada 4 kemungkinan yang bisa menjelaskan kenapa Hizbullah membuat tiga celah di pagar pembatas Israel. Apa saja? Apa pesan terpenting di balik kebobolan keamanan ini? Apakah Netanyahu dan Komando Militer Utara telah menerima pesan ini?” tulis Atwan, seperti dilansir al-Alam.

Kendati Hizbullah belum menyampaikan pernyataan terkait insiden ini, namun Atwan meyakini hal tersebut dilakukan Kelompok Poros Perlawanan.

“Ketika adanya lubang di pagar pembatas Israel dengan Lebanon memicu ketakutan dan kepanikan di antara militer Israel, hingga memaksa pejabat senior mengumumkan keadaan darurat dan melakukan investigasi, tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika pelaku pembobolan ini merangsek ke dalam Israel dan menguasai kota-kota di daerah perbatasan,” lanjutnya.

“Bisa dipastikan bahwa pemimpin Hizbullah berada di balik pembobolan berisiko dan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir ini. Sebab, tak ada “burung” yang bisa mendekati perbatasan tanpa diketahui dan diizinkan Israel, apalagi sampai melubangi kawat pagar. Kontrol keamanan di sana pasti sangat ketat dan patroli-patroli militer Israel selalu mengawasi daerah perbatasan dalam 24 jam.”

Menurut Atwan, pertanyaan yang paling menghantui para komandan militer di utara Israel adalah alasan-alasan yang mendorong pimpinan Hizbullah melakukan pembobolan tersebut. Apalagi pembobolan ini terjadi saat Israel masih berjibaku dengan pandemi Corona dan krisis politik.

Ada 4 alasan yang dikemukakan Atwan dalam tulisannya:
“Pertama, pembobolan ini adalah respons Hizbullah terhadap upaya teror terhadap 4 komandan lapangannya di perbatasan Lebanon-Suriah, yaitu ketika drone Israel menargetkan kendaraan milik Hizbullah. Namun semua penumpangnya selamat dari teror tersebut.

“Kedua, dengan operasi ini, pimpinan Hizbullah hendak mengingatkan Rezim Zionis, bahwa klaim mereka soal dihancurkannya terowongan-terowongan bawah tanah di perbatasan Lebanon-Israel-yang digembar-gemborkan media Israel secara massif, padahal itu hanya terowongan-terowongan tua- tidak akan bisa menghalangi pasukan Hizbullah menerobos perbatasan dan menyusup ke targetnya.

“Ketiga, pembobolan di tiga titik perbatasan dan kesuksesan pelakunya untuk kembali ke Lebanon dengan selamat tanpa diketahui siapa pun, adalah operasi yang berbahaya, walau hanya secara simbolik. Ini menandakan adanya celah keamanan intelijen Israel, juga menunjukkan tingginya skill operasional para pelaku pembobolan.

“Keempat, Hizbullah menyampaikan pesan tak langsung kepada petinggi Israel, bahwa tiap personel Kelompok Poros Perlawanan siap untuk segala kemungkinan. Pesan paling penting adalah jika Israel di masa depan melakukan aksi teror, maka balasannya bisa berupa serangan Hizbullah ke Galilee dan penyanderaan para penghuninya, itu pun kalau Hizbullah tak berniat untuk bertahan di sana dan membebaskan kota tersebut. Dengan kata lain, tiap aksi pembalasan Hizbullah di masa mendatang tak hanya dilakukan dengan rudal, drone atau bahkan terowongan saja, tapi juga bisa dilakukan dengan membobol pagar pembatas yang dijaga ketat oleh Israel.

“Dari sisi psikologis, diamnya pimpinan Hizbullah terkait kejadian ini menunjukkan bahwa meski kelompok ini disibukkan dengan krisis ekonomi-politik Lebanon, pandemi Corona, dan perang di Idlib Suriah, namun mereka tetap siaga di hadapan Israel. Hizbullah menunjukkan bahwa kesiapan untuk konfrontasi apa pun (dengan Israel) adalah prioritas strategisnya,” lanjut Atwan.

“Pemimpin Hizbullah, baik dalam hal politik maupun militer, tidak pernah tidur. Andai kata pun tidur, tidurnya seperti serigala yang satu matanya terpejam dan mata lainnya tetap terbuka ke arah perbatasan selatan Lebanon. Semua ini menjelaskan kenapa Israel begitu ketakutan,” pungkas Atwan.

Tags: