Rusia Curigai Diplomasi AS Jadi Kedok Serangan ke Iran
POROS PERLAWANAN — Dewan Keamanan Federasi Rusia memperingatkan perundingan damai berpotensi dimanfaatkan sebagai kedok untuk menyiapkan operasi militer terhadap Iran, seiring peningkatan signifikan kehadiran Militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Pernyataan itu dikutip kantor berita Rusia TASS pada Rabu 15 April, menyoroti konsentrasi kekuatan Militer AS yang terus bertambah di Kawasan, dinilai tidak sejalan dengan narasi deeskalasi melalui jalur diplomasi.
Berdasarkan data Komando Pusat AS, lebih dari 50 ribu personel Militer Amerika saat ini berada di Timur Tengah. Kekuatan tersebut mencakup sekitar 2.500 marinir dari unit ekspedisi, lebih dari 1.200 pasukan Divisi Lintas Udara ke-82, serta elemen pasukan khusus.
Dari sisi udara, sekitar 500 pesawat Militer AS kini tersebar di pangkalan-pangkalan Kawasan, lebih dari separuh merupakan pesawat tempur taktis. Kehadiran ini diperkuat armada laut yang melibatkan lebih dari 20 kapal perang di perairan strategis.
Rusia juga menyoroti pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menegaskan pasukan akan tetap berada di dekat Iran hingga Teheran memenuhi tuntutan Washington.
Dalam perkembangan paralel, kelompok tempur amfibi yang dipimpin USS Boxer dengan sekitar 2.500 marinir serta gugus tugas kapal induk USS George H.W. Bush dilaporkan bergerak menuju kawasan konflik. Kedatangan armada tersebut diperkirakan bertepatan dengan berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan.
Dewan Keamanan Rusia menilai pola pergerakan ini mengindikasikan persiapan lanjutan, termasuk penguatan persenjataan ofensif, sistem pertahanan rudal, serta peningkatan aktivitas intelijen.
Di sisi lain, Washington tetap menyatakan komitmen untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran. Namun, pernyataan tersebut beriringan dengan tekanan politik dan militer yang terus meningkat.
Pemerintah Iran merespons dengan sikap hati-hati. Teheran tetap membuka ruang dialog, namun menilai Washington belum menunjukkan kredibilitas untuk membangun kepercayaan.
Dalam putaran awal perundingan yang dimediasi Pakistan di Islamabad, Ketua Delegasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Amerika Serikat belum mampu meyakinkan pihaknya. Menurutnya, Washington telah memahami posisi Iran dan kini berada pada tahap menentukan apakah dapat membangun kepercayaan tersebut.
