Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Tak Punya Kredibilitas, Liga Arab ‘Bermuka Dua’ Sikapi Normalisasi Hubungan Arab-Israel

Tak Punya Kredibilitas, Liga Arab 'Bermuka Dua' Sikapi Normalisasi Hubungan Arab-Israel

POROS PERLAWANAN – Dilansir Tasnim, beberapa hari pasca deklarasi normalisasi hubungan UEA-Israel, Liga Arab masih saja bungkam. Tidak ada kabar berupa pernyataan sikap verbal, apalagi sidang antara anggota.

Kenapa dahulu Liga Arab mengeluarkan Mesir dari organisasi ini, pasca perjanjian Camp David, namun kini hanya diam menyaksikan perjanjian Abu Dhabi-Tel Aviv?

Liga Arab didirikan pada 22 Maret 1945 dengan tujuan pembelaan terhadap kepentingan negara-negara Arab.

Dahulu, Liga Arab memiliki prinsip tegas terkait isu Palestina dan sangat mendukung norma perlawanan Palestina di hadapan Rezim Zionis. Negara-negara anggota yang menyimpang dari prinsip ini langsung dijatuhi hukuman berat.

Salah satu contoh bersejarahnya adalah perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel. Pasca perjanjian, Liga Arab memindahkan markasnya dari Kairo ke Tunisia. Mesir pun dipecat dari keanggotaan. Meski begitu, Mesir akhirnya diterima kembali pada akhir dekade 80. Markas Liga Arab pun kembali ke Kairo pada tanggal 31 Oktober 1990.

Melihat sejarah pembentukan Liga Arab, juga sikap kerasnya terhadap Mesir, terlihat aneh bahwa organisasi ini hanya diam saja pasca diumumkannya normalisasi hubungan UEA-Israel.

Para pakar menilai, Liga Arab tidak bisa memainkan peran aktif dalam menengahi konflik internasional. Hal ini bisa dilihat dalam tidak efektifnya organisasi ini dalam menyelesaikan perseteruan regional, juga sikap netralnya dalam konflik antara Qatar dan Saudi.

Tiga negara Mesir, Bahrain, dan Oman menyambut baik normalisasi hubungan UEA-Israel. Namun sebagian negara anggota, termasuk Saudi, hanya memilih diam dan tidak menyatakan sikap.

Dari sini, bisa diketahui alasan kebungkaman Liga Arab. Alasannya adalah, keputusan-keputusan yang diambil tidak berasal dari dalam organisasi tapi merupakan kebijakan yang dipaksakan oleh negara-negara yang berkepentingan. Sehingga, Liga Arab praktis menjadi organisasi yang tidak independen. Para anggotanya hanya sesekali duduk bersama dan merilis statemen-statemen ulangan. Namun dalam kasus terbaru, statemen ulangan ini pun tak terdengar kabarnya.

Tentu selain alasan-alasan di atas, situasi saat ini juga ada kaitannya dengan pribadi Sekjen Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit. Saat menjabat sebagai Menlu Mesir, dia adalah salah satu pendukung normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis. Di Dunia Arab, Aboul Gheit dikenal sebagai “Pria Israel”.

Tidak adanya sikap Liga Arab telah membuat gusar para sekutunya di Pemerintahan Otonomi Nasional Palestina (PNA). Seorang petinggi PNA, Saib Uraiqat menegaskan, jika Aboul Gheit tidak mengutuk perjanjian UEA-Israel, maka dia harus mundur dari jabatannya.

Terkait ketidakbecusan Liga Arab, mantan PM Qatar, Hamad bin Hasim mengatakan, ”Liga ini tidak punya kredibilitas, baik di Dunia Arab, internasional, bahkan di tengah para anggotanya sendiri. Sebab, Liga ini tidak membahas dan menyelesaikan isu-isu penting Dunia Arab. Saya tidak mau menyebutkan berapa jumlah isu-isu penting tersebut.”

Tags: