The New York Times Ungkap Rencana AS Bunuh Maduro Lewat Serangan Militer
POROS PERLAWANAN – The New York Times melaporkan, mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat, bahwa Pemerintahan Donald Trump pernah mempertimbangkan aksi militer langsung terhadap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Pemerintahan Trump disebut bertekad menggulingkan pemerintahan berhaluan kiri tersebut dengan segala cara, termasuk mengambil alih sumber daya minyak Venezuela yang sangat melimpah.
Langkah-langkah yang dipertimbangkan antara lain pengerahan 10 persen kekuatan Militer AS di dekat perbatasan Venezuela, upaya penculikan Maduro, serangan terhadap kapal dan perahu milik Venezuela, pemberian wewenang kepada CIA untuk melakukan operasi sabotase di wilayah negara tersebut, serta imbalan bagi siapa pun yang berhasil menangkap Maduro. Semua itu merupakan bagian dari kampanye ekstensif Pemerintahan Trump terhadap Caracas.
Dalam laporan terbarunya yang dinukil oleh Kayhan pada Kamis 6 November, The New York Times menyebut bahwa Pemerintah AS bahkan berencana untuk membunuh Maduro secara langsung. Mengutip kantor berita ISNA, surat kabar itu menulis bahwa Pemerintahan Trump sempat mempertimbangkan untuk menetapkan Maduro sebagai anggota organisasi teroris agar dapat dijadikan target sah dalam operasi militer.
Menurut laporan tersebut, Menteri Luar Negeri AS saat itu, Marco Rubio mendorong opsi yang lebih agresif terhadap Venezuela dan secara pribadi meminta agar Maduro mengundurkan diri. Meski demikian, Trump dikabarkan menunjukkan keraguan terhadap rencana operasi tersebut karena khawatir akan berujung kegagalan.
Sumber-sumber internal yang dikutip The New York Times menyebut bahwa sejumlah opsi terhadap Venezuela mencakup serangan udara ke instalasi militer untuk melemahkan dukungan terhadap Maduro, serta pengiriman pasukan khusus guna menangkap atau bahkan membunuhnya. Rencana itu juga mencakup pengiriman pasukan kontraterorisme untuk menguasai bandara dan ladang-ladang minyak strategis di negara tersebut.
Rencana Perlawanan Bersenjata Disetujui
Menanggapi meningkatnya ancaman terhadap negaranya, Presiden Maduro mengumumkan persetujuan atas sebuah rencana nasional untuk mempersiapkan rakyat Venezuela melakukan perlawanan bersenjata.
Dalam pidatonya di Kongres Partai Sosialis Bersatu Venezuela, Maduro menegaskan: “Rencana yang diusulkan ini telah disetujui, dan Partai Sosialis Bersatu Venezuela harus segera mulai mengimplementasikannya dengan menyiapkan rencana operasional spesifik untuk setiap jalan dan setiap lingkungan. Rakyat kita harus mempertahankan kesiapsiagaan tertinggi, menjaga ketenangan dan pengendalian diri, serta menunjukkan tekad dan keberanian mereka.”
Pidato tersebut disampaikan di tengah kehadiran pasukan Angkatan Laut AS di Laut Karibia dengan dalih memerangi perdagangan narkoba. Menurut Maduro, dokumen yang diterimanya berisi “seperangkat gagasan untuk transisi dari perjuangan tanpa senjata menuju perjuangan bersenjata demi melindungi integritas teritorial, martabat, serta hak atas perdamaian dan masa depan negara”.
Ia menegaskan bahwa rencana tersebut mencakup persiapan rakyat dalam kerangka pertahanan nasional universal untuk menghadapi kemungkinan perang bersenjata berskala nasional maupun regional jika terjadi serangan militer dari AS.
Serangan Mematikan terhadap Kapal di Samudra Pasifik
Dalam berita terpisah, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegsett mengumumkan terjadinya serangan mematikan lain terhadap sebuah kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba di Samudra Pasifik.
Hegsett melaporkan bahwa serangan yang terjadi pada Selasa itu menewaskan dua orang di atas kapal tersebut. Dengan demikian, jumlah korban tewas akibat operasi maritim Pemerintahan Trump di kawasan Amerika Selatan meningkat menjadi sedikitnya 66 orang dari 16 serangan yang tercatat.
