Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Abu Mazen dan Penghinaan Tak Tahu Malunya terhadap Pejuang Hamas

POROS PERLAWANAN – Di tengah kobaran genosida Israel di Gaza, ketika darah anak-anak Palestina membanjiri jalanan dan reruntuhan menjadi rumah satu-satunya bagi ribuan keluarga yang terusir, Mahmoud Abbas yang lebih layak disebut Administrator Penjajahan daripada Presiden Otoritas Palestina, justru menyerang para pejuang yang paling gigih mempertahankan martabat bangsanya: para mujahidin Hamas.

Menurut Kantor Berita Al-Nashreh pada Rabu 23 April, dalam pidatonya di Dewan Pusat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang diboikot banyak Faksi Nasional karena dianggap tidak lagi mewakili suara rakyat Palestina, Abbas melontarkan pernyataan keji yang tak hanya ofensif secara politik, tetapi juga mencederai rasa keadilan dan keberpihakan terhadap para korban penjajahan.

Alih-alih mengecam genosida yang telah berlangsung lebih dari satu setengah tahun di Gaza, Abbas memilih menyerang Gerakan Hamas dengan kata-kata yang sembrono dan tunduk pada narasi Zionis: “…serahkan para sandera Zionis dan tutup pintu untuk alasan.” Kalimat yang terdengar lebih pantas keluar dari kantor Militer Zionis ketimbang dari seorang pemimpin Palestina.

Tak berhenti di situ, Abbas yang selama berbulan-bulan telah mengerahkan aparat keamanan PA untuk memburu dan menekan para aktivis Perlawanan di Tepi Barat, kembali menebar retorika kosong tentang “penataan rumah Palestina” yang tak lain hanyalah proyek usang untuk melegitimasi struktur kepatuhannya terhadap Zionis dan Amerika.

Ia bahkan berani menuntut kendali atas Jalur Gaza, wilayah yang selama ini ia tinggalkan dalam kobaran api dan darah, sambil menari dalam irama diplomasi palsu yang dirancang oleh Tel Aviv dan Washington.

Pernyataannya tentang “mekanisme pemenuhan kebutuhan dasar” Gaza terdengar seperti sindiran kejam bagi jutaan rakyat yang saat ini bahkan tidak memiliki akses terhadap air bersih dan obat-obatan karena blokade yang turut diamini oleh diamnya Otoritas Palestina.

Reaksi dari kelompok nasional pun tegas: mereka memboikot pertemuan tersebut dan menyatakan bahwa PA di bawah Abbas tidak lagi memiliki legitimasi moral maupun politik sebagai wakil rakyat Palestina. Ia telah gagal bukan hanya dalam diplomasi, Melain juga dalam menjalankan tugas dasarnya sebagai pelindung rakyat yang hidup di bawah pendudukan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *