Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Pertemuan Larijani dengan Delegasi Yaman di Oman Miliki Pesan Khusus

POROS PERLAWANAN – Saat diwawancarai Al-Mayadeen, mantan Atase Kebudayaan Iran di Lebanon, Mohammad Mehdi Shariatmadari menyatakan, semua pihak mengakui bahwa Iran telah meningkatkan kemampuannya dan menjadi lebih kuat setelah Perang 12 Hari. Mereka juga mengakui bahwa Iran menetapkan perimbangan selama perang tersebut yang membuat para agresor sendiri meminta gencatan senjata. Dia menekankan bahwa perang apa pun melawan Iran dapat dengan mudah mengganggu pergerakan pembangunan dan energi di Kawasan.

Diberitakan Fars, saat bicara soal persatuan di lapangan dan diplomasi, Shariatmadari mengatakan,”Salah satu manifestasi persatuan ini adalah pertemuan antara para panglima militer dan Menteri Luar Negeri. Demikian pula, ketika Menteri Luar Negeri ingin pergi ke Muscat untuk pembicaraan, dia melakukan tindakan simbolis dan pergi ke Tabas. Namun, terkait AS, harus dikatakan bahwa Pemerintah AS menghadapi dua situasi. Pertama, mereka berada di bawah tekanan dari lobi Zionis. Netanyahu pergi ke AS hari ini untuk menekan Trump agar menyetujui serangan terhadap Iran. Mungkin Rezim Zionis adalah satu-satunya yang menginginkan perang ini dimulai, tetapi mereka ingin menempatkan AS di depan karena tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya sendiri.”

“Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan domestik. Dia memiliki pemilu tengah periode di depannya, dan menghadapi tekanan dari berbagai lobi. Ia membutuhkan prestasi untuk berhasil dalam pemilu. Saya menduga Pemerintah AS telah meyakini bahwa opsi militer tidak layak. Perimbangan ini dipaksakan oleh Iran, yang mereka sadari setelah Iran siap merespons secara tegas. Perimbangan ini menyebabkan pihak yang memulai perang sendiri untuk meminta gencatan senjata. Semua laporan menyebutkan bahwa setelah perang, Iran menjadi lebih kuat, terutama setelah peluncuran rudal Khorramshahr-4.”

Saat ditanya al-Mayadeen menanyakan tentang kunjungan Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Iran, Ali Larijani ke Oman, Shareatmadari mengatakan,“Kunjungan ini merupakan ungkapan kehendak Iran, Oman, dan Kawasan untuk menekankan jalur diplomatik dan menolak opsi militer. Negara-negara di Kawasan juga harus menyadari dengan jelas posisi AS terkait negosiasi dan solusi diplomatik. Poin lain adalah bahwa pertemuan antara Larijani dan Sultan Oman, yang berlangsung selama tiga jam—durasi yang tidak lazim untuk pertemuan para petinggi negara—bukanlah pertemuan seremonial, melainkan menunjukkan dialog yang serius. Beberapa orang mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan manifestasi dari kehendak bersama Iran dan Oman.”

“Poin lain adalah bahwa dalam lawatan ini Larijani juga bertemu dengan Mohammed Abdussalam dan delegasi Yaman, yang juga memiliki makna khusus. Saya pikir ini terkait dengan pesan bahwa orang-orang Yaman siap sepenuhnya untuk mendukung isu-isu dunia Islam, Umat Muslim, dan Revolusi Islam, termasuk mendukung Iran jika perang dimulai terhadapnya.”

“Bagaimanapun, kunjungan ini dapat menjadi salah satu sinyal dan pesan yang ingin disampaikan Iran di bidang militer, selain diplomasi. Latihan militer biasanya bertujuan untuk meningkatkan tingkat daya tawar dalam negosiasi politik. Drone yang dikirim Iran dekat kapal perang AS juga merupakan bagian dari kerangka ini. Dipamerkannya rudal Khorramshahr, latihan bersama Iran-Rusia-China yang dijadwalkan mungkin dalam dua minggu ke depan, dan latihan semimiliter yang dilakukan oleh Garda Revolusi di Teluk Persia, semua adalah penegaskan di jalur diplomatik yang menyatakan bahwa Iran menolak perang, tetapi siap merespons jika perang dipaksakan.”

Sehubungan dengan sikap negara-negara di Kawasan, Shariatmadari mengatakan,“Negara-negara ini telah berusaha mencegah perang, tetapi kenyataannya, jika perang meletus, itu akan menjadi perang regional dan akan memengaruhi perkembangan dan perdagangan di seluruh Kawasan. Ketidakstabilan di Iran akan berdampak pada pasokan energi di Kawasan. Poin pentingnya adalah bahwa kembalinya Iran ke kubu Barat, menurut negara-negara di Kawasan, merupakan kebangkitan kembali polisi regional. Apakah ada yang meragukan bahwa tidak ada yang bisa menempatkan Trump pada tempatnya? Bahkan sekutunya pun tidak berpikir demikian. Apakah ada yang meragukan bahwa tujuan utama Trump adalah menguasai sumber daya minyak dan energi serta mencegahnya mencapai China, demi menjaga ekonomi dan dominasi AS?”

“Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa AS adalah penguasa yang arogan dan mengejar sumber daya energi. Apa yang dapat menghentikan Trump ini? Akibatnya, negara-negara di Kawasan tidak kebal terhadap kemungkinan upaya Trump untuk menguasai sumber daya energi mereka. Oleh karena itu, dalam keadaan ini, Iran, adalah satu-satunya kekuatan yang menentang intimidasi dan kehendak Trump. Penting bagi negara-negara di Kawasan untuk melindungi sumber daya dan masa depan mereka. Mereka mungkin melihat Iran sebagai faktor stabilisasi. Hal ini terjadi setelah periode ketika mereka mempromosikan gagasan bahwa Iran, bukan Israel, adalah musuh. Hari ini, semua orang menyadari siapa masalah di Kawasan. Meskipun mereka mungkin tidak mengatakannya secara terbuka, mereka tahu betul bahwa Iran adalah faktor keseimbangan dan stabilitas di Kawasan.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *