Dampak Perang Iran Tekan Anggaran, Inggris Tinjau Ulang Ambisi Pertahanan
POROS PERLAWANAN – Pemerintah Inggris dikabarkan meninjau ulang rencana peningkatan anggaran pertahanan akibat tekanan ekonomi yang dipicu dampak perang terhadap Iran dan gejolak pasar energi global.
Mengutip laporan IRNA yang merujuk pada pemberitaan The Telegraph pada Kamis 4 Juni, rencana investasi pertahanan Inggris berpotensi dipangkas dari 18 miliar menjadi 15 miliar Poundsterling.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer dan Menteri Keuangan, Rachel Reeves disebut tengah mengkaji ulang besaran anggaran untuk penguatan Militer dalam empat tahun ke depan.
Tekanan Ekonomi dan Gangguan Jalur Energi
Keputusan ini dinilai kontras dengan strategi London sebelumnya yang ingin memperkuat posisi di NATO, menyusul perang di Ukraina dan ketidakpastian keamanan Eropa.
Namun, tekanan terhadap keuangan publik memaksa Pemerintah mempertimbangkan pemangkasan. The Telegraph menyebut lonjakan biaya energi serta gangguan jalur perdagangan global akibat penutupan Selat Hormuz—jalur utama pengiriman energi dunia—semakin memperberat beban ekonomi Inggris.
Starmer sebelumnya memperingatkan bahwa semakin lama gangguan perdagangan dan energi berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap anggaran negara dan pertumbuhan ekonomi.
Dilema Fiskal vs Keamanan
Pemerintah Inggris kini berada dalam dilema. Di satu sisi, kapasitas militer harus ditingkatkan menghadapi tantangan keamanan. Di sisi lain, ruang fiskal justru menyempit.
Wakil Menteri Keuangan, Lucy Rigby, saat diwawancarai Times Radio, tidak memastikan apakah target 18 miliar Poundsterling masih dipertahankan. Ia hanya mengatakan bahwa Pemerintah tetap akan menambah belanja pertahanan, dengan rincian final diumumkan dalam dokumen investasi pertahanan dalam waktu dekat.
Penundaan dan Perbedaan Pandangan
Dokumen investasi pertahanan kemungkinan akan dirilis sebelum pertemuan menteri pertahanan NATO di Jerman pada pertengahan Juni. Dokumen ini sejatinya menjadi peta jalan pengembangan Militer Inggris untuk satu dekade ke depan.
Namun, perbedaan pandangan antara Kementerian Pertahanan dan Kementerian Keuangan menyebabkan publikasi beberapa kali tertunda.
Bahkan menurut analis pertahanan, tambahan 18 miliar Poundsterling pun dinilai belum cukup. Angkatan Bersenjata Inggris diperkirakan masih kekurangan pendanaan hingga 28 miliar Poundsterling dalam empat tahun mendatang.
Tekanan Politik dari Dalam Negeri
Di tengah persoalan anggaran, Starmer juga mendapat tekanan politik internal. Hampir 100 anggota parlemen Partai Buruh mendesaknya menjelaskan masa depan kepemimpinan setelah hasil buruk dalam pemilihan lokal.
Perdebatan anggaran pertahanan telah memicu perbedaan pandangan di partai berkuasa. Sebagian mendukung peningkatan belanja militer, sebagian lain ingin prioritas pada belanja sosial dan pemulihan ekonomi domestik.
Ujian bagi Pemerintah Starmer
Rencana investasi pertahanan tidak lagi sekadar dokumen modernisasi Militer. Kebijakan ini menjadi ujian bagi kemampuan Pemerintah Starmer mengelola tekanan ekonomi, tuntutan keamanan, dinamika politik domestik, dan komitmen terhadap NATO secara bersamaan.
Laporan IRNA menyimpulkan bahwa dampak ekonomi dari konflik internasional dapat memengaruhi kemampuan negara-negara Barat membiayai agenda pertahanan mereka. Bagi Inggris, persoalan ini berkembang menjadi tantangan strategis yang menyangkut keamanan nasional sekaligus stabilitas fiskal dan politik dalam negeri.
