Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Analisis Institut Politik AS: Deterensi Iran Bakal Meluas Hingga ke Perbatasan Palestina

POROS PERLAWANAN – Pakar masalah politik dan pendiri Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi berpendapat bahwa Iran, dengan mewujudkan ancamannya terhadap Israel, telah menanamkan pemahaman di benak masyarakat Israel bahwa Teheran mungkin akan segera memperluas payung prevensinya (penangkalan) hingga ke Gaza dan Tepi Barat. Ia menekankan bahwa dengan mempertimbangkan keunggulan Iran dalam geografi dan ekonomi perang, masalah ini sangat mengkhawatirkan bagi Israel dan Amerika Serikat.

Fars melaporkan, Parsi menganalisis serangan Iran terhadap Israel sebagai tanggapan atas agresi Zionis yang berkelanjutan terhadap Lebanon, serta tanggapan keras Iran terhadap serangan AS ke Iran. Dia menjelaskan, dukungan Iran terhadap Perlawanan Lebanon telah mengoreksi kalkulasi Amerika-Israel mengenai hubungan antara Iran dan Hizbullah sampai tingkat tertentu. Hal ini menunjukkan, Hizbullah lebih dari sekadar kekuatan proksi bagi Iran. Perlawanan Lebanon diposisikan sebagai sekutu yang independen dan sangat cakap, sampai-sampai Teheran bersedia menanggung biaya untuk mendukung sekutu ini dan mengambil langkah besar dalam upaya memperluas deterensinya hingga ke perbatasan Palestina yang Diduduki.

Serangan terhadap Israel adalah Definisi Deterensi dan Perimbangan Baru dari Iran

Menurut Parsi, tindakan Iran dalam menanggapi serangan Israel di Lebanon adalah upaya untuk menetapkan semacam “deterensi lintas batas” (lateral deterrence). Artinya, Teheran ingin memperluas lingkup deterensinya melampaui pertahanan langsung wilayah Iran. Teheran ingin membuat Tel Asviv paham bahwa serangan terhadap Lebanon dapat memicu tanggapan langsung dari Iran.

Parsi menekankan, Iran sebelumnya telah memperingatkan AS bahwa gencatan senjata harus bersifat regional dan juga mencakup Israel, Sebab jika tidak, Tel Aviv akan menggunakan Lebanon sebagai celah untuk melanjutkan perang. Oleh karena itu, menurutnya, respons Iran terhadap serangan Israel di selatan Lebanon adalah upaya untuk memaksakan “perimbangan baru” kepada Israel, sehingga Rezim Zionis menyadari bahwa melanjutkan serangannya terhadap front-front sekutu Iran akan memakan biaya militer dan ekonomi secara langsung.

Serangan Iran terhadap Israel Mengoreksi Kesalahan Kalkulasi Soal Hubungan Iran-Hizbullah

Dalam mengkritik narasi umum Barat mengenai hubungan antara Iran dan Hizbullah, Parsi menegaskan bahwa mendeskripsikan hubungan ini sebagai hubungan yang “semata-mata proksi” adalah gambaran yang terlalu disederhanakan dan menyesatkan mengenai kalkulasi regional Iran. Baginya, jika Hizbullah hanyalah “bidak” atau instrumen yang sepenuhnya berada di bawah kendali Iran, tidak logis bagi Teheran untuk mengambil risiko konfrontasi langsung dengan Israel demi membelanya, yang berisiko merusak negosiasi dan hilangnya peluang untuk mengurangi sanksi.

Parsi meyakini, hubungan ini lebih menyerupai aliansi asimetris, namun timbal balik. Artinya, Iran berperan sebagai aktor yang lebih besar dan lebih kuat, tetapi Hizbullah juga memiliki agensi, posisi strategis, dan bobot independen dalam perimbangan regional. Oleh karena itu, menurut Parsi, keterkejutan banyak pengamat Barat terhadap reaksi Iran atas serangan Israel di Lebanon berasal dari narasi hitam-putih dan reduksionis yang sama, yang hanya memahami hubungan Iran dengan sekutu regionalnya dalam kerangka “proksi”, sehingga pada akhirnya mengurangi kemampuan Washington untuk memperhitungkan perilaku Iran secara akurat.

Iran Dorong Perang Menuju Jalur Atrisi Karena Ekonomi Perang Menguntungkan Teheran

Parsi berpendapat bahwa dengan berlanjutnya konfrontasi, Iran tidak mencari kemenangan cepat dan tegas, melainkan mencoba menarik perang ke jalur atrisi agar kerentanan struktural Israel terungkap. Dari sudut pandangnya, kelemahan utama Israel dalam skenario ini adalah keterbatasan sistem intersepsi dan tingginya biaya pertahanan rudal. Sebab, Israel harus menembakkan beberapa pencegat untuk melawan setiap rudal Iran, sementara Iran memiliki cadangan rudal yang lebih banyak dan dapat memproduksi rudal lebih cepat daripada kecepatan produksi pencegat Israel.

Oleh karena itu, menurut Parsi, “matematika perang” dalam pertempuran beberapa minggu dapat berubah menguntungkan Iran. Bukan melalui kehancuran instan Israel, melainkan melalui peningkatan tekanan secara bertahap, pengurangan cadangan pertahanan, peningkatan biaya keamanan, dan memperparah kelelahan psikologis, ekonomi, dan militer di dalam Israel.

Ekonomi Dunia akan Hadapi Kejutan Besar dalam Beberapa Minggu Mendatang

Parsi memperingatkan, bahwa perluasan konflik antara Iran dan Israel bukan sekadar krisis militer terbatas, melainkan dapat dengan cepat berubah menjadi krisis ekonomi dan global. Jika Israel menyerang infrastruktur energi Iran, Teheran dan sekutunya dapat menargetkan jalur vital distribusi energi.

Dia berpendapat, aktivasi Ansharullah di Laut Merah, ancaman terhadap pelayaran, dan kemungkinan serangan Iran terhadap infrastruktur minyak negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) meningkatkan krisis dari tingkat gangguan jalur pengiriman minyak ke tingkat gangguan produksi energi. Situasi seperti ini dapat menyebabkan harga minyak melonjak tajam. Dampaknya tidak hanya terbatas pada pasar energi, tetapi juga memengaruhi produksi pupuk, ketahanan pangan, transportasi, inflasi, dan tekanan biaya hidup di Barat dan Asia.

Parsi menekankan bahwa di awal perang, tingginya cadangan minyak dan penggunaan cadangan strategis mencegah lonjakan harga yang lebih ekstrem. Namun, jika krisis berlanjut atau memburuk dalam beberapa minggu ke depan, margin keamanan ini akan hilang dan ekonomi global akan menghadapi guncangan yang jauh lebih berat.

Iran Sedang Perluas Deterensinya di Seluruh Kawasan

Parsi percaya, jika Iran mampu mengonsolidasikan deterensi lintas batasnya di Lebanon, hal ini dapat menjadi perubahan geopolitik penting di Kawasan. Karena untuk pertama kalinya, sebuah kekuatan regional bersedia menempatkan kekuatan keras dan menanggung biaya militer langsung dalam menghadapi kebebasan bertindak Militer Israel.

Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Israel di Lebanon, Suriah, Tepi Barat, dan Gaza praktis telah melakukan serangan, pendudukan, aneksasi, dan kejahatan perang tanpa menghadapi konsekuensi serius dari Pemerintah-pemerintah regional atau Barat. Tetapi sekarang, Iran berusaha menunjukkan bahwa serangan terhadap Lebanon dapat memicu tanggapan langsung terhadap Israel.

Menurut Parsi, jika perimbangan ini bertahan, Israel terpaksa harus memasukkan biaya reaksi Iran ke dalam kalkulasinya sebelum melakukan serangan apa pun. Hal ini dapat sangat membatasi kebebasan bertindak strategis Tel Aviv. Tentu saja, ia menekankan bahwa keberhasilan model ini tidak pasti dan saat ini Iran hanya menerapkannya terhadap Lebanon. Namun munculnya model seperti itu saja sudah mengkhawatirkan bagi Israel.

Ia melanjutkan dengan mengeklaim bahwa Iran mungkin ingin memperluas deterensi ini ke Gaza dan Tepi Barat di masa depan. Ia mengatakan, meskipun tidak ada tanda-tanda bahwa Teheran secara resmi memiliki tujuan tersebut, kemungkinan potensial ini sangat mengkhawatirkan bagi Israel. Karena jika Israel menerima bahwa serangan terhadap Lebanon dapat memicu respons langsung dari Iran, muncul pertanyaan berikut: “Mengapa model seperti itu tidak diulangi di masa depan terkait Gaza atau sekutu dan Poros Perlawanan lainnya?”

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *