Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Abaikan Kemunculan 20 Ribu Kasus Positif Baru per Hari di AS, Trump Malah Niat Bubarkan Satgas Penanganan Virus Corona

POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengemukakan niatnya untuk membubarkan gugus tugas penanganan virus Corona Gedung Putih, walau sudah diperingatkan tentang kemungkinan datangnya gelombang kedua wabah virus Corona.

“Kami ingin mengembalikan negara kami,” kata Trump saat berkunjung ke sebuah pabrik masker, dilansir Detik.

Pernyataan Trump ini keluar ketika jumlah kasus positif Corona harian di AS menembus angka 20 ribu dengan lebih dari 1000 kematian per hari.

Sebelumnya, AS dihantam gelombang besar kasus positif baru yang mencapai 68 ribu pada 1 Mei lalu, memecahkan rekor kasus harian terbanyak yang oleh WHO disebut sebagai “hari paling mematikan”. Banyaknya kasus positif baru dalam sehari ini menjadi buntut dari kebijakan negara-negara bagian melonggarkan karantina.

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC), Robert Redfield, pernah menyampaikan bahwa gelombang kedua dari virus Corona yang diperkirakan datang berbarengan dengan musim flu, akan menjadi sangat buruk.

“Ada kemungkinan jika serangan virus Corona terhadap negara kita akan lebih berat memasuki musim dingin nanti dibanding apa yang kita alami saat ini,” kata Redfield kepada Washington Post.

Redfield juga berharap Pemerintah AS dapat mempersiapkan diri lebih baik menghadapi hal tersebut.

Namun berkebalikan dengan keinginan Redfield, Donald Trump justru menganggap kerja dari gugus tugas sudah selesai dan akan membentuk tim lain untuk mengatur pembukaan wilayah kembali setelah karantina.

“Mike Pence dan gugus tugas sudah melakukan pekerjaan hebat, namun kami kini tengah mencari bentuk yang sedikit berbeda, dan bentuk itu adalah keamanan dan pembukaan karantina. Dan kami mungkin akan punya kelompok berbeda yang dibentuk untuk itu,” cetus Trump.

“Kita tidak bisa terus-menerus menutup negara kita selama lima tahun ke depan,” tambahnya.

Beberapa kalangan menuding Trump mengesampingkan urusan kesehatan dan buru-buru membuka kembali ekonomi menjelang pemilihan umum AS yang akan digelar pada November mendatang.

Tags: