Loading

Ketik untuk mencari

Profil

Abu Jihad, Pejuang Palestina yang Diteror oleh 700 Agen Mossad

Abu Jihad, Pejuang Palestina yang Diteror oleh 700 Agen Mossad

POROS PERLAWANAN-Khalil al-Wazir, atau yang dijuluki Abu Jihad, adalah salah satu komandan ternama Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Beragam aktivitasnya telah meresahkan Rezim Zionis, sampai akhirnya agen-agen Mossad meneror Abu Jihad di Tunisia pada 16 April 1988.

Abu Jihad lahir di Ramla pada tahun 1935. Dia menamatkan pendidikan tingkat menengahnya di Gaza. Dia lalu melanjutkannya ke tingkat atas di Alexandria, Mesir, meski tidak sampai selesai.

Abu Jihad lalu mengajar di Saudi pada tahun 1957-1958 dan di Kuwait dari 1958 hingga 1963. Pasca didirikannya Kelompok Fatah di awal dekade 60-an, ia meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan fokus pada perjuangan bersama Fatah.

Abu Jihad, yang disebut-sebut sebagai Bapak Revolusi Bersenjata di Palestina, adalah orang yang pertama kali menggagas operasi bersenjata terhadap Israel. Dia adalah penanggung jawab utama untuk operasi-operasi Kelompok Fatah di dalam wilayah Palestina.

Abu Jihad telah membuat Rezim Zionis Israel pusing tujuh keliling, juga menebar rasa takut di hati mereka dengan semua kegiatannya. Oleh karena itu, dinas intelijen Israel (Mossad) melancarkan operasi berskala besar untuk membunuhnya. Berdasarkan sumber-sumber dari Israel, Tel Aviv menugaskan 700 agen untuk meneror Abu Jihad.

Di masa itu, ada sejumlah pertanyaan terkait keterlibatan Mahmoud Abbas (Ketua PNA saat ini) dalam gugurnya Abu Jihad. Pertanyaan ini muncul karena tempat tinggal Abbas berada di dekat rumah Abu Jihad. Namun Abbas tidak menjadi target dalam operasi teror tersebut.

Setelah sekian lama, tampaknya rahasia-rahasia seputar syahidnya Abu Jihad mulai terbuka. Jamal al-Bahraini, yang merupakan saksi gugurnya Abu Jihad, secara terang-terangan menyebut Abbas sebagai informan Israel terkait aktivitas-aktivitas Abu Jihad.

Menurut al-Bahraini, tim yang bertugas memburu Abu Jihad memasuki Tunisia dalam penyamaran turis. Mereka mondar mandir di kawasan Sidi Bou Said dan daerah-daerah penting di kawasan tersebut.

“Dua malam sebelum operasi teror, wanita yang merekam aksi teror itu mengunjungi rumah Abu Jihad bersama seorang agen Mossad. Mereka mengaku sebagai warga Palestina yang tinggal di Amerika Latin,”papar al-Bahraini.

Rezim Zionis begitu takut terhadap Abu Jihad, sehingga para agen pelaksana operasi itu harus memberondong jasad pejuang Palestina tersebut dengan 80 peluru, supaya mereka yakin ia memang sudah tewas.

Abu Jihad dikenal sebagai politisi dan pakar teori militer Palestina. Dia juga merupakan salah satu pendiri Fatah, anggota Komite Pusat Fatah, dan komandan al-Asifah (sayap militer Fatah).

Selama aktivitasnya di Fatah, Abu Jihad selalu berpijak pada ideologi Islam. Ia berbeda dengan kebanyakan pejuang Arab yang saat itu berpaham kiri. Gagasannya, yang ia sebut dengan “Revolusi Pembebasan Rakyat”, dibangun atas fondasi kebangkitan rakyat yang tinggal di Palestina.

Lebih dari siapa pun di Fatah dan SAF, Abu Jihad memiliki keyakinan bahwa perlawanan harus dibawa ke Tepi Barat dan Jalur Gaza. Oleh karena itu, dia menciptakan jaringan hubungan penting antara para pejuang di kawasan-kawasan tersebut dengan Kelompok-kelompok Perlawanan Palestina.

Abu Jihad juga pemimpin Kelompok Black September. Organisasi ini dibentuk usai pembantaian massal warga Palestina di Yordania pada tahun 1970. Pembunuhan Perdana Menteri Yordania pada 1971 serta penyanderaan dan pembunuhan atlet Israel pada Olimpiade Munich 1972 dilakukan oleh organisasi ini.

Abu Jihad juga memegang komando dalam puluhan operasi gerilya yang membunuh banyak serdadu Rezim Zionis pada dekade 70-an. Dia lalu terpaksa pindah ke Tunisia menyusul kekalahan Fatah dari Israel dalam perang Lebanon tahun 1982. Upaya-upaya Abu Jihad berperan besar dalam dimulainya Intifada tahun 1987. Ia kemudian gugur setahun setelahnya pada usia 47 tahun di tangan agen-agen Mossad di Tunisia.

Israel sebenarnya sudah berniat meneror Abu Jihad bertahun-tahun sebelum itu. Pada tahun 1978, sebuah bom diledakkan di jalur yang dilewati mobilnya, namun dia selamat dari teror tersebut.

Teror atas Abu Jihad adalah salah satu operasi rahasia dan lintas batas Israel. Tel Aviv selalu merahasiakan orang-orang dan tim yang terlibat dalam operasi semacam ini. Namun pada tahun lalu, menyusul adanya rivalitas antara kelompok-kelompok intelijen Mossad, akhirnya nama tim dan anggotanya terungkap.

Menurut informasi yang sampai ke meja harian Israel, Yedioth Ahronoth, tim pembunuh Abu Jihad dipimpin oleh Nahum Lev dan beranggotakan 26 agen.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *