Loading

Ketik untuk mencari

Irak

Al-Kadhimi: Irak Tak Akan Batalkan Kesepakatan dengan China

Al-Kadhimi: Irak Tak Akan Batalkan Kesepakatan dengan China

POROS PERLAWANAN – Perdana Menteri Irak, Mustafa al-Kadhimi menanggapi isu-isu terkait dibatalkannya hasil lawatan mantan PM Irak, Adil Abdulmahdi ke China. Ia menegaskan, kesepakatan Baghdad-Beijing tak akan diganti dengan kesepakatan lain.

“Irak harus menjadi lingkungan yang menarik untuk para investor, bukan yang menolak mereka. Kita sangat membutuhkan investasi, lapangan kerja, dan rekonstruksi,” ucap al-Kadhimi, seperti dikutip Fars dari Russia Today.

Terkait protes terhadap proyek mencurigakan Saudi di Irak, al-Kadhimi hanya berkomentar bahwa ada kampanye-kampanye yang mempertanyakan segala bentuk hubungan dekat Irak dengan negara mana pun, yang dibarengi dengan isu-isu untuk mengacaukan kesepakatan yang menguntungkan Irak.

Menteri Perencanaan Irak, Khalid Battal Najm menegaskan, kesepakatan Irak-China tetap berlaku. Menurutnya, dalam beberapa hari ke depan, akan ada langkah-langkah untuk implementasi sejumlah butir kesepakatan tersebut.

Pada September 2019, sebulan sebelum dimulainya unjuk rasa jalanan di Irak, PM Adil Abdulmahdi melawat ke China selama 5 hari dan meneken 8 kesepakatan di berbagai bidang dengan negara tersebut.

Menurut para pengamat, berpalingnya Irak dari AS ke Timur telah membuat Washington melakukan banyak tekanan atas Baghdad.

Sebagian pengamat bahkan berpendapat, Abdulmahdi tersingkir dari jabatannya lantaran menjalin kesepakatan dengan China.

Implementasi kesepakatan Baghdad-Beijing masih dalam ketidakjelasan. Kendati Komisi Ekonomi Parlemen Irak menegaskan bahwa kesepakatan ini masih berlaku, namun sejumlah legislator mengabarkan intervensi AS untuk menghentikan kesepakatan tersebut.

Sebelum ini, anggota Aliansi Sairun di Parlemen, Riyadh al-Masoudi membeberkan bahwa al-Kadhimi telah mengambil 1 miliar dolar dari kas independen yang dikhususkan untuk kesepakatan dengan China. Hal ini dilakukan lantaran krisis finansial yang dihadapi Pemerintah Irak akibat pandemi Corona. Menurut al-Masoudi, saat ini hanya tersisa 100 juta dolar di kas tersebut.

Para pengamat dan analis berpendapat, tindakan Pemerintah al-Kadhimi ini sama saja dengan keluarnya Baghdad secara sepihak dari kesepakatan dengan Beijing. Hal ini juga akan mendatangkan konsekuensi bagi Irak, sebab ia sudah berkomitmen untuk mengirim minyak tiap hari ke China.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *