Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Amerika Ubah Strategi Hadapi Poros Perlawanan: Hasut dan Rusak Hubungan Baik Antarnegara Penentang AS-Israel

Amerika Ubah Strategi Hadapi Poros Perlawanan: Hasut dan Rusak Hubungan Baik Antarnegara Penentang AS-Israel

POROS PERLAWANAN – Di penghujung tahun 2019 dan awal 2020, penduduk Baghdad dan Beirut melakukan unjuk rasa antikorupsi. Namun, tiba-tiba para antek Kedubes AS di Irak dan Lebanon menyusup ke tengah mereka. Mereka menyerukan slogan-slogan yang tak ada kaitannya dengan tuntutan rakyat.

Salah satu slogan mereka adalah penghinaan terhadap hubungan dengan Iran serta tuntutan untuk melucuti senjata Hizbullah dan al-Hashd al-Shaabi. Anehnya, mereka tak menyinggung sama sekali peran destruktif AS di Irak dan Lebanon, atau keterlibatan Saudi dalam pengiriman elemen teroris ke dua negara tersebut.

Hal ini menunjukkan perubahan strategi AS dalam menghadapi Poros Perlawanan. Perubahan ini adalah peralihan dari tahap konfrontasi bersenjata ke tahap perang lunak, yaitu menggembosi bangsa-bangsa yang melawan arogansi AS dan Israel.

Dalam beberapa waktu terakhir, strategi AS ini melebar dari Irak dan Lebanon hingga ke Afghanistan. Tujuannya adalah memperkeruh hubungan saudara antara bangsa Iran dan Afghanistan; hubungan yang telah menggagalkan AS menguasai Afghanistan.

Beberapa hari lalu, sejumlah situs mencurigakan, juga media-media AS dan Saudi, mengklaim bahwa Pasukan Perbatasan Iran telah menenggelamkan imigran Afghan.

Media-media ini juga mengklaim, Polisi Iran telah menembaki kendaraan yang mengangkut imigran Afghan di Provinsi Yazd. Berita ini dengan cepat menjadi head line di kanal-kanal Saudi, seperti al-Arabiya, al-Hadath, dan al-Hurra.

Padahal, apa yang terjadi berlawanan dengan semua klaim tersebut. Mohsen Baharvand, anggota delegasi Iran yang dikirim ke Afghanistan untuk membahas tudingan ini, menyatakan bahwa insiden tenggelamnya imigran Afghan disebabkan hilir mudik ilegal di perbatasan bersama kedua negara.

Menurut Baharvand, tiadanya pos penjaga Afghanistan di perbatasan bersama itu menyebabkan Kabul tak bisa mengontrol perbatasan. Dengan demikian, timbul banyak masalah yang disebabkan hilir mudik ilegal.

Selain itu, kata Baharvand, kelompok-kelompok penyelundup juga beraktivitas di perbatasan bersama Iran-Afghanistan. Mereka berupaya menyelundupkan imigran ke Iran secara ilegal, sehingga kerap memicu insiden-insiden seperti itu.

Jubir Kemenlu Iran mengumumkan, insiden tenggelamnya imigran Afghan terjadi di luar wilayah Iran. Pasukan Iran juga tidak terlibat sama sekali dalam kejadian tersebut.

Abbas Mousavi menegaskan, sejak pandemi Corona, Iran tidak memiliki pos di kawasan perbatasan. Dengan demikian, semua tudingan bahwa imigran Afghan dibawa ke pos untuk bekerja paksa, atau tudingan-tudingan lain, hanya fitnah belaka. Berita-berita ini juga dibuat oleh pihak-pihak yang tak mengetahui situasi terbaru di perbatasan Iran.

Tak lama setelah itu, Polisi Iran diklaim menembaki kendaraan pengangkut imigran hingga terguling dan terbakar serta menewaskan tiga imigran. Dubes Afghanistan untuk Iran, Abdulghafur Liwal menegaskan, sopir kendaraan dan sindikat penyelundup manusia bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Sumber-sumber kepolisian mengabarkan, kendaraan itu melaju dengan kecepatan tinggi, kemudian menabrak penghalang sehingga terguling dan terbakar.

Liwal menyatakan, warga Afghan sudah puluhan tahun hidup di Yazd. Mereka melakukan kegiatan ekonomi di kota tersebut, juga menuntut ilmu di universitas dan sekolah. Dia juga mengapresiasi peluang kerja yang disediakan Gubernur Yazd untuk imigran Afghan.

Dubes Afghanistan menegaskan, insiden-insiden semacam ini tak akan merusak hubungan erat antara bangsa Iran dan Afghanistan.

Tags: