Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Analis Bongkar Trik ‘Cuci Otak Cara Saudi’ Muluskan Proyek Normalisasi Arab-Israel Lewat Kamuflase Halus Serial Drama-Komedi ‘Ummu Harun’

Analis Bongkar Trik 'Cuci Otak Cara Saudi' Muluskan Proyek Normalisasi Arab-Israel Lewat Kamuflase Halus Serial Drama-Komedi 'Ummu Harun'

POROS PERLAWANAN – Sebuah serial yang akan disiarkan stasiun televisi Saudi, MBC, memicu kontroversi di Dunia Arab. Meski serial “Ummu Harun” itu baru akan ditayangkan bulan Ramadan nanti, banyak pihak yang menentangnya.

Sebagian menilai, penayangan serial ini adalah bentuk “infiltrasi kultural” demi memuluskan proyek normalisasi hubungan Arab-Israel.

“Ummu Harun” bercerita tentang seorang wanita Turki Ottoman yang berdarah Yahudi. Setelah beberapa tahun tinggal di Irak dan Iran, dia lalu menetap di Bahrain dan bekerja sebagai bidan. Pasca diciptakannya Rezim Zionis dan imigrasi kaum Yahudi ke Palestina, dia pun pergi menuju ke negeri tersebut.

Topik yang diangkat dalam serial ini adalah kehidupan kaum Yahudi Arab yang tinggal di negara-negara Arab Teluk pada dekade 40-an. Serial ini mengesankan bahwa lantaran agamanya, mereka ini ditindas dan ditolak oleh komunitas Arab Muslim.

Menurut sejumlah analis dan pengamat, serial televisi ini mencurigakan, karena dibuat di masa peluncuran proyek Deal of The Century yang diresmikan Donald Trump dan Benyamin Netanyahu.

Selain Kuwait, yang berkali-kali mengecam normalisasi hubungan Arab-Israel, dan Qatar (walau tidak kentara), negara-negara Arab Teluk dalam setahun terakhir berusaha menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv, atau setidaknya melakukan persiapan untuk itu.

Saudi, Bahrain, dan UEA paling bersemangat untuk menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis. Para petinggi Israel kerap menghadiri seminar dan turnamen internasional di Bahrain dan UEA. Sebagai balasan, tokoh-tokoh politik atau sipil dari dua negara Arab itu juga melawat ke Israel.

Para penentang serial “Ummu Harun” mengatakan, pembuatan dan penayangan serial itu dalam kondisi saat ini tidak bisa dibenarkan. Terutama ketika warga Palestina masih ditindas dan diperlakukan secara diskriminatif di negeri mereka sendiri.

Bicara soal hidup harmonis dengan Zionis dalam situasi saat ini, tak lebih dari upaya untuk mengubah opini warga Kuwait dan Arab yang menentang normalisasi hubungan Arab-Israel.

Dalam wawancara dengan al-Jazeera, Dosen Tafsir di Universitas Kuwait Tariq al-Thawari mengatakan, ”Ada dua kekhawatiran terhadap proyek ‘budaya-seni’ semacam ini. Pertama, ini akan dijadikan dasar klaim bahwa Yahudi di Kuwait atau negara-negara Arab Teluk lain memiliki hak historis. Padahal orang-orang Yahudi seperti ini datang ke Kuwait dari negara-negara lain.”

“Kedua, serial ini adalah mukadimah untuk normalisasi hubungan dengan Israel. Mereka berusaha mengubah sikap antipati Pemerintah dan rakyat Kuwait dengan metode drama-komedi,” lanjutnya.

Petinggi Hamas, Raafat Murrah juga menanggapi serial “Ummu Harun.” Menurutnya, tujuan pembuatan serial ini adalah “menyelewengkan fakta dan menggiring warga Arab Teluk menuju proyek normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis.”

Kepada kantor berita SAFA, Murrah mengatakan, karakter Ummu Harun yang diperankan aktris Hayat al-Fahad mengingatkan dirinya pada sosok PM Israel ke-4, Golda Meir, yang merupakan “wanita tua pendengki, kriminal, dan pembunuh.”

“Serial ‘Ummu Harun’ adalah upaya untuk mengesahkan proyek politik-budaya Zionis di negara-negara Arab,” tandas Murrah.

Murrah dalam tweet-nya menegaskan, normalisasi hubungan dengan Israel hanya akan mendatangkan kehancuran dan kesengsaraan.

“’Ummu Harun’ ingin memasukkan komunitas Arab Teluk secara bertahap ke frame normalisasi hubungan dengan Israel. Hal ini dilakukan di saat sejumlah penguasa Arab begitu bernafsu menguatkan hubungan dengan Netanyahu demi menjaga takhta mereka,” cuitnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *