Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Apa Alasan Sebenarnya AS dan Barat Tebar Fobia, Halangi Hubungan Iran-China Lewat Propaganda Media?

Apa Alasan Sebenarnya AS dan Barat Tebar Fobia, Halangi Hubungan Iran-China Lewat Propaganda Media?

POROS PERLAWANAN – Mayoritas analis politik dan ekonomi di dunia berpendapat, China tak lama lagi akan mengambil alih peran pemimpin ekonomi dunia dari tangan AS.

Kendali ekonomi adalah faktor kunci yang membuat AS menyingkirkan Eropa pada abad 20 serta menggunakan sektor militer dan ekonomi guna memperluas hegemoninya.

Meski demikian, hegemoni AS mulai memudar dalam beberapa dekade terakhir, menyusul pertumbuhan cepat ekonomi China.

Pasca runtuhnya Uni Soviet dan perpindahan dari tatanan dua kutub dunia ke hegemoni politik, ekonomi, dan budaya neoliberalisme yang dipandu AS, kini dunia menyaksikan kemunculan berbagai dinamika baru seiring terjadinya perubahan besar dalam tatanan internasional. Banyak analis menilai, pandemi Corona dan dampaknya telah mempercepat perubahan ini.

Banyaknya perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini, baik besar maupun kecil, telah memengaruhi hubungan antara China dan Barat yang dipimpin AS.

Pada hakikatnya, kelompok elit politik, ekonomi, dan sains AS sudah lama menyadari bahaya kemunculan China. Mereka mencari-cari dan merancang rencana untuk memperlambat laju transformasi China menjadi kekuatan pertama ekonomi dunia.

Oleh karena itu, AS di awal dekade kedua abad 21 memindahkan poros utama strategi keamanan nasionalnya dari Timur Tengah ke Asia Timur, agar bisa menghadapi bahaya potensial ini.

Kini AS harus bertarung dengan para naga China, padahal AS sendiri berperan dalam pertumbuhan mereka, karena Washington -dengan doktrin Nixon- membantu Beijing untuk memasuki ekonomi kapitalis dunia dan bergabung dengan Barat di akhir dekade 70-an. Hal ini juga berlanjut di masa pemerintahan Ford dan Bush.

Di masa itu, dengan menggandeng Partai Komunis untuk memperkuat fondasi ekonomi China, AS ibarat melempar dua burung dengan satu batu. Selain mencegah persekutuan China dan Soviet sebagai dua kutub sosialisme internasional, AS juga bisa membanggakan efektivitas sistem ekonomi kapitalis, karena mampu merekrut salah satu saingan dan seteru utama ideologinya.

Hal ini membuat Barat menutup mata atas dominasi politik-budaya Partai Komunis dan perbedaan sistem politik sekutu Timur baru mereka hingga periode pemerintahan Bill Clinton.

Para elit politik China, terutama pemerintahan sekarang yang dipimpin Xi Jinping, mengambil banyak kebijakan ambisius untuk memperluas jaringan hegemoni ekonomi Beijing di seluruh penjuru dunia.

Proyek utama yang digulirkan China adalah “Satu Sabuk Satu Jalur” (Road and Belt Initiative). Ini adalah mega proyek dengan investasi utama China yang tujuannya adalah memudahkan akses masuk ke pasar-pasar dunia. Proyek ini disambut baik banyak negara dunia, termasuk negara-negara sekutu Barat.

Washington, dan juga sebagian Pemerintah Barat di Eropa, berupaya untuk membendung proyek ini, sehingga menimbulkan perselisihan di tengah negara-negara Uni Eropa terkait penentuan kebijakan seragam untuk menghadapi China.

Barat melalui jaringan medianya mulai menebar phobia terkait dampak negatif bergabungnya negara-negara dunia dalam proyek China tersebut.

Barat berkoar, keikutsertaan dalam proyek itu akan “membahayakan kemandirian politik” negara-negara tersebut.

Barat juga mengklaim, bergabungnya negara-negara dunia akan membuat China mengintervensi urusan internal mereka. Partisipasi dalam proyek Road and Belt, kata Barat, bisa membuat negara-negara “berhutang kepada China” untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk proyek tersebut.

Peringatan semacam ini dikeluarkan negara-negara Barat, padahal mereka sendiri punya rekam jejak panjang dalam mengintervensi bukan hanya urusan negara-negara rival, tapi bahkan negara-negara sekutu mereka, terutama negara-negara berkembang.

Barat, terutama Pemerintah AS, dengan berbagai dalih sudah sering menginjak-injak kemerdekaan dan kedaulatan nasional negara-negara lain.

Banyak pakar berpendapat, keistimewaan dan keunggulan model yang digunakan China dalam kerjasama ekonomi ini adalah “tidak adanya intervensi isu politik dan budaya dalam mewujudkan dan mengembangkan hubungan ekonomi.”

Karakteristik inilah yang mendorong banyak negara dunia, dari Timur hingga Barat, tertarik menjalin kerjasama ekonomi dengan China.

Pada hakikatnya, kritik jaringan media Barat terhadap hubungan Iran-China akhir-akhir ini mengingatkan kita pada jenis hubungan “majikan dan pembantu” yang dijalankan negara-negara Barat dengan para sekutunya.

Contoh yang paling jelas adalah hubungan antara Saudi dan AS. Trump dengan nada merendahkan dan tanpa tedeng aling-aling kerap bicara soal status Saudi sebagai “sapi perah” Amerika.

Trump juga berkoar bahwa tanpa bantuan AS, Saudi tak bakal sanggup bertahan menghadapi ancaman meski hanya dalam kurun waktu satu minggu saja.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *