Loading

Ketik untuk mencari

Oseania & Asia

Beijing: Perusak Perdamaian Paling Berbahaya di Kawasan Strategis Regional itu Amerika, Bukan China

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, China mengecam intervensi Amerika Serikat dalam sengketa wilayah di Laut China Selatan, dengan mengatakan bahwa Washington mengobarkan ketegangan dan merupakan faktor “paling berbahaya” yang bekerja melawan perdamaian di kawasan strategis tersebut.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi membuat pernyataan melalui tautan video dengan para Menteri Luar Negeri pada KTT ke-10 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada hari Rabu.

“Perdamaian dan stabilitas adalah kepentingan strategis terbesar China di Laut China Selatan. Itu juga merupakan aspirasi strategis bersama antara China dan negara-negara ASEAN,” kata Wang.

“China berharap negara-negara di luar Kawasan, termasuk Amerika Serikat, menghormati sepenuhnya keinginan dan harapan negara-negara di Kawasan, bukannya menciptakan ketegangan dan mencari keuntungan darinya,” tambahnya.

Wang mengatakan bahwa AS terus-menerus memamerkan kekuatan militer dan memperkuat kehadirannya di Laut China Selatan dan menjadi pendorong terbesar militerisasi daerah tersebut. Oleh karenanya menurut Wang, AS pantas disebut sebagai faktor “paling berbahaya” dalam merusak perdamaian regional.

Diplomat top China menyebut bahwa Amerika Serikat telah mencampuri upaya China dan ASEAN untuk menyelesaikan sengketa teritorial dan maritim melalui konsultasi, yang memicu konfrontasi antarnegara di Kawasan.

Bulan lalu, Pemerintah AS memasukkan 24 perusahaan dan individu China ke daftar hitam atas apa yang diklaimnya sebagai konstruksi dan tindakan militer di Laut China Selatan. Langkah-langkah pembatasan itu adalah pertama kalinya oleh Washington terhadap Beijing atas jalur perairan strategis yang disengketakan.

Laut China Selatan adalah pintu gerbang ke rute laut utama, yang dilalui perdagangan senilai sekitar 3,4 triliun dolar setiap tahun. China mengklaim kedaulatan atas sebagian besar jalur air strategis ini dan sejak 2014 membuat pulau-pulau buatan di atas terumbu karang dan membangun pangkalan militer di atasnya.

Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Brunei memiliki klaim yang tumpang tindih dengan China untuk beberapa bagian laut.

Amerika Serikat, yang berpihak pada saingan Beijing dalam sengketa maritim ini, secara rutin mengirim kapal perang dan pesawat tempurnya ke Laut China Selatan untuk menegaskan apa yang disebutnya hak kebebasan navigasi, meningkatkan ketegangan di antara negara-negara sekitar.

China telah berulang kali memperingatkan AS untuk menghentikan aktivitas militernya di Laut China Selatan, dengan mengatakan bahwa potensi pertemuan militer antara pasukan Angkatan Udara dan Angkatan Laut kedua negara di kawasan itu dapat memicu kecelakaan.

Tags: