Loading

Ketik untuk mencari

Afrika

Corona Tak Sanggup Hentikan Perang di Libya

Libya Civil War 2

POROS PERLAWANAN – Kendati banyak tuntutan dari dunia internasional agar pihak-pihak yang berkonflik menghentikan perang di Libya di tengah pandemi Corona, sejumlah titik di selatan Tripoli (Ibu Kota Libya) masih menjadi ajang pertempuran dua pasukan bersenjata.

Pusat informasi operasi Burkan al-Ghadhab (Lava Kemarahan), yang berafiliasi kepada pasukan pemerintah Kesepakatan Nasional, pada Sabtu 28 Maret memberitakan serangan ke ruang komando pasukan Khalifa Haftar di kawasan al-Washka.

Dikutip dari Mashregh News, serangan itu dilancarkan hanya sehari setelah kontak senjata antara dua pasukan tersebut dan terbunuhnya puluhan serdadu dari kedua belah pihak.

Menurut laporan stasiun televisi al-Jazeera, sebuah nirawak milik Pemerintah dan dua pesawat tempur Haftar saling berbalas serangan di al-Washka dan Abu Qurayn. Dua kawasan itu terletak antara dua kota Sirte dan Misrata.

Pertempuran sengit terjadi pada hari Jumat 27 Maret antara kedua belah pihak di barat Sirte. Sejumlah serdadu tewas dalam pertempuran tersebut. Pihak pemerintah Kesepakatan Nasional mengklaim, salah satu yang tewas adalah Ali Sayda al-Tabawi. Al-Tabawi merupakan orang dekat Haftar dan penanggung jawab perekrutan serdadu Afrika, terutama dari Chad dan Sudan, untuk dilibatkan dalam perang Libya.

Sejumlah sumber menyatakan, jumlah serdadu Haftar yang terbunuh mencapai lebih dari 40 orang. Di lain pihak, lebih dari 23 serdadu pasukan Pemerintah tewas dalam pertempuran tersebut.

Sebelum ini, 27 anggota pasukan Haftar ditawan dalam sebuah operasi di pangkalan udara al-Wathiyah di barat daya Tripoli.

Juru bicara pasukan Pemerintah mengumumkan, mereka berhasil menyita sejumlah kendaraan lapis baja dan tank pasukan Haftar di kawasan Abu Qurayn di timur Misrata.

Di lain pihak, Mike Pompeo dalam perbincangan dengan Josep Borrel (perwakilan Uni Eropa untuk Kebijakan Luar Negeri) mengutarakan kekhawatirannya terkait memanasnya konflik di Tripoli. Menlu Amerika tersebut menyatakan, negaranya menyambut baik upaya Uni Eropa untuk memberlakukan embargo senjata atas Libya.
Libya menjadi kancah perang sengit di Afrika Utara pasca pemberontakan yang berujung pada terbunuhnya Muammar Qadhafi pada 2011 lalu. Apa yang terjadi pada Qadhafi semestinya menjadi pelajaran bagi negara mana pun yang ingin menjalin transaksi dengan Amerika. Tripoli menghentikan program pengayaan nuklirnya setelah terbuai iming-iming Washington terkait peningkatan kesejahteraan Libya. Kenyataannya, Amerika justru berada di belakang para pemberontak yang menggulingkan kekuasaan Qadhafi.
Dirampoknya sumber-sumber alam Libya, hancurnya infrastruktur negara tersebut, dan hilangnya nyawa puluhan ribu orang adalah buah dari intervensi Amerika dan sekutunya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *