Dari Lebanon hingga Pengayaan Uranium: Ketika AS Terpaksa Berikan Konsesi kepada Iran
POROS PERLAWANAN – Meskipun pada awalnya AS dan Israel memulai perang dengan tujuan mengubah perimbangan regional dan menekan Iran, hasil akhirnya justru menunjukkan bahwa banyak syarat, yang awalnya ditolak oleh AS, kini menjadi bagian dari kerangka kesepakatan.
Dilansir Fars, tujuan utama AS dan Israel adalah memisahkan medan pertempuran (Gaza, Lebanon, dan Iran) agar dikelola sebagai isu-isu yang terpisah. Namun, perkembangan lapangan dan politik membuktikan bahwa segala kesepakatan mengenai Iran secara tidak langsung terikat dengan front lainnya. Iran menekankan, keamanan Kawasan saling bergantung. Tidak ada mekanisme keamanan yang stabil tanpa memperhatikan semua isu di Kawasan.
Meskipun Israel sempat menyerang pinggiran selatan Beirut (Dahieh) untuk mengacaukan kesepakatan dan memisahkan Front Lebanon, Iran memberikan ancaman balasan. Pihak perantara juga berhasil meredam ketegangan. Nota kesepahaman akhirnya diumumkan, dengan poin penting berupa penghentian perang di semua front, termasuk Lebanon. Media Israel menyebut ini sebagai “kekalahan strategis” bagi Tel Aviv. Salah satu tambahan penting dalam dokumen tersebut adalah klausul “jaminan kedaulatan dan penghormatan terhadap integritas wilayah Lebanon.” Kabarnya, pasal ini sempat ditentang Trump dalam nota-nota sebelumnya.
Perdebatan mengenai Selat Hormuz berakhir dengan penerimaan AS terhadap syarat-syarat Iran, bukan sebaliknya. Dokumen final menetapkan bahwa masa depan pengelolaan layanan pelayaran di Selat Hormuz akan ditentukan oleh Iran dan Oman. Penggunaan istilah “layanan laut dan navigasi” memiliki implikasi hukum di mana Iran berhak menerima biaya layanan dari kapal yang melintas, meskipun ada pengecualian sementara selama 60 hari untuk kapal komersial.
Sumber lain juga mengatakan kepada Tasnim bahwa Trump bersikeras agar pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade dilakukan secara bersamaan dan segera setelah pengumuman nota kesepahaman. Namun, Iran menolak usulan itu. Disepakati bahwa proses pembukaan kembali Selat Hormuz akan dimulai setelah penandatanganan kesepakatan pada hari Jumat 19 Juni mendatang.
Awalnya, Trump mengumumkan di media sosial bahwa Selat Hormuz dan blokade telah berakhir secara bersamaan. Tetapi setelah mendapat peringatan dari Iran melalui perantara Pakistan, ia mengoreksi pesan tersebut dan menulis bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah hari Jumat.
Aset Iran, yang sebelumnya dibekukan sebagai alat tekanan ekonomi, kini menjadi bagian dari paket kesepakatan. Laporan menyebutkan bahwa AS setuju untuk membuka blokir aset senilai $25 miliar dan menangguhkan sanksi minyak untuk periode tertentu agar Iran dapat mengekspor minyak dan menerima pendapatan.
AS dan Israel awalnya menuntut penghentian total program nuklir Iran. Namun, kesepakatan ini justru bergeser ke arah “mempertahankan status quo” selama proses negosiasi berlangsung, seperti tidak memperluas fasilitas nukli atau meningkatkan pengayaan selama proses perundingan. Iran berhasil memindahkan pembahasan isu nuklir ke tahap kedua negosiasi, membatasi lingkup perundingan hanya pada tiga poros: keberlangsungan program nuklir damai, pencabutan sanksi sepihak AS, dan mekanisme kompensasi. Beberapa isu krusial lain, seperti kemampuan rudal Iran atau dukungan untuk faksi-faksi Perlawanan, sama sekali tidak masuk dalam pembahasan.
Berbagai media Israel, seperti surat kabar Maariv, menyatakan bahwa Iran adalah “pemenang besar” dalam kesepakatan ini. Alasannya, program nuklir tidak dibongkar, rudal balistik tetap dipertahankan, aset cair kembali, dan pengaruh regional tetap kuat. Analis militer Israel, Alon Ben David, juga mengakui, zona keamanan yang diciptakan Israel di selatan Lebanon gagal memberikan keamanan yang diharapkan.
Tanpa melihat berbagai penilaian sejumlah pihak, konten kesepahaman ini menunjukkan, AS yang memulai perang untuk memaksakan perimbangan baru di Kawasan, kini merosot ke posisi yang memaksa mereka menerima banyak syarat yang sebelumnya ditolak Washington. Iran dinilai berhasil mempertahankan elemen penting dari kekuatan politik, ekonomi, dan strategisnya, terutama prinsip “persatuan medan-medan pertempuran” (Unity of Fields).
