Perwira Intelijen Zionis: Berlanjut atau Berhentinya Perang Sama Buruknya bagi Israel
POROS PERLAWANAN – Seorang mantan perwira intelijen Militer Israel, Dani Sitrinovich dalam wawancara dengan Carnegie Foundation menjelaskan, serangan terhadap Iran merupakan hasil dari kombinasi “informasi yang benar dengan kebijakan yang salah”, yang oleh Netanyahu “dijual” kepada Trump dalam bentuk gambaran impian tentang runtuhnya Iran. Dia mengakui bahwa dengan perang ini, Iran kini menjadi lebih kuat dan Israel menghadapi krisis legitimasi yang serius.
Fars melaporkan, Sitrinovich menjelaskan bagaimana Netanyahu menggabungkan perkiraan intelijen Badan Spionase Israel dengan keinginan pribadinya. Netanyahu menyajikan gambaran tentang Iran yang sama sekali tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Dengan janji runtuhnya politik dan militer Iran secara cepat kepada Trump, ia meyakinkan Amerika untuk bekerja sama melawan Iran dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya
.
Dia menekankan, meskipun ada kerja sama militer yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kerusakan yang dipaksakan pada Teheran ini, Iran tidak hanya mampu mempertahankan kelangsungan hidup dan kesatuannya, tetapi juga berhasil memberikan kerugian besar kepada Amerika dan Israel dengan mengandalkan geografi unik dan kemampuan militer lokalnya, Selain itu, Iran juga “mengubah” geografisnya menjadi basis pembuatan senjata dan menciptakan situasi yang pengembalian keadaan seperti semula menjadi tidak mungkin.
Menurutnya, akar kesalahan besar di awal perang bukanlah minimnya informasi, melainkan “mengubah informasi menjadi penilaian yang dipolitisasi”, yang menciptakan kesalahan besar dalam perhitungan Israel. Dia mengeklaim, Israel dan Amerika memiliki keunggulan intelijen yang jelas dibandingkan Iran, bahkan berhasil membunuh sebagian dari pimpinan militer dan pengambil keputusan Iran. Namun, keunggulan intelijen tidak selalu berarti penilaian yang benar.
Dia berpendapat, masalah utama muncul ketika data intelijen yang akurat bercampur dengan tujuan politik Netanyahu, terutama usahanya untuk meyakinkan Trump agar ikut dalam serangan terhadap Iran.
Akibatnya, asumsi-asumsi seperti kemungkinan perubahan rezim, aktifnya protes jalanan, peran Kurdi, kehancuran cepat kapasitas rudal Iran, dan ketidakmampuan Teheran menutup selat, bukan berdasarkan penilaian realistis, melainkan berdasarkan harapan politik dan “penjualan” skenario yang diinginkan ke Gedung Putih. Sitrinovich menekankan, kombinasi informasi, politik, dan motif pribadi inilah yang menempatkan perang sejak awal pada dasar asumsi yang bermasalah dan optimistis.
Sitrinovich kemudian memfokuskan analisisnya pada konsekuensi terbalik dari perang dalam kasus nuklir Iran. Dia mengatakan, perang yang tampaknya dimulai untuk mencegah Iran bergerak menuju senjata nuklir, justru bisa menghasilkan hasil yang berlawanan. Menurut pandangannya, setelah keluarnya Amerika Serikat dari JCPOA (Perjanjian Nuklir Iran), pengembangan sentrifugal canggih, peningkatan tingkat pengayaan uranium, dan akumulasi pengetahuan teknis, Iran berada dalam posisi di mana kemampuan nuklirnya tidak bisa lagi dihancurkan hanya dengan pengeboman, karena pengetahuan nuklir telah masuk ke dalam pikiran dan struktur ilmiah negara dan tidak bisa dihapus secara fisik.
Dia memperingatkan, serangan Amerika dan Israel, bukannya membuat Teheran mundur, malah bisa memperkuat kesimpulan dalam Pemerintahan Iran bahwa satu-satunya jaminan nyata untuk mencegah serangan di masa depan adalah melewati ambang nuklir atau setidaknya mencapai status nuklir laten.
Oleh karena itu, Sitrinovich berpendapat bahwa opsi terbaik yang ada bukan melanjutkan perang, melainkan sebuah kesepakatan yang dapat mengencerkan atau membekukan bahan yang diperkaya, mengembalikan inspeksi, dan memblokir jalur Iran menuju senjata nuklir sejauh mungkin. Meskipun kesepakatan semacam itu jauh lebih lemah dibandingkan peluang yang hilang sebelum perang.
Mantan perwira militer Zionis itu menggambarkan kohesi dan penguatan Republik Islam sebagai konsekuensi lain dari perang ini. Dia menjelaskan bahwa sebelum perang, tekanan ekonomi, ketidakpuasan sosial, dan kesulitan dalam memenuhi tuntutan domestik menjadi tantangan utama bagi Pemerintahan Iran. Tetapi dengan dimulainya perang, sebuah kesempatan baru muncul, yang dengan mengandalkan logika pertahanan negara, mampu memperkuat basis sosial Pemerintahan dan mengurangi kemungkinan terjadinya protes internal.
Dia meyakini, pada saat yang sama, struktur pengambilan keputusan di Teheran juga berubah. Bergerak dari model yang lebih terpusat sebelumnya ke pola yang lebih keras, lebih berorientasi keamanan, dan militer; sebuah pola di mana unsur-unsur militer dan keamanan memiliki pengaruh lebih besar pada keputusan akhir. Kesiapan Pemerintah untuk menggunakan kekerasan langsung, termasuk terhadap Israel, Amerika, dan lingkungan regional, juga meningkat.
Menurut pandangan Sitrinovich, perang baru-baru ini tidak hanya gagal membangun kembali daya tahan Amerika dan Israel, tetapi justru sangat mengikisnya, karena Iran berdiri teguh melawan pertunjukan kekuatan militer gabungan terbesar Amerika dan Israel. Benar Iran juga mengalami kerusakan, tetapi juga memberikan kerusakan dan menjadi lebih solid.
Dia percaya bahwa ketika Teheran melihat bahwa Amerika dan Israel selama 39 hari perang melakukan hampir semua yang mereka bisa, tetapi gagal mencapai hasil, wajar jika kekhawatiran Iran sebelumnya tentang serangan militer berkurang.
Sitrinovich kemudian menunjuk pada keterbatasan mendasar dari tekanan militer. Dia menegaskan bahwa tanpa pendudukan darat yang luas, tidak ada tingkat tekanan apapun yang dapat memaksa Republik Islam menyerah dalam masalah-masalah vital. Itu karena Teheran menganggap pengayaan uranium, rudal, dukungan terhadap pasukan Perlawanan, dan kontrol alat geopolitik sebagai pilar kelangsungan hidup Iran.
Oleh karena itu, ancaman lebih lanjut, pengepungan laut, atau tekanan ekonomi mungkin memang menimbulkan biaya bagi Iran, tetapi tidak mengubah perhitungan utama Republik Islam. Hal itu justru bisa mendorongnya ke arah perlawanan yang lebih panjang atau bahkan eskalasi ketegangan, karena dari sudut pandang Teheran, konflik ini bersifat eksistensial. Baginya, mundur dari pilar kekuasaan sama dengan menerima jalan kehancuran.
Penilaian dari pakar keamanan Israel ini mengenai masa depan krisis ini mencakup serangkaian “pilihan buruk”. Dia berpendapat bahwa jika perang berhenti pada titik ini, hal itu tidak bisa dianggap sebagai keberhasilan strategis bagi Washington atau Tel Aviv. Dari sudut pandangnya, Israel membangun strateginya terhadap Iran dengan asumsi bahwa dengan mengandalkan kekuatan militer sendiri dan dukungan Amerika, mereka bisa memecah belah Iran. Namun dalam praktiknya, baik serangan berat Israel maupun keterlibatan luas Amerika, gagal mencapai tujuan tersebut. Mengulangi tingkat dukungan Amerika seperti itu di masa depan juga akan sangat sulit.
Di sisi lain, Trump menghadapi situasi tanpa solusi yang menguntungkan: dia harus memilih antara mencapai kesepakatan yang tidak sempurna dengan Pemerintahan yang ingin dijatuhkannya, melanjutkan ketidakstabilan saat ini dan menghadapi Iran yang lebih berani dan tangguh, atau kembali ke perang dan menerima konsekuensi ekonomi dan regional yang berat.
Menurut pandangan analis Zionis tersebut, salah satu pencapaian terpenting Iran dalam perang ini adalah mengubah geografi menjadi alat kekuatan. Sitrinovich memperingatkan bahwa setelah “membuat senjata dari geografi,” tidak mudah mengembalikan kondisi ke keadaan sebelumnya.
Menurutnya, Iran telah menunjukkan bahwa kedekatan geografis negara-negara Teluk, jalur pelayaran, dan selat dengan wilayah serta kemampuan rudal dan maritim negara ini, telah menciptakan kerentanan permanen bagi Amerika dan sekutunya. Teheran juga masih memiliki alat rudal dan geopolitik yang cukup untuk memengaruhi lalu lintas di selat-selat.
Sitrinovich mengaitkan hal ini dengan keterbatasan umum kekuatan militer. Dia mengatakan, masalah Israel dan Amerika adalah mereka mengira keunggulan intelijen, pesawat tempur, operasi presisi, dan kemampuan membunuh komandan serta pemimpin Iran bisa menggantikan diplomasi dan penyelesaian politik. Padahal kekuatan militer jika tidak terhubung dengan mekanisme politik, kesepakatan, manajemen krisis, atau pengaturan keamanan yang berkelanjutan, hanya akan menimbulkan biaya dan bahkan bisa membuat musuh menjadi lebih berani.
Akhirnya, pakar keamanan Israel ini mengeklaim bahwa krisis legitimasi di Israel adalah salah satu dampak strategis terpenting dari perang ini. Dia menekankan bahwa saat ini, erosi posisi politik, moral, dan internasional Israel, bersama dengan bahaya regional lainnya, mengancam keberadaan Israel. Erosi ini diperparah oleh perang beruntun di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan kini Iran.
Sitrinovich memperingatkan bahwa sekadar mengandalkan pesawat tempur, operasi intelijen, dan logika “membunuh semua pasukan musuh” bisa membuat Israel efektif secara militer, tetapi juga membuatnya semakin terisolasi dan rentan secara politik. Oleh karena itu, ancaman nyata adalah jika Israel menghabiskan pencapaian militernya tanpa mengubahnya menjadi mekanisme politik, dalam siklus perang tanpa akhir, dan akhirnya menghadapi krisis legitimasi yang menjadi ancaman strategis bagi keamanan nasional Israel.
