Loading

Ketik untuk mencari

Iran Oseania & Asia

Di Medan Persaingan Front Timur vs Front Barat, Iran-China akan Akhiri Hegemoni AS-Israel dalam Waktu Dekat

Di Medan Persaingan Front Timur vs Front Barat, Iran-China akan Akhiri Hegemoni AS-Israel dalam Waktu Dekat

POROS PERLAWANAN – Mantan Dubes Irak di Qatar, Dr. Jawad al-Handawi, dalam tulisannya di Rai al-Youm membandingkan Front Barat, yang diwakili AS dan Israel, dengan Front Asia yang direpresentasikan Iran dan China.

Dilansir Fars, al-Handawi menilai bahwa tradisi, warisan sejarah, budaya, dan sosial akan memengaruhi perilaku politik invidu, masyarakat, dan pemerintah. China sebagai sebuah masyarakat, berbeda dengan AS sebagai sebuah masyarakat lain. Perbedaan subtansial ini bisa disaksikan dalam perilaku sipil dan politik kedua bangsa tersebut.

“AS dan Israel memiliki kesamaan dalam hal warisan imperialisme dan penjajahan. Keduanya didirikan dengan mengusir para penduduk asli. Kesamaan ini menyebabkan kesamaan dalam perilaku politik mereka,” tulis al-Handawi.

Dia juga menyebut kemiripan AS-Israel dalam penyulutan api perang, konspirasi, dan pelanggaran hukum internasional. Sebab itu, tulis al-Handawi, AS dan Israel adalah dalang semua perang pasca Perang Dunia II, sebab mereka selalu mengabaikan resolusi-resolusi internasional.

“AS dan Israel saling melengkapi dalam rencana-rencana yang membahayakan keamanan serta stabilitas regional dan internasional. Rencana-rencana seperti Timur Tengah Raya, Perang Yaman, dukungan terhadap terorisme, agresi ke Suriah, Irak, dan Lebanon, konspirasi atas Venezuela, distorsi isu Palestina, dan selainnya,” tegas al-Handawi.

Di hadapan Front Barat ini, lanjutnya, muncul sebuah Front Asia yang sangat kuat di kancah internasional dan menjunjung norma-norma yang berbeda dengan Barat. Front itu adalah China di level internasional dan Iran di level regional.

Menurut al-Handawi, kekuatan China dan Iran berasal dari warisan budaya dan peradaban kuno mereka. Keduanya merupakan negara dengan latar belakang yang sangat panjang. Iran dan China mempraktikkan kebijakan kesabaran strategis dan kerja sama dengan bangsa-bangsa lain, bukan kebijakan imperialis atau pemberlakuan sanksi.

Diplomat Irak ini menyatakan, China sanggup menyaingi AS, bahkan mengunggulinya dalam sektor ekonomi. Iran pun mampu menjaga pengaruh regionalnya berkat kebijakan kesabaran strategis dan semangat perlawanan, walau harus menghadapi embargo, intervensi asing, dan terorisme.

“Dalam proyek besar ChIna yang dikenal dengan OBOR (One Belt One Road), Iran berada di sentral jalur internasional di kawasan Timteng untuk distribusi energi. Hal ini akan memperkuat pengaruh regional Iran, juga menambah ketangguhan Front Asia. Proyek ini akan merugikan kepentingan AS dan para sekutu regionalnya, terutama Israel dan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk,” tandas al-Handawi.

Di akhir tulisannya, al-Handawi menyatakan, implementasi proyek OBOR plus pertumbuhan ekonomi China, perkembangan teknologi dan militer Iran, serta eksistensi politik-militer Rusia, akan menjadi faktor-faktor yang membuat AS dan Israel kehilangan hegemoni mereka di dunia dan Kawasan dalam waktu dekat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *