Loading

Ketik untuk mencari

Profil

Ernesto ‘Che’ Guevara, Sang Pengembara dan Pemilih Jalan Pembebasan

POROS PERLAWANAN – Ernesto ‘Che’ Guevara adalah seorang revolusioner yang getol memperjuangkan nilai-nilai kerakyatan dan kemanusiaan. Sosoknya dikenal sebagai penentang westernisasi dan Kapitalisme, paham-paham yang ia dapati setelah berkelana menyusuri negara-negara Amerika Latin dan menemukan banyak ketimpangan sosial akibat penerapan paham Kapitalisme negara-negara Barat dan Amerika Serikat.

Ernesto Guevara de la Serna yang lahir pada 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina, merupakan anak dari pasangan bangsawan Ernesto Guevara Lynch dan Celia de la Serna y Llosa. Ayahnya adalah seorang pemikir dan pendukung kaum Republikan pada masa perang Spanyol.

Sejak kecil, Guevara dibesarkan dengan perspektif politik sayap kiri yang dianut keluarganya.

Sejak belia, Guevara sudah gemar membaca buku-buku berideologi kiri karangan penulis tersohor seperti Karl Marx, Albert Camus, hingga Vladimir Lenin.

Pada 1948 ketika berusia 20 tahun, Guevara yang memiliki nama panggilan “Che” ini masuk ke Universitas Buenos Aires untuk belajar ilmu kedokteran, namun belum selesai studinya, Guevara memilih untuk mengambil cuti kuliah guna memenuhi keinginannya menjelajah dunia.

 

Pada 1950, Guevara memulai petualangan menyusuri Amerika Latin dengan sepeda motornya. Dari Argentina, ia melakukan perjalanan melewati Cile, Peru, Ekuador, Kolombia, Venezuela, Panama, Miami dan setelah singgah beberapa waktu di Flordia, Amerika Serikat, Guevara memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Selama perjalanan, Guevara banyak menemukan rakyat yang terjerat kemiskinan, kelaparan, dan sakit-sakitan. Dari sinilah tekad pembebasannya muncul.

Guevara melihat banyak kesamaan dari negara-negara Amerika Latin dari segi kebudayaan dan perekonomian. Dia berpandangan bahwa kesengsaraan ini tidak bisa dibiarkan dan memerlukan strategi untuk mengakhirinya.

Selepas menyelesaikan studi kedokterannya di Universitas Buenos Aires pada 1953, Guevara melanjutkan petualangannya. Kali ini dr. Ernesto Guevara mengunjungi Guatemala. Di sana ia bertemu dengan Presiden Jacobo Arbenz. Guevara senang dengan kebijakan reformasi agraria Arbenz yang mendistribusikan tanah secara merata kepada rakyatnya, namun, kebijakan ini mengusik kepentingan perusahaan perkebunan milik AS, Union Fruit Company.

Maka diutuslah CIA untuk menyebarkan propaganda anti Presiden Arbenz dan benar saja, pada 1954 kudeta atas kepemimpinan Arbenz terjadi. Tentara bayaran yang dibentuk oleh CIA berhasil menjatuhkan Arbenz dan menaikkan Presiden baru, Guillermo Armas.

Kejadian ini menyadarkan Guevara bahwa Amerika Serikat adalah negara Imperialis dan Kolonialis rakus dan kejam yang justru tidak menyukai model pemerintahan pemberantas ketimpangan seperti Arbenz. Momen ini seperti menjadi deklarasi emosional bagi Guevara bahwa ia bertekad untuk menempuh jalan revolusi demi menumbangkan kesombongan Amerika Serikat.

Babak baru perjalanan Guevara dimulai ketika ia meninggalkan Guatemala dan pergi ke Meksiko. Di sana ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama dengan dirinya, yaitu Fidel dan Raul Castro. Castro bersaudara berada di Meksiko untuk mempersiapkan penggulingan Presiden Kuba boneka AS, Fulgencio Batista.

Tanpa pikir panjang, Guevara memutuskan untuk bergabung dengan gerakan Castro yang bernama “Gerakan 26 Juli”. Dwitunggal Fidel Castro-Guevara lantas pergi ke Kuba dan mengangkat senjata bersama-sama dengan pasukan gerilyawan demi menumbangkan Pemerintahan Batista.

Akhir manis yang ia dapat, Batista berhasil digulingkan dan barisan revolusioner Kuba menguasai negara.

Berkat andilnya, Guevara yang berkebangsaan Argentina didapuk menjadi Presiden Bank Nasional Kuba dan setelahnya diangkat menjadi Menteri Industri.

Semasa menjabat, kegemarannya mengembara tidak luntur. Guevara melakukan perjalanan keliling dunia sebagai duta Kuba dan mengunjungi negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia.

Guevara juga mendapat kesempatan untuk berpidato pada sidang PBB. Dalam pidatonya, ia mengungkapkan kejengkelannya kepada PBB yang membiarkan apartheid terjadi di Afrika dan tentang nasib bangsa Amerika Latin yang terus dilanda kesengsaraan akibat dominasi Kapitalisme Amerika Serikat.

Saat berkunjung ke Indonesia, Guevara bertemu langsung dengan Presiden Soekarno. Keduanya memiliki banyak kesamaan pemikiran terutama yang berkaitan dengan anti-Imperialisme dan neo-Kolonialisme Amerika.

Sejak saat itu, Guevara dan Soekarno berkawan baik, bahkan mereka saling bertukar cendera mata yakni topi jet Guevara ditukar dengan tongkat milik Bung Karno.

Berhasil melakukan revolusi dan mendapat jabatan tidak lantas membuat Guevara berpuas diri. Api pembebasan yang terus bergelora dalam dirinya membuat ia memilih untuk meletakkan semua jabatannya pada 1965. Guevara lebih senang untuk mengembara dan menyebarkan semangat revolusi ke negara-negara yang ia rasa membutuhkannya.

Pada tahun yang sama, Guevara bepergian ke Kongo untuk melaksanakan misi revolusinya. Ia secara sukarela melatih pasukan pemberontak agar bisa berperang gerilya, namun karena beberapa faktor, tujuan mulia tersebut gagal.

Mendengar ada gejolak di tanah Amerika Latin yang sangat ia cintai, Guevara langsung bertolak ke Bolivia untuk bergabung dengan kelompok pemberontak terhadap Pemerintahan René Barrientos Ortuno.

Keberadaannya di antara kelompok pemberontak tercium oleh Amerika Serikat, yang lantas mengirim CIA bersama tentara Bolivia untuk memburu Guevara. Akibat kekuatan yang tidak seimbang, kelompok pemberontak akhirnya terdesak dan Guevara tertangkap.

Dua hari setelah tertangkap, Guevara dijatuhi hukuman mati tanpa proses pengadilan. Ironisnya, sebelum ajal menjemput, Guevara masih menyempatkan untuk berbincang dengan seorang guru SD yang ia temui. Guevara menyampaikan tentang keprihatinannya terhadap fasilitas sekolah anak-anak yang tidak layak sementara para pejabat hidup bermewah-mewahan.

Pada 9 Oktober 1967, timah panas dari senjata Karabin M1 buatan Amerika Serikat bersarang di kedua lengan, kaki, dan dada yang merobek paru-paru El Komandante. Dikabarkan bahwa sang eksekutor memang sengaja diminta untuk tidak menembak kepala, agar terlihat seperti tewas dalam pertempuran dan bukan karena eksekusi tembak mati.

Raganya mungkin sudah tiada, namun semangatnya masih dapat kita rasakan hingga kini. Tidak hanya di Amerika Latin, Guevara menjadi ikon perlawanan dunia.

Kisah hidupnya banyak menginspirasi orang untuk menjadi berani. Bahkan hingga kini, tidak sulit bagi kita untuk menemukan foto wajah Guevara yang sedang menghisap cerutu khas Kuba di mural-mural atau baju anak-anak muda.