Ghalibaf Tegaskan MoU Iran-AS Prioritaskan Pengakhiran Perang dan Kedaulatan Lebanon
POROS PERLAWANAN — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa penghentian perang di Lebanon serta perlindungan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah negara itu merupakan bagian utama dari butir pertama Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang telah disepakati antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut laporan Press TV, pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf, yang juga memimpin tim perunding Iran dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, saat melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, pada Minggu 28 Juni. Percakapan berlangsung di tengah berlanjutnya serangan udara Israel terhadap Lebanon dan laporan mengenai persiapan Rezim Zionis untuk mempertahankan pendudukan jangka panjang di wilayah selatan Lebanon.
“Tujuan kami adalah mengakhiri perang di Lebanon, membantu para pengungsi kembali ke rumah mereka, mengakhiri pendudukan, serta memastikan penarikan pasukan Rezim Zionis dari wilayah Lebanon,” ujar Ghalibaf.
Ia kembali menegaskan keseriusan Republik Islam Iran dalam mengupayakan terwujudnya tujuan tersebut melalui jalur diplomasi.
Ghalibaf menjelaskan bahwa selama perundingan di Swiss, delegasi Iran secara khusus mengangkat berbagai pelanggaran terhadap Nota Kesepahaman yang terjadi di Lebanon. Sebagai tindak lanjut, para pihak menyepakati pembentukan Unit Dekonfliksi (Deconfliction Unit) yang terdiri atas Iran, Amerika Serikat, dan Lebanon untuk memantau implementasi butir Nota Kesepahaman yang berkaitan dengan Lebanon.
Pada 17 Juli, Iran dan Amerika Serikat secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman yang dimediasi Pakistan. Dokumen yang memuat 14 butir kesepakatan itu mencakup penghentian permanen seluruh aksi permusuhan di berbagai front, termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari, serta pemulihan lalu lintas perdagangan melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan Nota Kesepahaman tersebut, kedua negara juga memasuki masa negosiasi selama 60 hari dengan tujuan mencapai kesepakatan komprehensif yang bersifat final.
Sementara itu, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri menyampaikan apresiasi atas sikap Iran dan upaya tim perunding Iran dalam memperjuangkan kepentingan rakyat Lebanon selama proses negosiasi di Swiss.
Namun demikian, Berri memperingatkan bahwa Rezim Zionis berupaya menghindari pelaksanaan ketentuan Nota Kesepahaman yang berkaitan dengan kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon melalui berbagai mekanisme alternatif.
Ia juga menyebut kesepakatan yang dimediasi Washington antara Lebanon dan Rezim Israel sebagai bentuk konspirasi yang berpotensi memecah-belah Lebanon.
Di akhir pembicaraan, Ghalibaf dan Berri sama-sama menekankan pentingnya penyelenggaraan pertemuan Unit Dekonfliksi dalam waktu dekat guna mengawasi pelaksanaan Nota Kesepahaman yang dimediasi Pakistan, sekaligus mempercepat penghentian perang di Lebanon serta memastikan penghormatan terhadap kedaulatan negara tersebut.
