Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Misi Gagal AS: Target ‘Pengayaan Nol’ Iran Berakhir Tanpa Hasil

POROS PERLAWANAN — Tulisan ini merupakan adaptasi dalam bahasa Indonesia dari artikel analisis yang diterbitkan Press TV pada Minggu 28 Juni, oleh Press TV Website Staff dengan judul “Mission unaccomplished – Part V: US war goal of Iran’s ‘zero enrichment’ produces zero results”. Adaptasi ini mempertahankan alur argumentasi dan substansi naskah asli.

Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel bersikeras bahwa setiap kesepakatan akhir dengan Republik Islam Iran harus mengakhiri kemampuan negara itu untuk melakukan pengayaan uranium. Tuntutan “zero enrichment” (pengayaan nol) diposisikan sebagai garis merah yang tidak dapat ditawar.

Proyek “zero enrichment”, yakni tujuan strategis untuk mencabut kedaulatan nuklir Iran dijalankan melalui seluruh instrumen tekanan yang tersedia. Mulai dari sanksi ekonomi yang melumpuhkan, ancaman militer yang terus-menerus, operasi sabotase terbuka maupun terselubung, tekanan politik tanpa henti, hingga pada akhirnya penggunaan kekuatan militer secara penuh.

Dalam perundingan yang berujung pada tercapainya kesepakatan nuklir pada 2015 antara Iran dan kelompok P5+1, Iran bahkan menyetujui untuk membatasi pengayaan uranium hanya pada tingkat minimum. Langkah tersebut dipandang sebagai bukti kesediaan Teheran menempuh jalur diplomatik.

Namun, konsesi itu tetap tidak mampu mendorong Washington memenuhi komitmennya sendiri dalam perjanjian multilateral tersebut. Amerika Serikat justru menarik diri secara sepihak dari kesepakatan, kembali memberlakukan sanksi ekonomi yang melumpuhkan, dan memperlihatkan bahwa permusuhannya terhadap Iran tidak pernah benar-benar menjadi sesuatu yang dapat dinegosiasikan.

Pada Februari tahun ini, Amerika Serikat bersama proksi Zionisnya melancarkan agresi militer berskala penuh terhadap Republik Islam Iran. Menurut artikel ini, perang tersebut dirancang untuk menuntaskan tujuan yang belum tercapai, yakni penghancuran total program nuklir Iran.

Agresi tersebut dipandang sebagai kelanjutan dari serangan pada Juni tahun sebelumnya, ketika tiga fasilitas nuklir utama Iran dibombardir oleh Militer Amerika Serikat dalam upaya memberikan pukulan yang dianggap mematikan terhadap infrastruktur nuklir Iran.

Namun ketika opsi perang juga telah digunakan, posisi Iran justru dinilai muncul lebih kuat daripada sebelumnya. Seluruh instrumen tekanan yang dimiliki pihak lawan telah dikerahkan, tetapi gagal mencapai tujuan utamanya. Perang berskala penuh yang berlangsung hampir 40 hari tidak berhasil menghancurkan kemampuan nuklir Iran.

Kegagalan opsi militer—yang merupakan instrumen tekanan paling ekstrem, menegaskan apa yang sejak lama dinyatakan Iran, yakni bahwa hak nuklirnya tidak dapat dinegosiasikan, ketahanannya tidak dapat dipatahkan, dan kedaulatannya tidak diperjualbelikan dengan harga apa pun.

Seluruh Instrumen Tekanan Dicoba, Seluruhnya Gagal

Kampanye yang diarahkan terhadap program nuklir Iran, menurut artikel ini, berlangsung secara menyeluruh, baik dari sisi cakupan maupun intensitas pelaksanaannya. Berbagai instrumen tekanan digunakan secara bergantian maupun bersamaan dengan tujuan yang sama, yaitu memaksa Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya.

Sanksi ekonomi, yang terus diperketat selama bertahun-tahun, dirancang untuk mencekik perekonomian Iran dan memaksa negara itu tunduk pada tuntutan pihak lawan. Sanksi tersebut memang menimbulkan berbagai kesulitan, tetapi tidak pernah berhasil mematahkan tekad nasional Iran.

Ancaman penggunaan kekuatan militer, yang berulang kali dilontarkan dengan intensitas tinggi, dimaksudkan untuk menimbulkan efek gentar. Namun, menurut artikel ini, ancaman tersebut justru memperkuat tekad Iran untuk tetap melanjutkan jalur yang telah dipilihnya.

Berbagai operasi sabotase, termasuk serangan siber dan pembunuhan terhadap ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran, juga diarahkan untuk melumpuhkan program nuklir dari dalam. Serangkaian operasi itu memang menimbulkan kerusakan, tetapi tidak mampu menghentikan kemajuan yang telah dicapai Iran.

Di sisi lain, tekanan politik melalui berbagai lembaga internasional dan upaya isolasi diplomatik dimaksudkan untuk mendelegitimasi hak Iran atas program nuklirnya. Akan tetapi, langkah tersebut juga dinilai gagal mengubah kenyataan mendasar mengenai kemampuan nuklir Iran.

Ketika seluruh instrumen itu terbukti tidak memadai, Amerika Serikat dan Israel, menurut artikel ini, akhirnya memilih menggunakan instrumen tekanan yang paling ekstrem, yakni perang berskala penuh yang tidak diprovokasi terhadap Republik Islam Iran.

Pilihan militer secara total, yang diharapkan mampu memaksa Iran menyerah, kemudian dilancarkan dengan kekuatan yang sangat besar. Namun, bahkan langkah terakhir itu pun tidak berhasil mencapai tujuan politik utamanya.

Kemampuan Iran untuk melakukan pengayaan uranium tetap bertahan.

Infrastruktur nuklir Iran tetap berdiri.

Kemampuan yang selama bertahun-tahun berusaha dihapus oleh pihak lawan justru tetap terpelihara, semakin menguat, dan, menurut artikel ini, tidak lagi dapat disangkal keberadaannya.

Titik Balik Strategis: Dari Zero Enrichment Menuju Pengakuan

Menurut artikel ini, dengan menerima Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang mengakhiri perang, pihak lawan pada hakikatnya telah meninggalkan tuntutan lamanya mengenai “zero enrichment” atau penghapusan total kemampuan pengayaan uranium Iran.

Perubahan tersebut dipandang bukan sebagai konsesi yang diberikan secara sukarela, melainkan sebagai pengakuan yang dipaksakan oleh realitas strategis setelah perang selama hampir 40 hari beserta konsekuensi yang ditimbulkannya.

Dalam perspektif penulis, posisi pihak lawan telah bergeser dari tuntutan agar Iran menyerahkan kemampuan nuklirnya menjadi penerimaan terhadap kemampuan tersebut sebagai sebuah fakta. Pergeseran ini dinilai sebagai capaian strategis yang memiliki arti sangat besar bagi Iran.

Makna perubahan itu, menurut artikel ini, perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas.

Selama bertahun-tahun, tuntutan utama Amerika Serikat dan Rezim Zionis adalah penghapusan sepenuhnya kemampuan Iran melakukan pengayaan uranium. Tuntutan itulah yang menjadi tujuan pokok, sekaligus garis merah yang dianggap tidak dapat dinegosiasikan.

Setiap putaran sanksi, setiap ancaman militer, setiap operasi sabotase, hingga setiap serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada akhirnya diarahkan untuk mencapai satu sasaran yang sama, yaitu menghapus kemampuan pengayaan uranium Republik Islam.

Namun, opsi perang, sebagai instrumen tekanan paling ekstrem yang dimiliki pihak lawan tidak mampu mewujudkan apa yang gagal dicapai oleh sanksi ekonomi maupun ancaman militer.

Ketika perang pun tidak berhasil mencapai tujuan tersebut, posisi Iran, menurut artikel ini, menjadi semakin kokoh. Pada titik itu, pihak lawan dinilai tidak lagi memiliki pilihan selain meninggalkan upaya yang selama ini mereka kejar.

Dalam kerangka itulah, Nota Kesepahaman dipandang memiliki makna yang melampaui sekadar dokumen penghentian perang. Artikel ini menilai bahwa MoU tersebut, antara lain, merupakan bentuk pengakuan pihak lawan terhadap realitas program nuklir Iran.

Tanda tangan yang tercantum dalam dokumen itu dipandang sebagai pengakuan implisit bahwa proyek “zero enrichment” telah berakhir. Setelah bertahun-tahun menjadi tujuan utama berbagai bentuk tekanan terhadap Iran, proyek tersebut dinilai hanya menghasilkan satu kenyataan: “zero results”, tidak membuahkan hasil apa pun.

Berunding dari Posisi Kuat

Menurut artikel ini, setiap putaran perundingan pada masa mendatang harus berpijak pada kenyataan yang tidak lagi dapat disangkal, yaitu bahwa kemampuan Iran melakukan pengayaan uranium tetap bertahan, tidak berkurang, dan terus berkembang secara teknologi.

Dalam kondisi demikian, pihak lawan dinilai tidak lagi dapat bernegosiasi dengan bertumpu pada penyangkalan terhadap realitas tersebut.

Mereka, menurut artikel ini, tidak lagi dapat menganggap program nuklir Iran sebagai penyimpangan sementara yang pada akhirnya dapat dibalikkan melalui tekanan politik, sanksi ekonomi, atau ancaman militer.

Demikian pula, mereka tidak dapat lagi berasumsi bahwa ancaman berikutnya, putaran sanksi berikutnya, ataupun serangan militer berikutnya akan berhasil mencapai tujuan yang gagal diwujudkan oleh seluruh upaya sebelumnya.

Sebaliknya, Iran dipandang memasuki tahap perundingan dari posisi yang telah dibuktikan melalui kekuatan nyata. Kemampuan negara itu untuk mempertahankan dan melindungi program pengayaan uraniumnya, menurut artikel ini, bukan lagi sekadar hasil manuver diplomatik, melainkan sebuah fakta yang dibangun melalui bertahun-tahun perlawanan dan ditegaskan kembali oleh kegagalan opsi perang.

Artikel ini juga menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti proses perundingan di masa mendatang akan berlangsung tanpa tantangan.

Namun, setiap tantangan itu harus diselesaikan di atas dasar pengakuan timbal-balik terhadap realitas yang ada. Menurut penulis, pihak lawan telah belajar, atau setidaknya seharusnya telah belajar, bahwa Iran tidak dapat dipaksa untuk melepaskan hak-hak nuklirnya.

Kegagalan Menyeluruh Pendekatan Koersif

Pesan utama yang ingin ditegaskan artikel ini dinilai sangat jelas dan tegas.

1. Sanksi ekonomi gagal.
2. Ancaman militer gagal.
3. Operasi sabotase gagal.
4. Rangkaian pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran gagal.

Bahkan perang berskala penuh yang dipaksakan kepada Republik Islam Iran juga gagal mencapai tujuan utamanya, yaitu menghancurkan program nuklir negara tersebut.

Program nuklir damai Iran, menurut artikel ini, mampu bertahan menghadapi seluruh bentuk tekanan, mulai dari upaya pencekikan ekonomi hingga agresi militer yang disebut tidak beralasan dan melanggar hukum internasional.

Setiap kegagalan tersebut memiliki arti penting secara tersendiri. Namun apabila dipandang sebagai satu rangkaian, semuanya merupakan penolakan yang tegas terhadap keseluruhan strategi Maximum Pressure (Tekanan Maksimum) yang selama ini diterapkan terhadap Iran.

Dalam pandangan penulis, seluruh perangkat tekanan yang dimiliki pihak lawan telah mencapai batas efektivitasnya. Setiap opsi telah dicoba, dan setiap instrumen yang digunakan pada akhirnya kandas ketika berhadapan dengan ketahanan program nuklir Iran.

Nota Kesepahaman yang mengakhiri perang dipandang sebagai dokumen yang merekam realitas tersebut. Bukan karena pihak lawan secara sukarela memilih untuk menerimanya, melainkan karena, menurut artikel ini, mereka tidak lagi memiliki pilihan lain.

MoU sebagai Pengakuan, Bukan Konsesi

Oleh karena itu, menurut artikel ini, Nota Kesepahaman yang mengakhiri perang memiliki makna yang jauh melampaui sekadar sebuah pengaturan diplomatik.

Dokumen tersebut dipandang sebagai bentuk pengakuan pihak lawan terhadap kekuatan Iran dan realitas program nuklirnya, yang menurut penulis berlandaskan hukum internasional serta hak-hak Iran sebagai negara pihak dalam Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT).

Artikel ini tidak menafikan bahwa Nota Kesepahaman tetap mengandung tantangan dan risiko. Setiap kesepakatan yang dibuat dengan pihak yang, menurut penulis, telah menunjukkan kesediaan untuk melanggar komitmennya sendiri harus tetap disikapi dengan penuh kehati-hatian.

Namun demikian, makna strategis paling mendasar dari Nota Kesepahaman tersebut, menurut artikel ini, terletak pada pengakuan implisit bahwa kemampuan nuklir Iran tidak lagi dapat diputarbalikkan atau dihapuskan.

Pihak lawan, meskipun dengan keberatan, dipandang pada akhirnya dipaksa menerima kenyataan bahwa Iran akan tetap melanjutkan program nuklir damainya. Dengan demikian, tuntutan “zero enrichment” dinilai secara efektif telah ditinggalkan.

Atas dasar itu, artikel ini menyimpulkan bahwa setiap perundingan pada masa mendatang harus berangkat dari pengakuan bahwa kemampuan Iran melakukan pengayaan uranium bukanlah komoditas yang dapat dipertukarkan di meja perundingan, melainkan hak kedaulatan yang dipertahankan melalui perjuangan panjang, keteguhan nasional, serta pengorbanan darah para syuhada.

Penutup

Artikel ini memandang bahwa perjalanan panjang tekanan terhadap Iran telah memasuki sebuah titik balik strategis. Selama bertahun-tahun, sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, operasi sabotase, pembunuhan ilmuwan nuklir, hingga perang berskala penuh diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu mengakhiri kemampuan Iran melakukan pengayaan uranium.

Namun, menurut analisis Press TV, seluruh instrumen tersebut tidak berhasil mencapai sasarannya. Sebaliknya, Iran dinilai tetap mempertahankan kemampuan nuklirnya, sementara Nota Kesepahaman yang mengakhiri perang diposisikan sebagai pengakuan terhadap realitas baru tersebut.

Dalam perspektif penulis, proyek “zero enrichment” yang selama ini menjadi tujuan utama kebijakan Amerika Serikat dan Israel pada akhirnya tidak menghasilkan apa yang diharapkan. Sebagaimana tersirat dalam judul artikel aslinya, proyek “zero enrichment” dinilai hanya berujung pada “zero results”, alias tidak menghasilkan apa pun.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *