Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Inilah Fakta Hubungan Israel-UEA, Tak Lebih dari Relasi antara Majikan dan Pelayan

Inilah Fakta Hubungan Israel-UEA Tak Lebih dari Relasi antara Majikan dan Pelayan

POROS PERLAWANAN – Meski normalisasi hubungan UEA-Israel sudah diwujudkan, Rezim Zionis menampar wajah Putra Mahkota Abu Dhabi berkali-kali, tanpa ada sedikit pun perlawanan dari pihak UEA.

Dilansir al-Alam, tamparan pertama PM Israel kepada Putra Mahkota Abu Dhabi adalah saat Netanyahu membantah versi Bin Zayed terkait motif normalisasi. Bin Zayed mengklaim bahwa berkat adanya normalisasi, Rezim Zionis akan menghentikan aneksasi Tepi Barat dan Lembah Yordania.

Namun klaim itu segera ditepis Netanyahu. Menurutnya, dia hanya “menunda aneksasi”, itu pun atas permintaaan Donald Trump.

Tamparan kedua adalah saat Netanyahu menghapus file video wawancaranya dengan Sky News Arabic (stasiun televisi milik UEA) yang telah diterjemahkan ke bahasa Ibrani dari laman Twitter-nya. Beberapa saat kemudian, Netanyahu kembali mengunggahnya, namun tanpa terjemahan Ibrani.

Menurut Haaretz, cuitan itu dihapus sebab Netanyahu dalam wawancara itu menyebut UEA sebagai “negara demokrat.” Harian Israel ini melaporkan, Netanyahu pada hari Senin mengatakan, ”UEA, yang merupakan negara monarki turun temurun dan melarang pembentukan partai politik, pada hakikatnya adalah sebuah negara demokrat yang maju.”

Tamparan ketiga adalah saat Netanyahu membantah klaim UEA, bahwa dirinya menyetujui penjualan jet F-35 dan senjata modern AS lain ke Abu Dhabi berkat adanya normalisasi.

“Kesepakatan normalisasi dengan UEA atas mediasi AS, tidak meliputi persetujuan apa pun terkait penjualan F-35 (ke UEA),” cuit Netanyahu.

Ia menambahkan, Washington telah berkomitmen kepada Tel Aviv untuk menjaga keunggulan kualitas militer Israel (di Timur Tengah).

Di hadapan perilaku congkak semacam ini, UEA secara memalukan hanya bersikap pasif, bahkan menghinakan diri sendiri. Mantan Deputi Kepala Polisi Dubai, Dhahi Khalfan, dalam wawancara televisi Israel “meminta agar negara-negara Arab menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv.”

Khalfan bahkan mendesak agar Israel diterima sebagai anggota Liga Arab dan mengusulkan nama organisasi ini diubah menjadi “Liga Negara-negara Timur Tengah”.

“Israel bukan orang asing. Mereka adalah putra-putra tanah ini. Sekadar normalisasi tanpa hubungan kerakyatan tidak ada artinya. Ibu Kota Israel bukan hanya Tel Aviv, tapi juga semua Ibu Kota negara-negara Arab,” ucapnya.

Dengan melihat hal-hal di atas, kita bisa memahami esensi hubungan Rezim Zionis dan UEA, yaitu tak lebih dari hubungan “majikan dan pelayan.” Ini dibuktikan oleh statemen-statemen para petinggi Israel dan UEA dalam beberapa hari terakhir.

Tags: