Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Insiden Serangan ke Markas al-Hashd al-Shaabi Buka Fakta Keberadaan Konspirator dan Eksekutor Instruksi AS di Irak

Insiden Serangan ke Markas al-Hashd al-Shaabi Buka Fakta Keberadaan Konspirator dan Eksekutor Instruksi AS di Irak

POROS PERLAWANAN – Unit Khusus Antiterorisme Irak melakukan tindakan tak terduga dengan menyerbu markas Brigade 45 al-Hashd al-Shaabi (Kataib Hizbullah Irak) pada Kamis 25 Juni malam.

Unit Antiterorisme menahan sejumlah perwira dan anggota Kataib atas tuduhan keterlibatan mereka dalam serangan rudal ke Zona Hijau.

Dilansir al-Alam, tindakan mengejutkan ini segera direspons tegas oleh al-Hashd al-Shaabi dan rakyat Irak, sehingga para tahanan dibebaskan. Dampak dan faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian tersebut bisa jadi memicu ketegangan dan gesekan politik baru di Irak.

Berikut sejumlah poin yang perlu dicamkan terkait insiden ini:

Pertama, penyerbuan Kamis pekan lalu tidak terjadi secara kebetulan. Insiden ini adalah buah dari transaksi politik domestik dan mancanegara. Hal yang paling penting darinya adalah perundingan strategis AS-Irak yang telah dimulai beberapa pekan lalu. Pemerintah Irak yang dipimpin Mustafa al-Kadhimi di awal perundingan sudah berjanji untuk melindungi pangkalan dan infrastruktur AS.

Kedua, penyerbuan dan penangkapan ini dilakukan dalam rangka persiapan lawatan al-Kadhimi ke Washington. Sebab itu, sebagian pihak menilai tindakan ini sebagai jaminan untuk lawatan tersebut, juga pembuktian keseriusan untuk menindak Kelompok-kelompok Poros Perlawanan yang memerangi invasi AS.

Ketiga, bahaya yang lebih besar dari penyerbuan ini, yang tidak pernah dilakukan PM Irak sebelum al-Kadhimi, adalah menyeret dua kekuatan militer, yaitu al-Hashd al-Shaabi dan Unit Antiterorisme, menuju konfrontasi.

Keempat, tindakan ini merupakan uji coba untuk al-Hashd al-Shaabi terkait penargetan para anggotanya. Al-Hashd al-Shaabi bereaksi dengan menempatkan pasukannya di jalanan Baghdad dan Zona Hijau, yang berujung pada pembebasan mereka yang ditahan dan permintaan maaf Unit Antiterorisme.

Respons ini memberikan pelajaran kepada para konspirator di ruang-ruang gelap mereka, juga para eksekutor instruksi AS di Irak. Reaksi tegas al-Hashd al-Shaabi ini juga bisa menjadi faktor pencegah berulangnya insiden serupa di masa mendatang.

Kelima, para pengamat menilai, prioritas Pemerintahan al-Kadhimi saat ini terfokus pada perlindungan terhadap pangkalan dan Pasukan AS, alih-alih persiapan untuk Pemilu dini dan penyediaan item-item yang dibutuhkan rumah-rumah sakit Irak di masa pandemi Corona.

Keenam, keberadaan Pasukan AS merupakan bentuk pendudukan, terutama setelah Parlemen Irak mengesahkan pengusiran mereka. Sehingga, perlawanan dan penentangan terhadap eksistensi AS adalah tindakan konstitusional dan legal.

Andai alasan penyerbuan dan penangkapan ini adalah penjagaan terhadap pangkalan AS, dan jika Washington serta Baghdad ingin serangan ke Zona Hijau tidak terulang, maka jalan termudahnya adalah mengakhiri pendudukan AS dan melaksanakan keputusan Parlemen, bukan menyerbu dan menangkapi para pejuang Irak.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *