Iran Kantongi Aset Beku dan Akses Penjualan Minyak, Nilai Manfaat Awal Disebut Tembus US$30 Miliar
POROS PERLAWANAN — Iran disebut akan memperoleh sejumlah manfaat ekonomi langsung dalam nota kesepahaman yang disepakati dengan Amerika Serikat, termasuk pencairan aset yang selama ini dibekukan, penangguhan sanksi minyak, serta akses penuh terhadap pendapatan hasil ekspor minyak selama masa negosiasi.
Menurut laporan Mehr News pada Selasa 16 Juni, salah satu prinsip utama dalam nota kesepahaman tersebut adalah pemberian keuntungan ekonomi yang dapat langsung dirasakan Iran sebagai imbal balik atas pelaksanaan tahapan kesepakatan, termasuk pengaturan soal pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah mekanisme yang disepakati.
Laporan itu menyebut struktur kesepahaman dirancang agar Iran memperoleh manfaat yang bersifat nyata dan tidak mudah dibatalkan meskipun di kemudian hari pihak lain gagal menjalankan komitmennya.
Salah satu poin utama adalah pencairan sebagian aset Iran yang selama ini diblokir di luar negeri. Pada tahap awal, sekitar US$12 miliar dana beku akan kembali dapat diakses oleh Iran. Tahap lanjutan kesepakatan disebut tidak akan dimulai sebelum proses pencairan tersebut terlaksana.
Selain itu, sekitar US$12 miliar aset lainnya akan dibebaskan secara bertahap selama proses negosiasi berlangsung.
Manfaat ekonomi lain yang dinilai signifikan adalah penangguhan sanksi minyak Amerika Serikat selama periode perundingan. Sejak dimulainya implementasi kesepahaman, Washington disebut akan menangguhkan pembatasan terhadap ekspor minyak Iran sehingga Teheran dapat menjual minyaknya secara bebas ke negara mana pun yang dipilih.
Pendapatan dari penjualan minyak tersebut juga disebut dapat diakses langsung oleh Iran tanpa hambatan sanksi sebagaimana yang berlaku dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan sejumlah estimasi yang dikutip dalam laporan tersebut, nilai ekspor minyak Iran selama periode negosiasi 60 hari berpotensi mencapai sekitar US$10 miliar dengan asumsi harga minyak saat ini tetap stabil.
Dengan perhitungan tersebut, total manfaat ekonomi yang dapat diterima Iran selama dua bulan pertama pelaksanaan kesepahaman diperkirakan melampaui US$30 miliar, yang berasal dari kombinasi pencairan aset beku dan peningkatan pendapatan ekspor minyak.
Meski demikian, laporan tersebut juga menyinggung kemungkinan terjadinya hambatan dalam pelaksanaan komitmen Amerika Serikat, mengingat rekam jejak Washington yang kerap tidak konsisten dalam menjalankan kesepakatan internasional.
Dalam skema yang disepakati, Iran disebut tetap memiliki instrumen tekanan untuk memastikan pihak lain menjalankan kewajibannya. Apabila komitmen tidak dipenuhi, Teheran dapat menghentikan pelaksanaan kewajiban yang menjadi bagiannya.
Selain manfaat finansial langsung, pelonggaran pembatasan maritim juga disebut akan membuka jalur masuk berbagai komoditas ke Iran serta memperlancar ekspor minyak selama masa negosiasi yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari.
