Mantan Menteri Lebanon: Iran Berhasil Hidupkan Kembali Persatuan Poros Perlawanan, Israel Terjebak Perang Gesekan
POROS PERLAWANAN — Mantan Menteri Tenaga Kerja Lebanon, Mustafa Bayram menegaskan bahwa Iran berhasil menghidupkan kembali persatuan Front-front Perlawanan di Kawasan dan menggagalkan upaya Israel memisahkan medan konfrontasi yang selama bertahun-tahun dijalankan Tel Aviv. Pada saat yang sama, Bayram menilai Hizbullah telah berhasil menyeret Israel ke dalam perang gesekan di Lebanon selatan yang berpotensi memaksa pasukan Pendudukan menarik diri.
Dalam wawancara dengan Mehr News yang dipublikasikan pada Selasa 16 Juni, Bayram juga melontarkan kritik tajam kepada Pemerintah Lebanon yang menurutnya kehilangan independensi politik dan menjalankan agenda yang dipaksakan oleh Amerika Serikat serta Arab Saudi.
Menurut Bayram, Pemerintah Lebanon telah mengabaikan faktor-faktor kekuatan nasional dan justru menjadikan isu perlawanan terhadap pendudukan Israel sebagai persoalan internal yang memperdalam perpecahan di dalam negeri.
“Amerika Serikat dan Arab Saudi yang membawa Pemerintahan ini ke tampuk kekuasaan telah memaksakan agenda mereka. Pemerintah mengorbankan independensi dan keputusan kedaulatannya serta meninggalkan unsur-unsur kekuatan yang dimiliki Lebanon,” katanya.
Bayram menilai pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan Pemerintah Lebanon dalam proses negosiasi dengan Israel lebih mencerminkan tekanan Washington daripada kepentingan nasional Lebanon. Menurutnya, pendekatan tersebut hanya menguntungkan Israel dan melemahkan posisi Beirut.
Mengenai perkembangan regional, Bayram menyebut Lebanon kini menjadi bagian dari persamaan deterrence atau pencegahan strategis yang dibangun Iran bersama Kelompok-kelompok Perlawanan di Kawasan.
Menurutnya, keberhasilan terbesar Teheran adalah menggagalkan strategi Israel yang berupaya memisahkan setiap Front Perlawanan agar dapat dihadapi secara terpisah.
“Iran berhasil memulihkan persatuan Front-front Perlawanan. Israel, khususnya Benyamin Netanyahu, selama tiga tahun terakhir berusaha memisahkan Front-front tersebut dan menghadapi masing-masing secara individual,” ujar Bayram.
Dia menambahkan bahwa agresi Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran gagal mencapai tujuan yang diinginkan. Kegagalan tersebut, menurutnya, membuka jalan bagi Teheran untuk kembali memperkuat koordinasi antar-Kelompok Perlawanan di Kawasan.
Bayram juga menilai negara-negara dan bangsa-bangsa di Kawasan memiliki hak untuk membangun kerja sama menghadapi ancaman yang sama, sebagaimana Amerika Serikat dan Israel membangun aliansi dalam mendukung kepentingan mereka.
Tentang perkembangan di lapangan, Bayram mengatakan Lebanon selatan perlahan berubah menjadi medan perang gesekan yang menguras kemampuan Militer Israel.
Dia menuturkan bahwa setelah lebih dari 15 bulan pembunuhan, penghancuran dan operasi militer berkelanjutan, Israel mengira Hizbullah telah kehilangan kemampuan tempurnya. Namun, menurut Bayram, Kelompok Perlawanan tersebut justru menghadirkan kejutan besar di medan perang.
“Hizbullah berhasil mengubah persamaan konflik. Kinerja yang cerdas dan fleksibel di medan tempur serta penggunaan drone berbasis serat optik memberikan pukulan berat terhadap teknologi militer Israel,” katanya.
Bayram menegaskan perang gesekan akan terus berlanjut hingga Israel mencapai titik kebuntuan operasional yang memaksanya mempertimbangkan penarikan diri dari wilayah Lebanon.
Dalam bagian lain wawancara, Bayram menolak doktrin lama yang menyebut kekuatan Lebanon terletak pada kelemahannya. Menurutnya, kekuatan Lebanon justru berada pada persatuan nasional, perlawanan, dan keteguhan rakyat dalam menghadapi agresi.
Dia menilai Pemerintah Lebanon saat ini tidak memiliki independensi politik yang memadai dan gagal memanfaatkan berbagai instrumen kekuatan yang dimiliki negara.
Bayram juga mengkritik langkah Pemerintah yang membuka jalur negosiasi langsung dengan Israel. Menurutnya, kebijakan tersebut bertentangan dengan semangat hukum Lebanon yang menganggap pendudukan Israel sebagai tindakan ilegal.
Meski demikian, Bayram menyatakan optimistis rakyat Lebanon pada akhirnya mampu mempertahankan hak-haknya dan membebaskan wilayah yang masih diduduki Israel.
“Kami berada di pihak yang benar dan hukum sejarah menunjukkan bahwa rakyat yang mempertahankan tanahnya pada akhirnya akan meraih kemenangan,” tegas Bayram.
