Loading

Ketik untuk mencari

Rusia

Jawab Diplomatis, Moskow Santai Tanggapi Tudingan ‘Rusia Terlibat Operasi Antikudeta’ di Venezuela

Jawab Diplomatis, Moskow Santai Tanggapi Tudingan 'Rusia Terlibat Operasi Antikudeta' di Venezuela

POROS PERLAWANAN – Dilansir al-Alam, sejumlah media mewartakan kabar terlibatnya Militer Rusia dalam operasi penggagalan kudeta atas Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, tidak berusaha menepis rumor-rumor tersebut. Ryabkov hanya menanggapinya dengan jawaban diplomatis.

“Rumor-rumor ini digulirkan untuk mengabaikan kerjasama legal antara Moskow dan Caracas. Padahal Rusia dan Venezuela menjalin kerjasama baik di bidang energi, militer, dan teknik. Semua ini tertuang dalam surat-surat kesepakatan yang benar-benar sah,” kata Ryabkov kepada harian Izvestia.

“Kerja sama Moskow dengan Caracas bukan ancaman bagi pihak ketiga. Namun kita tahu bahwa para penentang Maduro selalu melancarkan propaganda negatif atas keberadaan Rusia di Venezuela,” imbuhnya.

Sebelum ini, sejumlah media di Venezuela mengklaim bahwa 8 anggota Pasukan Elit Rusia berperan dalam operasi antikudeta. Sejumlah perangkat nirawak Rusia disebut tengah berpatroli di kawasan terjadinya kontak senjata Tentara Venezuela dengan para serdadu bayaran.

Menteri Pertahanan Venezuela melalui akun Twitter-nya menepis keterlibatan Militer Rusia dalam operasi penggagalan kudeta tersebut.

Sehari setelah upaya kudeta digagalkan, Maduro mengumumkan keterlibatan dua warga AS bernama Arian Barry dan Luke Denman dalam insiden hari Minggu 3 Mei tersebut.

Maduro menyebut serangan itu sebagai program Washington untuk menggulingkan pemerintahannya. Keberadaan dua warga AS di antara 13 teroris yang ditangkap dinilainya sebagai bukti atas tuduhannya.

Jordan Goudreau, mantan anggota Pasukan Elit AS, juga mengaku bahwa dirinya mengomandani operasi teror itu.

Harian Washington Post pada hari Kamis 7 Mei lalu membeberkan dokumen terkait upaya kudeta di Venezuela. Dokumen itu menyebutkan, kelompok oposisi Venezuela yang dipimpin Juan Guaido menjalin kesepakatan dengan korporasi AS (Silvercorp) pada Oktober 2019 lalu.

Kesepakatan senilai 213 juta dolar itu bertujuan untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

Washington Post melaporkan, kesepakatan oposisi Venezuela dengan Silvercorp itu tertuang dalam dokumen setebal 42 halaman.

Dokumen itu berisi mulai dari detail ranjau dan perangkat militer yang akan digunakan hingga cara eksekusi kudeta.

Misi tim tersebut adalah menangkap atau membunuh Maduro, menggulingkan pemerintahan sah saat ini, dan menempatkan Guaido sebagai presiden.

Menurut Reuters, terbongkarnya dokumen di atas adalah pukulan telak bagi Guaido dan oposisi Venezuela. Sebelum ini, mereka membantah terlibat dalam aksi teror Minggu atau hubungannya dengan Silvercorp

Tags: