Fukuyama: Kesepakatan dengan Iran Cermin Kemunduran Total Amerika Serikat
POROS PERLAWANAN — Ilmuwan politik terkemuka Francis Fukuyama menilai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran mencerminkan kemunduran total Washington. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel pada akhirnya hanya menyelesaikan persoalan yang mereka ciptakan sendiri ketika memulai perang terhadap Iran.
Sebagaimana dilaporkan Farsnews Agency pada Sabtu (20/6/2026), Fukuyama menyatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhirnya menunda seluruh tujuan yang selama berbulan-bulan digunakan pemerintahannya untuk membenarkan perang dan menyerahkannya kepada proses negosiasi yang akan datang.
Menurut Fukuyama, tidak satu pun tujuan utama Washington dalam perang tersebut tercapai, termasuk perubahan rezim di Iran maupun tuntutan penyerahan tanpa syarat.
Fukuyama juga menilai sangat kecil kemungkinan Iran akan menunjukkan fleksibilitas dalam perundingan mendatang.
“Persoalan-persoalan yang menjadi pokok negosiasi berkaitan langsung dengan identitas fundamental dan kelangsungan sistem politik Iran,” katanya.
Fukuyama melontarkan kritik tajam terhadap Trump dan cara pemerintahannya mengelola konflik tersebut. Menurutnya, para pendukung garis keras gerakan Make America Great Again (MAGA) mungkin dapat diyakinkan bahwa Trump telah mencapai kesepakatan besar.
“Namun pihak lain akan memahami bahwa negara paling kuat di dunia dipimpin oleh seorang presiden yang tidak kompeten dan tidak memahami persoalan. Seseorang yang bersedia membebankan biaya besar kepada negara lain bahkan kepada rakyatnya sendiri apabila menganggap hal itu menguntungkan dirinya,” ujarnya.
Dalam analisisnya, Fukuyama juga membandingkan kesepakatan era Presiden Barack Obama dengan Iran atau yang dikenal sebagai JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) dengan kesepakatan yang kini diupayakan Trump.
Menurutnya, Trump sebelumnya keluar dari perjanjian yang telah membatasi program nuklir Iran dan menurunkan tingkat pengayaan uranium negara tersebut. Kini, Trump justru menghadapi tantangan untuk mencapai kesepakatan yang substansinya tidak jauh berbeda dengan perjanjian yang pernah ditinggalkannya.
Fukuyama juga menyoroti tidak dimasukkannya sejumlah tuntutan lain Washington dalam kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk penghentian dukungan Teheran terhadap Poros Perlawanan. Ketiadaan poin-poin tersebut, menurutnya, menunjukkan keterbatasan hasil yang berhasil dicapai pemerintahan Trump.
Sebelumnya, sejumlah analis dan bahkan beberapa politikus Amerika Serikat juga menyebut kesepakatan antara Washington dan Teheran sebagai indikasi kegagalan Amerika mencapai tujuan yang dicanangkan dalam perang terhadap Iran.
