Kasus George Floyd, Dejavu ‘Pandemi Rasisme’ yang Telah Lama Mengakar di Tengah Masyarakat dan Aparat AS - POROS PERLAWANAN
Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Kasus George Floyd, Dejavu ‘Pandemi Rasisme’ yang Telah Lama Mengakar di Tengah Masyarakat dan Aparat AS

POROS PERLAWANAN – George Floyd, seorang Afro-Amerika meninggal pada 25 Mei setelah seorang perwira polisi Minneapolis menekan lehernya dengan lutut selama hampir sembilan menit. Kasus ini menjadi simbol baru kebrutalan polisi terhadap orang kulit hitam di AS.

Pengacara keluarga Floyd, Benjamin Crump, menyatakan “pandemi rasisme dan diskriminasi” yang membunuh Floyd.

Kematian Floyd telah memicu protes nasional dan beberapa telah berubah menjadi kekerasan. Situasi ini seperti dejavu, karena “pandemi rasisme” telah berakar di masyarakat AS sejak lama.

Menurut sebuah jurnal studi yang diterbitkan oleh National Academy of Sciences pada 2019, sekitar satu dari setiap 1.000 pria kulit hitam dibunuh oleh polisi di AS, jumlah ini 2.5 kali lipat lebih dari kemungkinan hal yang sama terjadi pada kulit putih.

Mapping Police Violence, sebuah kelompok penelitian dan advokasi, mengungkap fakta ironis bahwa 99 persen dari polisi yang terlibat dalam kasus pembunuhan, tidak didakwa.

CGTN merangkum beberapa kasus kebrutalan polisi terhadap orang kulit hitam yang pernah terjadi di AS sebagai berikut:

– Eric Garner, 17 Juli 2014
Kasus:
Eric Garner, seorang pria Afro-Amerika berusia 43 tahun, tewas setelah Daniel Pantaleo, seorang petugas Departemen Kepolisian Kota New York (NYPD) mencekiknya saat penangkapan Garner pada 17 Juli 2014. Rekaman video kejadian itu menunjukkan bahwa Garner mengulangi kata-kata “Aku tidak bisa bernapas” hingga 11 kali.

Hasil:
Pada 3 Desember 2014, pengadilan di AS memutuskan untuk tidak mendakwa Pantaleo atas tuduhan kriminal, yang memicu protes dan demonstrasi publik. Pada 2019, Departemen Kehakiman AS juga menolak untuk mengajukan tuntutan. Pantaleo dipecat pada 19 Agustus 2019 tetapi sejak itu, ia mengajukan gugatan untuk mencoba mendapatkan pekerjaannya kembali.

– Michael Brown, 9 Agustus 2014
Kasus:
Michael Brown, seorang pria kulit hitam berusia 18 tahun yang tidak bersenjata, ditembak oleh polisi kulit putih bernama Darren Wilson di Ferguson pada 9 Agustus 2014. Ia dihujani dengan enam peluru dan tewas di tempat kejadian.

Hasil:
Menyusul pengumuman yang dibuat oleh pengadilan pada 24 November 2014, bahwa Wilson tidak akan didakwa, protes menyebar ke seluruh negara. Wilson mengundurkan diri pada bulan yang sama. Departemen Kehakiman AS pada Maret 2015 juga memutuskan tidak akan menuntut Wilson.

– Tamir Rice, 22 November 2014
Kasus:
Pada 22 November 2014, Tamir Rice, bocah lelaki kulit hitam berusia 12 tahun yang sedang bermain dengan pistol mainan di taman Cleveland, ditembak mati oleh petugas polisi bernama Timothy Loehmann segera setelah tiba di tempat kejadian. Loehmann mengklaim dia mengira itu adalah pistol asli.

Hasil:
Pada bulan Desember 2014, pengadilan memutuskan untuk tidak menuntut Loehmann. Loehmann dipecat pada 2017 karena berbohong pada formulir lamaran pekerjaannya.

– Stephon Clark, 18 Maret 2018
Kasus:
Pria kulit hitam Amerika 22 tahun bernama Stephon Clark meninggal setelah ditembak setidaknya tujuh kali oleh dua petugas polisi di halaman belakang rumah neneknya di Sacramento, California. Petugas polisi Terrence Mercadal dan Jared Robinet mengklaim bahwa Clark telah menodongkan senjata kepada mereka, tetapi penyelidikan menunjukkan Clark hanya memegang ponsel.

Hasil:
Kejaksaan Distrik pada bulan Maret, 2019 mengumumkan dua petugas polisi tersebut tidak akan didakwa, dengan alasan penggunaan kekuatan mereka memang dibenarkan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *