Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Kemunafikan Bin Salman dan Kenistaan Penguasa Arab di Hadapan Kepongahan Zionis

Kemunafikan Bin Salman dan Kenistaan Penguasa Arab di Hadapan Kepongahan Zionis

POROS PERLAWANAN – “Munafik” adalah ungkapan yang pas untuk sikap Saudi terkait masalah normalisasi hubungan dengan Israel.

Dari satu sisi, Saudi secara lahiriah menyatakan bahwa normalisasi dengan Rezim Zionis tak akan terjadi sampai Tel Aviv mengakui proyek “Perdamaian Arab”. Namun di sisi lain, Riyadh diam-diam mendukung normalisasi, menghapus embargo Israel dari situs Kementerian Dagang, serta menyetujui pesawat yang mengangkut delegasi AS-Israel melewati zona udaranya menuju UEA.

Pesawat tersebut lepas landas dari bandara Ben Gurion, Tel Aviv, dan melintasi angkasa Saudi kemudian mendarat di bandara Abu Dhabi. Ini merupakan penerbangan resmi pertama dari Tel Aviv ke Abu Dhabi, menyusul dideklarasikannya normalisasi UEA-Israel. Dengan melintasi zona udara Saudi, durasi penerbangan berkurang dari 8 jam menjadi 3 jam.

Lawatan delegasi AS dan Israel ke UEA ini akan berlangsung selama 2 hari. Agenda lawatan mencakup sejumlah pertemuan untuk menandatangani kesepakatan kerja sama, termasuk di bidang ekonomi, antara Abu Dhabi dan Tel Aviv.

Dalam lawatan ini, sebuah pertemuan segitiga juga akan diadakan di Abu Dhabi. Pertemuan itu dihadiri para ketua delegasi, yaitu Kepala Dewan Keamanan Nasional Israel Meir Ben Shabbath, Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O’Briean, Penasihat Senior Presiden AS Jared Kushner, dan Penasihat Keamanan Nasional UEA Syekh Tahnun bin Zayed.

“Penerbangan nista” yang dimulai dari Tel Aviv dan diakhiri di Abu Dhabi ini dikomentari para anggota Delegasi AS dan Israel. Kushner bicara soal “perdamaian, perkembangan, peluang, sejarah yang dibuatnya bersama para sahabat, dan penerbangan yang tercatat dalam sejarah”.

Statemen semacam ini hanya bisa diucapkan menantu Donald Trump tersebut di Saudi dan UEA. Sebab dia tahu bahwa di kedua negara ini tidak ada orang yang akan menjawab serta membeberkan kebohongannya.

Ketika Kushner bicara soal “perdamaian antara Arab dan Israel”, dan berkata bahwa “Saudi dan Bahrain mengantre untuk menormalisasi hubungan (dengan Israel)”, O’Brien menambahinya dengan mengungkap kemunafikan, kelemahan, dan kehinaan Bin Zayed serta Bin Salman.

Dalam konferensi pers bersama Netanyahu dan Kushner, O’Brien berkata, ”Visi AS untuk perdamaian di Timur Tengah adalah kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan dan permukiman Zionis.”

Jika ini adalah sikap AS terkait Dataran Tinggi Golan, bagaimana sikapnya terhadap bangsa dan isu Palestina? Atau, bagaimana sikap AS dan Israel di hadapan para penguasa yang menghinakan diri mereka demi sesuatu yang remeh dan tak berharga?

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *