Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Saudi Perlakukan Ratusan Imigran Afrika Layaknya Binatang dan Budak yang Pantas Mati

Saudi Perlakukan Ratusan Imigran Afrika Layaknya Binatang dan Budak yang Pantas Mati

POROS PERLAWANAN – Sebuah harian terbitan Inggris, Sunday Telegraph membeberkan kondisi mengenaskan yang dialami para imigran Afrika di Rumah Detensi Imigrasi Saudi.

Dilansir Young Jurnalist Club, harian Inggris ini menyebut para imigran Afrika itu ditempatkan di bangunan yang mirip “kamp-kamp budak” di Libya. Mereka berada dalam keadaan yang memprihatinkan dan bergulat dengan kematian.

Sunday Telegraph memuat beberapa foto dari para imigran yang ditahan di Rumah Detensi Saudi. Foto-foto memperlihatkan puluhan lelaki kurus yang tidur di atas lantai dalam keadaan nyaris telanjang. Sebagian dari mereka dikatakan telah lumpuh dan tak berdaya akibat hawa panas.

Para imigran itu berbaring dalam baris-baris yang berdempetan. Mereka ditahan di ruang-ruang kecil yang jendelanya dihalangi oleh batang-batang besi.

Dalam salah satu foto, terlihat sebuah jenazah yang telah ditutupi. Menurut para tahanan, dia adalah imigran yang meninggal lantaran “terpapar sinar matahari yang sangat panas”.

Para imigran Afrika itu mengaku, mereka kesulitan mendapatkan air dan makanan untuk bertahan hidup.

Foto lain menunjukkan seorang pemuda Afrika yang ditahan sejak April lalu. Teman-temannya mengatakan, dia begitu merasa putus asa hingga akhirnya bunuh diri.

Pernyataan saksi mata menunjukkan bahwa para imigran Afrika itu mesti menanggung kondisi memilukan di rumah-rumah tahanan Saudi.

Sunday Telegraph mengutip pengakuan para imigran tersebut, bahwa mereka dipukuli oleh para penjaga, juga mengalami perundungan melalui caci-maki berbau rasisme.

Abebe adalah seorang imigran asal Ethiopia yang telah ditahan di tempat itu. Ia mengaku sudah 4 bulan berada di neraka itu. Abebe menyatakan bahwa para imigran diperlakukan seperti binatang dan tiap hari dipukuli para petugas.

Menurutnya, ia akan bunuh diri jika tidak bisa menemukan jalan untuk kabur.

“Satu-satunya kesalahan saya adalah meninggalkan Ethiopia demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka (para penjaga) menyetrum kami dengan kabel listrik, seolah kami ini adalah para pembunuh,” keluh Abebe.

Tags:

1 Komentar

  1. Abubakar September 1, 2020

    Slm,katanya negara yg berfaham Islam,kok kelakuanya seperti negara yg tdk berprikemanusiaan

    Balas

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *