Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Lawatan ‘Tebang Pilih’ David Schenker Bongkar Niat Asli AS Singkirkan Hizbullah dari Pentas Politik Lebanon

Lawatan 'Tebang Pilih' David Schenker Bongkar Niat Asli AS Singkirkan Hizbullah dari Pentas Politik Lebanon

POROS PERLAWANAN – Kunjungan Staf Menlu AS untuk Urusan Timur Dekat, David Schenker ke Lebanon dilakukan dalam rangka memanaskan kembali kerusuhan di negara tersebut, serta mendiskreditkan tokoh dan kelompok Lebanon yang menolak kompromi dengan Israel dan ide “Timur Tengah Baru”.

Dilansir al-Alam, sebelum ini Schenker mengaku tidak akan menemui satu pun tokoh diplomat Lebanon dalam kunjungannya. Ia menyatakan, dirinya hanya akan menemui sejumlah tokoh politik, pemimpin partai yang berafiliasi kepada Gerakan 14 Maret, dan legislator yang telah mengundurkan diri. Dengan pengumuman ini, dia telah mengungkap niat aslinya dari lawatan ke Lebanon.

Lawatan ini juga membongkar kontradiksi antara sikap AS dan Prancis. Lawatan Schenker dilakukan segera setelah kunjungan Emmanuel Macron dan dibentuknya inti pemerintahan baru Lebanon.

Meski secara lahiriah, ada semacam “kesepakatan” antara AS dan Prancis dalam masalah Lebanon, namun sebenarnya ada sejumlah perbedaan antara keduanya. Perbedaan ini terutama yang berkaitan dengan Hizbullah dan posisi politisnya di Lebanon.

Schenker mengklaim, AS berupaya “untuk menciptakan netralitas di Lebanon.” Namun dia sendiri yang pertama kali melanggar “netralitas” ini. Meski ia mengunjungi Lebanon secara resmi, namun ia enggan menemui para pejabat resmi negara tersebut. Schenker berperilaku begitu arogan, seolah ia tengah mengunjungi salah satu negara bagian AS.

Sikap arogan dan congkak ini adalah bukti jelas bahwa AS tidak mengakui netralitas di Lebanon. Istilah “netralitas” di mata AS hanya sebagai dalih agar ia bisa memasuki pentas politik Lebanon dengan wajah baru.

Sembari menyatakan pentingnya untuk melaksanakan semua resolusi internasional di Lebanon, Schenker menuntut agar Salim Ayyash (terdakwa utama dalam kasus teror Rafik Hariri) diserahkan. Padahal, hanya beberapa jam sebelumnya, Kemenkeu AS menjatuhkan sanksi atas Jaksa ICC Fatou Bensoda, karena menginvestigasi kejahatan perang AS di Afghanistan. Apakah ini selaras dengan klaim AS untuk menghormati keputusan pengadilan-pengadilan internasional?

Pertemuan tebang pilih Schenker di Lebanon juga membuktikan bahwa AS tidak mengakui solusi nasional untuk mengatasi krisis di negara tersebut. Dia secara terbuka menyatakan, pihaknya akan berdialog dengan orang-orang yang disebutnya “rakyat” terkait cara menyingkirkan para politisi Lebanon.

Dengan kata lain, Schenker menyebut dirinya sebagai “konsultan rakyat”, tanpa menyadari bahwa mayoritas rakyat Lebanon tidak menghendaki kehadirannya di negara mereka.

Konspirasi AS di Lebanon sangat gamblang. Hingga kini, sejumlah pejabat AS secara terbuka menyatakan, “Hizbullah tidak boleh ada dalam pemerintahan mendatang.” Ungkapan ini adalah intisari dari sikap AS terhadap pemerintahan baru Lebanon. Padahal, Prancis sendiri mengakui peran dan posisi Hizbullah, serta eksistensi wakil-wakilnya di Parlemen Lebanon. Dengan demikian, sikap Prancis bisa disebut lebih fleksibel dan realistis dibandingkan sikap AS.

Mungkin kesamaan antara Prancis dan AS muncul setelah Pemerintahan Hassan Diab mengumumkan akan beralih ke arah Timur serta bekerja sama dengan Rusia dan China. Keputusan inilah yang membuat Eropa dan AS bergegas terjun ke lapangan untuk melindungi kepentingan mereka di Lebanon dan menghalangi Beirut berputar arah ke Timur.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *