Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Media Arus Utama Saudi Beserta Sekutunya Lecehkan dan Intimidasi Pemenang Nobel Perdamaian Asal Yaman

Media Arus Utama Saudi Beserta Sekutunya Lecehkan dan Intimidasi Pemenang Nobel Perdamaian Asal Yaman

POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, pemenang Nobel Perdamaian 2011 asal Yaman, Tawakkol Abdessalam Khalid Karman menyatakan, akhir-akhir ini dirinya menjadi sasaran perundungan dan intimidasi sejumlah media Saudi beserta sekutunya.

Tawakkol Abdessalam Khalid Karman adalah seorang jurnalis dan akvitis politik dari Yaman. Dia merupakan putri Abdessalam Khalid Karman, mantan Menteri Hukum Yaman, yang sudah beberapa waktu menetap di Turki.

Karman adalah generasi kedua anggota Partai al-Islah. Dia berkali-kali meminta dialog dengan Kelompok Ansharullah dan menuntut agar Pasukan Agresor Saudi angkat kaki dari negaranya.

Melalui laman Twitter-nya, Tawakkol mengungkap aksi provokatif orang-orang Saudi terhadap dirinya. Dia mengaku khawatir akan bernasib serupa seperti Jamal Khashoggi yang dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul tahun 2018 lalu.

“Saya menjadi target perundungan dan provokasi mengerikan dari media-media Saudi beserta sekutunya. Yang penting, saya terlindung dari gergaji yang mereka gunakan untuk memutilasi Khashoggi. Sebab itu, saya pergi ke Turki dan mengabarkan hal ini kepada opini umum dunia,” cuitnya.

Beberapa hari lalu, para netizen Saudi mengintimidasi Karman di Twitter, karena dia terpilih sebagai anggota Dewan Pengawas Konten Facebook dan Instagram.

Namun pada hari Minggu 10 Mei lalu, tagar #SayaDukungTawakkolKarman menjadi trending topic di Twitter. Para pengguna Twitter menyuarakan dukungan mereka terhadap aktivis HAM asal Yaman tersebut.

Dalam berbagai kesempatan, Tawakkol Karman mengkritik Rezim Saudi dan para sekutu Arabnya lantaran melakukan intervensi di Yaman dan sejumlah negara lain di Kawasan.

Menurutnya, negara-negara seperti Saudi dan UEA merasa takut kepada segala bentuk revolusi, walau itu terjadi di Mozambik sekalipun.

Tawakkol mengatakan, ketika para pemuda “Musim Semi Arab” menekankan pentingnya transformasi negara-negara mereka menjadi negara-negara demokratis, ada sejumlah rezim diktator yang, secara terbuka atau diam-diam, berusaha mengembalikan kondisi ke masa sebelumnya.

Tags: