Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Media AS Soroti Hasil Perang 40 Hari, Benarkah Trump Meraih Kemenangan Strategis?

POROS PERLAWANAN — Sejumlah media terkemuka Amerika Serikat mempertanyakan klaim Presiden Donald Trump yang menyebut nota kesepahaman dengan Iran sebagai pencapaian bersejarah. Berbagai analisis menilai hasil perang selama 40 hari belum menyelesaikan isu-isu utama yang menjadi pemicu konflik dan justru memindahkannya ke meja perundingan berikutnya.

Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Senin 22 Juni, analisis yang dimuat The New York Times, The Washington Post, dan Newsweek menunjukkan bahwa sejumlah persoalan yang menjadi alasan pecahnya perang masih belum terselesaikan dan ditunda ke putaran negosiasi berikutnya.

Laporan-laporan tersebut menilai bahwa meskipun kesepakatan terbaru membuka kembali jalur diplomasi antara Teheran dan Washington, persoalan mendasar seperti program nuklir Iran, rudal balistik, hubungan Iran dan Israel, serta masa depan pengaruh Amerika Serikat di Kawasan masih belum memperoleh penyelesaian akhir.

Selain itu, perundingan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Swiss juga disebut akan menghadapi sejumlah isu sensitif lain, termasuk Lebanon, Selat Hormuz, dan berbagai persoalan regional yang belum terselesaikan.

Hasil yang Dinilai Terbatas

The New York Times mengajukan pertanyaan mendasar mengenai hasil perang yang berlangsung hampir empat bulan.

“Apa yang sebenarnya berubah setelah perang?” tulis surat kabar tersebut.

Menurut analisis yang dimuat media itu, tidak banyak perubahan mendasar yang terjadi. Program nuklir Iran masih tetap ada, masa depan rudal balistik Iran masih menunggu perundingan lanjutan, dan kelompok-kelompok sekutu Iran di Kawasan tetap aktif.

Profesor Studi Keamanan Massachusetts Institute of Technology (MIT), Caitlin Talmadge menilai kesepakatan tersebut lebih mencerminkan keterbatasan kemampuan Amerika Serikat untuk terus meningkatkan eskalasi ketimbang menunjukkan superioritas militer Washington.

The New York Times juga menilai perang telah menunjukkan kemampuan Iran memanfaatkan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan strategis. Menurut laporan tersebut, Teheran mampu menjadikan salah satu jalur energi terpenting dunia itu sebagai alat pengaruh yang efektif.

Media tersebut juga mencatat bahwa Iran disebut memperoleh sejumlah keuntungan ekonomi, antara lain pencabutan blokade laut, pembentukan dana rekonstruksi senilai 300 miliar Dolar AS, pembebasan sebagian aset yang dibekukan, serta penghentian sanksi Amerika Serikat.

Selain itu, kedua pihak disebut telah menyepakati periode perundingan selama 60 hari untuk membahas isu-isu paling kompleks, termasuk program nuklir dan sanksi.

Daya Tekan Washington Dinilai Menurun

The Washington Post menilai posisi Amerika Serikat setelah perang justru tidak sekuat sebelumnya.

Menurut surat kabar tersebut, sebelum perang pecah Iran menghadapi kekhawatiran bahwa serangan Amerika Serikat dapat mengancam keberlangsungan sistem politik yang berkuasa. Namun perkembangan selama perang menunjukkan struktur Pemerintahan Iran tetap bertahan bahkan setelah syahadah Pemimpin Tertinggi negara tersebut.

Media itu juga menilai Iran menunjukkan kemampuannya memengaruhi pasar energi global hanya melalui ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.

Perbedaan Kepentingan AS dan Israel

Salah satu aspek yang mendapat perhatian media Amerika adalah meningkatnya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv.

The New York Times menulis bahwa Israel memasuki perang dengan keyakinan dapat menghilangkan ancaman Iran untuk jangka panjang. Namun pada akhirnya, Israel disebut berada di luar pusat kesepakatan yang ditandatangani Amerika Serikat tanpa sepenuhnya mengakomodasi tujuan strategis Tel Aviv.

Mantan perwira Intelijen Militer Israel, Danny Citrinowicz menggambarkan hasil tersebut sebagai keruntuhan strategi yang selama ini dijalankan Israel terhadap Iran.

Media itu juga menyoroti masuknya isu gencatan senjata Lebanon ke dalam kerangka kesepakatan. Menurut analisis tersebut, langkah itu berpotensi menempatkan Washington dalam posisi sulit karena harus menekan Rezim Benyamin Netanyahu untuk membatasi operasi militer Israel di Lebanon.

Tekanan Politik terhadap Trump

Tantangan yang dihadapi Trump juga dinilai tidak terbatas pada ranah kebijakan luar negeri.

The Washington Post melaporkan bahwa sebagian pendukung konservatif Trump menilai Pemerintahannya memberikan terlalu banyak konsesi kepada Iran.

Di saat yang sama, dampak ekonomi perang, termasuk tekanan inflasi dan kenaikan harga energi, disebut mulai memengaruhi basis pendukung Trump menjelang Pemilu sela.

Menurut jajak pendapat Fox News yang dikutip dalam laporan tersebut, 58 persen pemilih menilai keputusan berperang dengan Iran merupakan langkah yang keliru. Sementara itu, hanya 35 persen responden yang menyatakan puas terhadap penanganan kebijakan Iran oleh Trump.

China Disebut Menjadi Pemenang Diam-Diam

Newsweek menyoroti dimensi lain dari konflik tersebut dengan menyebut China sebagai salah satu pihak yang paling diuntungkan.

Menurut majalah tersebut, Beijing berhasil membangun citra sebagai kekuatan yang mendukung dialog dan penghormatan terhadap kedaulatan negara, sementara Amerika Serikat semakin dipersepsikan sebagai kekuatan militer yang mahal bagi sekutu-sekutunya.

Presiden Center for China and Globalization di Beijing, Henry Wang menilai perang yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menciptakan preseden berbahaya serta melemahkan tatanan internasional yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pandangan serupa disampaikan Ryan Hass dari Brookings Institution. Menurutnya, perbedaan sikap yang muncul antara Amerika Serikat dan sejumlah sekutu Eropa maupun Arab membuka peluang baru bagi China untuk memperluas pengaruhnya.

Berdasarkan berbagai analisis yang dikutip Mehr, kesepakatan yang dipromosikan Donald Trump sebagai kemenangan strategis masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Program nuklir Iran, isu rudal balistik, dinamika Lebanon, Selat Hormuz, hingga masa depan hubungan Teheran dan Washington masih menunggu pembahasan pada putaran perundingan berikutnya.

Dengan demikian, keberhasilan atau kegagalan kesepakatan tersebut belum ditentukan oleh hasil perang yang telah berakhir, melainkan oleh kemampuan para pihak mencapai penyelesaian atas isu-isu yang hingga kini masih tertunda.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *