Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Menantu Trump Intens Keliling Teluk Persia, Bujuk Rezim Arab ‘Sudi Berteman’ dengan Israel

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, menantu sekaligus Penasihat Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, telah memulai tur ke negara-negara Arab di sepanjang Teluk Persia untuk mendorong mereka mengikuti jejak Uni Emirat Arab (UEA) dalam menormalkan hubungan dengan Israel.

Kushner mengunjungi Ibu Kota UEA pada hari Senin, menemani delegasi bersama Israel-AS pada penerbangan komersial pertama dari Tel Aviv ke Abu Dhabi, yang pada 13 Agustus bersepakat untuk membangun hubungan diplomatik penuh.

Menyimpulkan hasil kunjungannya ke UEA, Penasihat Gedung Putih itu memperkirakan bahwa semua negara Arab lainnya secara bertahap akan mengikuti UEA dalam membangun hubungan dengan Israel.

Ketika ditanya apakah dia yakin semua negara Arab yang berjumlah 22 akan mengakui rezim Israel, dia menjawab, “100 persen!”

“Saya percaya bahwa logis bagi mereka (negara-negara Arab) untuk melakukannya dan saya percaya itu adalah hal yang benar untuk dilakukan dari waktu ke waktu,” tambahnya.

“Saya pikir berkat kepemimpinan UEA akan ada koalisi yang jauh lebih besar. [Akan ada] apa yang saya sebut ‘mayoritas vokal’ yang mendukung normalisasi. Saya pikir minoritas vokal yang menentangnya akan semakin terisolasi di wilayah ini.”

Ditanya kapan negara Arab berikutnya dapat menormalkan hubungan, Kushner berkata, “Semoga dalam hitungan bulan.” Namun, dia tidak menyebutkan nama negaranya.

Dari UEA, menantu Trump terbang ke Bahrain dan kemudian Arab Saudi dan diprediksi juga akan mampir di Qatar.

Di Bahrain, rumah bagi Armada Kelima Angkatan Laut AS, ia bertemu dengan Raja Hamad bin Isa Al Khalifah.

Dalam pertemuan tersebut, Raja Hamad memuji apa yang disebutnya sebagai “upaya bersejarah Uni Emirat Arab” dalam menormalkan hubungan dengan Israel. Raja Hamad menyebut bahwa upaya tersebut adalah demi kepentingan umat Islam dan hak-hak rakyat Palestina.

Raja Bahrain, bagaimanapun, mengatakan stabilitas di Kawasan “bergantung pada” Arab Saudi, mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan mencapai kesepakatan dengan Israel sebelum Riyadh.

Di Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan Kushner menekankan perlu dimulainya kembali negosiasi Israel-Palestina, Saudi Press Agency (SPA) melaporkan.

Bahrain memuji kesepakatan UEA-Israel, sementara Riyadh bereaksi lebih hati-hati, mengatakan akan mendukung prakarsa perdamaian Arab tahun 2002 tentang konflik Israel-Palestina, tanpa mengutuk perjanjian itu.

Palestina dengan suara bulat mengecam kesepakatan damai UEA-Israel, yang bertentangan dengan konsensus Arab terdahulu bahwa setiap normalisasi hubungan dengan rezim Tel Aviv harus dilakukan dalam konteks penyelesaian konflik Israel-Palestina dan pembentukan negara Palestina yang berdaulat.

Tags: