Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Menantu Trump Pastikan Normalisasi Hubungan Saudi-Israel Keniscayaan ‘Tak Terhindarkan’

Menantu Trump Pastikan Normalisasi Hubungan Saudi-Israel Keniscayaan 'Tak Terhindarkan'

POROS PERLAWANAN – Penasihat sekaligus menantu Donald Trump, Jared Kushner menyatakan bahwa terlaksananya normalisasi hubungan Saudi-Israel adalah “hal yang tak terhindarkan”.

Dilansir al-Alam, beberapa jam setelah deklarasi kesepakatan UEA-Israel, Kushner mengklaim bahwa sejumlah negara Arab lain telah melakukan pembicaraan untuk menjalin hubungan dengan Rezim Zionis.

“Ada beberapa negara (Arab) lain yang berunding dengan kami terkait masalah ini. Namun UEA adalah negara yang pertama kali menghendaki kesepakatannya dengan Israel dideklarasikan,” ujar Kushner.

Menurutnya, kesepakatan UEA-Israel akan segera ditandatangani kedua belah pihak di Gedung Putih.

Mengutip dari sebuah sumber, Kanal 11 Israel mengabarkan bahwa setelah UEA, Bahrain juga akan mengumumkan normalisasi hubungan dengan Tel Aviv.

Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa pada Jumat malam menelepon Putra Mahkota Abu Dhabi, Muhammad bin Zayed. Dia mengucapkan selamat atas terjalinnya normalisasi penuh UEA dengan Israel.

Raja Bahrain menyebutnya sebagai “pencapaian bersejarah” dan mengklaim, kesepakatan ini bisa memperkuat stabilitas regional.

Sementara itu, Menteri Penasihat Luar Negeri UEA, Anwar Gargash mengaku bahwa kesepakatan negaranya dengan Rezim Zionis tak ada kaitannya dengan Iran.

“Masalah ini hanya berhubungan dengan UEA, Israel, dan AS. Tujuan kesepakatan ini bukan untuk membentuk kelompok kontra Iran,” kata Gargash kepada Bloomberg.

“Kami memiliki hubungan sangat rumit dengan Iran. Iran adalah tetangga kami. Namun di saat bersamaan, ada sejumlah perselisihan pendapat tentang kebijakan regional,” imbuhnya.

Kesepakatan Abu Dhabi-Tel Aviv ini menuai kecaman dari banyak kalangan. Pada hari Jumat kemarin, jemaah salat Jumat membakar bendera UEA dan foto Bin Zayed di pelataran Masjid Aqsa. Mereka menyebut Putra Mahkota Abu Dhabi itu sebagai pengkhianat.

Sekjen Jihad Islami, Ziyad al-Nakhalah menyebut kesepakatan itu ibarat “jatuhnya satu batu bata lagi dari dinding rapuh Arab”.

“Mereka menyerahkan Quds kepada para penoda kesuciannya, agar mereka tidak kehilangan takhta serta tetap menjadi abdi AS dan Israel,” kecam al-Nakhalah.

Ia menegaskan, pemikiran bahwa kesepakatan ini akan mewujudkan perdamaian, hanya sebuah ilusi dan khayal belaka.

Tags: