Menteri Ekstremis Israel: AS Tidak Akan Meminta Kami Mundur dari Lebanon
POROS PERLAWANAN — Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan meminta Israel menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan. Menurutnya, Washington memahami apa yang disebutnya sebagai “garis merah” keamanan Israel.
Dalam wawancara dengan harian berbahasa Ibrani, Makor Rishon yang dikutip Fars News Agency pada Minggu 21 Juni, menteri ekstremis Israel tersebut menyatakan bahwa Israel akan mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon selatan selama bertahun-tahun dan meyakini Amerika Serikat tidak akan menuntut penarikan pasukan dari wilayah tersebut.
“Saya berjanji bahwa Israel akan tetap berada di zona keamanan yang kini dikuasainya di dalam Lebanon selama bertahun-tahun ke depan,” kata Smotrich.
Ia mengklaim Militer Israel akan terus mempertahankan kehadirannya hingga Hizbullah dilucuti dari persenjataannya. Bahkan, menurutnya, Israel tidak akan mundur meskipun mendapat tekanan untuk melakukannya.
Meski demikian, Smotrich menilai skenario tersebut tidak mungkin terjadi karena Amerika Serikat memahami posisi Israel dalam persoalan keamanan Kawasan.
“Saya memperkirakan permintaan seperti itu tidak akan diajukan, karena mereka memahami garis merah kami,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah Militer Israel akan tetap berada di Lebanon selama bertahun-tahun, Smotrich menjawab tegas, “Ya,” dan menambahkan bahwa pandangan tersebut juga menjadi pertimbangan dalam pembahasan anggaran pertahanan Israel untuk satu dekade mendatang.
Smotrich juga mendukung pembangunan infrastruktur militer permanen di wilayah yang diduduki Israel di Lebanon selatan, termasuk pos-pos dan pangkalan militer.
“Segalanya. Kami akan tetap berada di sana sampai Hizbullah dilucuti, dan saya pikir bahkan lebih lama dari itu, karena kami membutuhkan perbatasan yang dapat dipertahankan,” katanya.
Smotrich kemudian berupaya membenarkan keberadaan Militer Israel di Lebanon dengan mengkritik garis perbatasan yang terbentuk pasca-Perjanjian Sykes-Picot tahun 1916. Menurutnya, batas-batas yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut tidak mempertimbangkan kondisi geografis dan topografi Kawasan.
Ia kembali menegaskan bahwa Israel tidak akan mengubah posisinya sebelum Hizbullah dilucuti dari persenjataannya.
“Selama Hizbullah belum dilucuti, kami tidak akan bergerak satu milimeter pun. Ini adalah posisi Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, dan juga posisi saya. Kami bertekad untuk mempertahankannya,” ujar Smotrich.
Pernyataan Smotrich memperlihatkan bahwa sebagian kalangan di Rezim Israel tidak lagi berbicara mengenai kehadiran militer sementara di Lebanon selatan, melainkan mempertimbangkan penguasaan jangka panjang yang dikaitkan dengan tuntutan pelucutan senjata Hizbullah dan konsep “perbatasan yang dapat dipertahankan”. Sikap tersebut berpotensi menambah ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel di tengah belum adanya tanda-tanda penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
