Pasukan Israel Bebas Berkeliaran di Suriah Selatan
POROS PERLAWANAN — Pasukan Israel kembali bergerak leluasa di wilayah Suriah selatan setelah sejumlah kendaraan militer memasuki kawasan Lembah Yarmuk di Provinsi Daraa dan melakukan patroli di sekitar permukiman warga. Aktivitas yang berlangsung tanpa hambatan berarti itu kembali memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas respons Pemerintah Suriah terhadap berulangnya kehadiran Militer Israel di wilayah perbatasan.
Sumber-sumber lokal di Provinsi Daraa melaporkan bahwa sejumlah kendaraan militer Israel memasuki wilayah antara Kota Abidin dan Ma’ariyah di kawasan Lembah Yarmuk sebelum melakukan patroli di jalan-jalan dan sekitar permukiman penduduk.
Menurut laporan Al Mayadeen pada Minggu 21 Juni, pasukan Israel memasuki kawasan tersebut dengan beberapa kendaraan militer dan bergerak di sejumlah jalur utama tanpa menghadapi perlawanan di lapangan. Kehadiran mereka memicu kekhawatiran di kalangan warga yang tinggal di wilayah perbatasan.
Sejak jatuhnya Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024, aktivitas Militer Israel di Suriah selatan dilaporkan semakin intensif. Pasukan Israel disebut hampir secara rutin memasuki wilayah Provinsi Daraa dan Quneitra melalui patroli kendaraan militer maupun tank.
Aktivitas tersebut tidak hanya berupa patroli, tetapi juga mencakup pendirian pos pemeriksaan sementara, inspeksi terhadap rumah dan lahan pertanian, serta dalam beberapa kasus penahanan warga Suriah.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah laporan dari media dan sumber lokal Suriah menyebutkan adanya operasi serupa di sejumlah desa dan kawasan perbatasan. Kantor Berita Arab Suriah (SANA) melaporkan pasukan Israel mendirikan pos pemeriksaan, memasuki sejumlah desa, serta melakukan tindakan yang menghambat aktivitas warga setempat.
Sumber-sumber Suriah menyebut banyak petani di wilayah selatan Quneitra dan Daraa mengalami kesulitan mengakses lahan pertanian mereka. Beberapa desa juga dilaporkan menghadapi pembatasan pergerakan akibat meningkatnya aktivitas militer di kawasan tersebut.
Israel selama ini membenarkan operasi-operasi tersebut dengan alasan menjaga keamanan perbatasan dan mencegah potensi ancaman dari wilayah Suriah. Namun, sejumlah sumber lokal menilai kehadiran yang terus berulang itu menunjukkan upaya membangun zona penyangga tidak resmi di Suriah selatan yang memperluas kontrol Israel di kawasan perbatasan.
Perkembangan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya pengaruh Israel di sebagian komunitas Druze Suriah. Sejumlah media Israel sebelumnya melaporkan adanya dukungan politik, ekonomi, dan keamanan Tel Aviv terhadap kelompok-kelompok Druze yang menginginkan otonomi lebih luas di wilayah selatan Suriah.
Sementara itu, Pemerintah Suriah di bawah kepemimpinan Ahmad al-Sharaa atau yang lebih dikenal sebagai Abu Mohammad al-Jolani sejauh ini belum mengambil langkah yang dinilai mampu menghentikan masuknya pasukan Israel ke wilayah Suriah selatan. Meski Pemerintah di Damaskus beberapa kali mengecam tindakan tersebut, kehadiran Militer Israel di kawasan perbatasan masih terus berlangsung.
Dalam pernyataan sebelumnya, Ahmad al-Sharaa menyatakan bahwa Suriah tidak menginginkan konflik baru dan membuka peluang tercapainya pengaturan keamanan di Kawasan. Namun hingga kini, pendekatan tersebut belum mampu menghentikan masuknya pasukan Israel ke wilayah Suriah selatan. Di lapangan, patroli dan aktivitas Militer Israel terus berlangsung, sementara wilayah perbatasan Daraa dan Quneitra semakin sering menyaksikan kehadiran pasukan asing di dalam wilayah Suriah.
