Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Menyelisik Alasan di Balik Meroketnya Angka Pembelian Senjata Api Warga AS di Tengah Pandemi Covid-19

Penjualan Senjata Meningkat di AS Saat Corona

POROS PERLAWANAN – Seiring penyebaran pandemi Corona di dunia, kebanyakan orang menyerbu toko-toko untuk berbelanja kebutuhan mereka di masa karantina. Di sebagian negara, panic buying ini sampai-sampai membuat sebagian orang harus berkelahi hanya untuk memperebutkan kertas toilet.

Namun di Amerika, selain bahan pangan dan sarana kesehatan, senjata api dan tetek bengeknya menjadi salah satu komoditi yang paling diburu warga, sehingga rekor penjualan senjata di Amerika pun terpecahkan.

Pasar senjata di Amerika tak bisa dibandingkan dengan negara-negara lain yang bisa dibilang membebaskan jual-beli senjata. Sejak awal, hak warga untuk memiliki senjata menjadikan Amerika surga bagi para produsen senjata.

Dengan berkembangnya teknologi, juga meningkatnya hubungan dagang antarnegara, produsen senjata asing pun bisa masuk ke pasar sipil Amerika. Hampir semua perusahaan senjata ternama memiliki pelanggan khusus di Negeri Paman Sam.

Tiap kali kita hendak membahas soal senjata di Amerika, kita pasti akan mendengar kata NRA (National Rifle Association). Asosiasi ini didirikan sekitar 144 tahun lalu. Awalnya, asosiasi ini tak lebih dari sekumpulan orang yang paham soal senjata. Mereka mengajari warga yang baru membeli senjata soal cara penggunaan dan tips-tips keamanan. Sejak awal, mereka menyatakan tak akan terlibat politik, dan itu terjadi selama beberapa waktu.

Namun semua berubah sejak akhir dekade 60-an. Usai disahkannya UU Pengontrolan Senjata pada tahun 1968, sedikit demi sedikit anggota NRA mulai condong ke politik dan urusan lobi.

Lobi politik terbesar dalam sejarah Amerika berkaitan dengan Pilpres 2000. Saat itu, Bush Jr. bersaing ketat dengan Al Gore untuk menjadi presiden. NRA mengerahkan segala upayanya untuk menjegal Al Gore dan memuluskan langkah Bush Jr. ke Gedung Putih.

Kenapa NRA membenci Al Gore?

Pada tahun 1999, terjadi tragedi penembakan membabi buta di SMA Columbine yang menewaskan 15 orang dan melukai 24 lainnya. Pelaku membeli senjata yang digunakannya melalui pihak ketiga. Hingga kini, di setiap pameran senjata yang diadakan di Amerika, pembeli tidak pernah diminta untuk menunjukkan surat kelakuan baik dari kepolisian.

Usai tragedi Columbine, pemerintahan Bill Clinton berniat untuk mengontrol penggunaan senjata api. Al Gore, selaku Wapres dan kandidat Demokrat berikut, berjanji akan melanjutkan kebijakan ini jika ia menang dalam Pilpres.

Di sinilah, dan mungkin untuk pertama kalinya, NRA memamerkan kekuatan lobinya di pentas politik Amerika. Asosiasi ini menghabiskan 20 juta dolar untuk memenangkan Bush Jr. dan menjegal Al Gore. Para pakar meyakini, keterlibatan NRA adalah salah satu faktor penentu kemenangan Bush.

Saat UU Pelarangan Senjata Serbu berakhir pada 2004, tak ada upaya untuk memperpanjang UU tersebut. Hingga kini, semua upaya untuk memperbaruinya terbentur dengan tembok bernama lobi NRA di Kongres Amerika.

NRA Mengail di Air Keruh di Tengah Pandemi Corona

Saat virus Corona menyebar ke penjuru dunia, termasuk Amerika, warga negara tersebut berbondong-bondong membeli barang kebutuhan mereka, termasuk kertas toilet. Namun, ada foto-foto yang kemudian tersebar dan menunjukkan antrian panjang lain, yaitu di depan toko-toko penjual senjata.

Amerika mengumumkan kasus kematian pertama akibat Corona pada 29 Februari lalu. Di bulan Maret, warga Amerika memecahkan rekor dengan membeli lebih dari 2 juta pucuk senjata dalam tempo satu bulan!

Semua jenis senjata diborong pembeli, mulai dari pistol hingga semi otomatis, dari shotgun hingga senapan berburu. Selain senjata, barang-barang seperti rompi antipeluru, teropong, dan pembidik laser juga ramai dibeli orang-orang Amerika.

Menurut seorang spesialis senjata di Universitas Georgia, booming pembelian senjata ini berkaitan dengan pandemi Corona. Warga khawatir, ketertiban dan keamanan publik akan terancam seiring terforsirnya energi polisi, pemadam kebakaran, dan layanan publik lain untuk menangani wabah.

Dalam situasi ini, memiliki senjata dianggap sebagai sarana untuk melindungi diri. Sebab itu, orang-orang yang sebelum ini tak pernah memegang senjata, ikut bergabung dalam antrian.

Di sebagian negara bagian, toko senjata dikategorikan sebagai tempat untuk melayani kebutuhan publik, seperti toko bahan pangan dan apotek. Sebab itu, toko-toko senjata masih membuka pintu mereka bagi pelanggan.

Dengan terus meningkatnya jumlah korban jiwa Corona dan ketidakbecusan Pemerintah Pusat Amerika dalam mengatasi wabah ini, sepertinya pembelian senjata di negara itu akan terus bertambah.

Peran sejumlah media dan medsos dalam menakut-nakuti warga Amerika, sehingga mendorong mereka berbelanja senjata, juga tak bisa diabaikan. Siapa pun bisa menebak siapa pihak yang paling diuntungkan oleh pemberitaan-pemberitaan tersebut.

Tags: