Loading

Ketik untuk mencari

Profil

Bung Karno: Proklamator Kharismatik dan Orator Ulung Kebanggaan Indonesia yang Membuat Amerika ‘Mati Gaya’ pada Zamannya

POROS PERLAWANAN – Dr. Ir. H. Soekarno adalah seorang pahlawan yang memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia.

Bersama 67 orang lainnya yang disebut sebagai “The Founding Fathers”, Soekarno dengan gigih memperjuangkan bangsa Indonesia agar lepas dari jerat penjajahan.

Berkat keberhasilannya memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, ia didapuk menjadi Presiden RI pertama yang menjabat antara tahun 1945-1967.

Selama masa jabatannya, Soekarno dikenal sebagai pemimpin yang berkharisma. Ketegasan dan keberaniannya pun diakui oleh dunia.

Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dari keluarga bangsawan. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodiharjo dan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai.

Soekarno dikenal sebagai pribadi yang cerdas. Meski Indonesia saat itu dalam masa penjajahan, ia tetap menempuh pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga lulus Perguruan Tinggi (PT).

Soekarno kecil mengawali pendidikan di Sekolah Dasar EIS (Eerste Inlande School) di Mojokerto. Pada tahun 1911, kemudian ia pindah ke Europeesche Lagere School.

Sejak 1911 sampai 1915, Soekarno menempuh pendidikan lanjutan di Hoogere Burger School Surabaya, dan baru meraih gelar insinyur teknik sipil dari Bandung Technische Hoge School (ITB) pada 1926.

Karier politik Soekarno dimulai setelah ia lulus dari ITB. Salah satu pencapaian besarnya adalah mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927.

Berawal dari sinilah muncul kekhawatiran pemerintah kolonial terhadap sosok Soekarno yang vokal dan kritis. Akibatnya, ia sering masuk-keluar penjara dan berpindah-pindah tempat pengasingan.

Berulang kali dipenjara dan diasingkan, membuat pribadi Soekarno semakin tangguh. Tekad dan semangatnya bulat untuk memerdekakan bangsa Indonesia.

Pria yang akrab disapa Bung Karno ini bersama para tokoh lainnya, berusaha keras untuk menggapai kemerdekaan. Sampai akhirnya setelah melalui proses perjuangan panjang, pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Keduanya kemudian diangkat menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia melalui sidang PPKI yang digelar sehari setelah proklamasi.

Semasa menjabat, Bung Karno memegang teguh paham anti Neo-Kolonialisme atau bentuk baru dari Imperialisme untuk mengontrol sebuah negara tanpa kontak militer secara langsung. Cara inilah yang sering dipraktikkan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Akibat semangat penentangannya ini, Bung Karno kerap terlibat konflik dengan negara penganut Neo-Kolonialisme.

Pada tahun 1955, Soekarno menginisiasi sebuah konferensi dengan mengajak negara-negara berkembang dan baru merdeka yang sepaham dengan Soekarno. Konferensi ini dikenal dengan The Conference of the New Emerging Forces (CONEFO), yang melahirkan sebuah blok baru di dunia, dan kemudian populer bernama NEFO atau New Emerging Forces.

Tujuan pembentukan blok ini adalah untuk mengumpulkan kekuatan baru yang dapat menyaingi negara-negara maju, yang oleh Soekarno disebut sebagai Old Established Forces atau OLDEFO, termasuk di dalamnya adalah Amerika Serikat.

Prakarsa ini menunjukkan, sikap Soekarno yang tidak ingin dikendalikan oleh siapapun, terutama oleh Amerika dan Barat.

Soekarno sangat membenci perilaku Amerika yang selalu bersikap “sok baik” dengan menawarkan bantuan tetapi dengan maksud politis untuk mengendalikan Indonesia.

Tidak pandang bulu, Soekarno dengan tegas menyampaikan kekesalannya secara langsung ketika ia diundang untuk berpidato pada Kongres AS tahun 1955.

“Indonesia menolak diperlakukan seperti seekor (burung) Kenari dalam sangkar emas dan diberi makanan yang enak-enak. Indonesia ingin diperlakukan seperti burung Garuda yang berada di atas batu cadas tetapi bebas berjuang mencari makanannya sendiri. Jangan membanjiri Dolar Anda ke Indonesia dengan disertai ikatan, karena pasti akan ditolak,” tegas Soekarno dengan nada tegas dan berapi-api.

Tahun 1960-an menjadi puncak ketegangan antara Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno dan AS serta Barat.

Konflik ini dimulai ketika Inggris mengakui kemerdekaan Malaysia pada 1963. Soekarno menganggap hal ini dapat mengganggu kestabilan Asia Tenggara karena Inggris dengan mudah bisa mengontrol Malaysia.

Tak tanggung-tanggung, Soekarno kemudian membentuk Poros Jakarta-Peking-Phnom Penh-Pyongyang, sebuah aliansi yang menyuarakan “Ganyang Malaysia!” untuk menuntut Neo-Kolonialisme Inggris keluar dari Asia Tenggara.

Pada tahun yang sama, Presiden Soekarno pernah murka di forum internasional sekelas Sidang PBB yang dihadiri ratusan pemimpin negara. Ia mengecam negara-negara Barat yang menurutnya tidak adil terhadap negara-negara berkembang. Dalam sidang ini juga Soekarno dengan gagah menyatakan bahwa Indonesia keluar dari PBB.

Tingkah Soekarno ini membuat Amerika panas-dingin. Mereka kemudian memutar otak dan menawari Indonesia pinjaman dari IMF yang bisa dicairkan apabila Soekarno menghentikan konfrontasi dengan Malaysia.

Namun dengan suara menggelegar Soekarno menjawabnya dengan “Go to hell with your aid” (pergilah ke neraka dengan pinjamanmu), melalui sebuah pidato pada 17 Agustus 1965 yang sekaligus mengakhiri kerjasama Indonesia dengan IMF.

Didasari kebencian yang sama pada Neo-Kolonialisme ala Amerika, tak heran bila Soekarno berkawan baik dengan tokoh-tokoh dunia seperti Fidel Castro, Ernesto Che Guevara, Kim Il Sung, hingga pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev.

Karena ketegasannya, pemerintahan Soekarno pun dianggap berbahaya oleh Amerika Serikat. Itu sebabnya banyak buku sejarah yang menceritakan keterlibatan CIA dalam peristiwa G30S PKI yang menjadi awal kejatuhan (penjatuhan) Soekarno.

Banyak sejarawan dunia yang pernah menceritakan bahwa AS sangat ingin menguasai tambang emas di Papua, dan hal itu mustahil bisa terwujud jika Soekarno masih berkuasa. Oleh karenanya, CIA dikerahkan untuk menjadi sutradara skenario penjatuhan Soekarno.

Pada tahun 1967, tak lama setelah Soekarno digulingkan, Presiden kedua RI, Soeharto menandatangani perjanjian kontrak karya dengan perusahaan asal AS, PT Freeport.

Sosok fenomenal Soekarno menjadi bukti kebesaran Indonesia pada masa itu. Karena negara sekelas Amerika pun dibuatnya menjadi tak banyak omong dan kerap sesumbar seperti sekarang.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *